Birrul Walidain, Bakti Abadi Anak

Rubrik Opini Oleh

Oleh M. Nasir Pariusamahu (mahasiswa, Kompasianer Ambon)

Mereka,  orang tua kita. Usia senja mereka menjadi tanggungan anak-anaknya.  Tibalah sang anak untuk berbakti. Disaat kemanjaan mereka yang perlu dibimbing,  disaat tingkah mereka seperti bayi, disitulah perlunya rasa asuhan sayang pada mereka.

Bersyukur bagi yang masih bisa melihat dan mengasuh para orang tuanya hingga kematian memisahkan.  Sebab,  pintu baraqah Allah akan terbuka. Ridha orang tua,  ridhaNya juga.

Masih banyak anak-anak yang tidak mau melakukannya. Menitipkan orang tuanya ke asrama kaum senja, dengan alasan karier. Tidaklah kau tau,  keseluruhan kesuksesanmu adalah doa orang tua di atas sajadahnya siang malam.  Mereka, tidak butuh uang emasmu. Hanya kasih yang berbalas kebaikanlah diharapkan. Bukan kebaikan dibalas dengan air tuba.

Orang tua, tetaplah orang tua. Walau kau umrahkan berkali-kali ke tanah suci,  dosamu belum tentu terhapus.  Maka kesempatan surga terbuka, bagi anak yang berlomba-lomba membalas jasa mereka.  Tak perlu melihat angka berapa yang kau berikan.

Sebuah kenyataan, ada anak yang hanya bisa memikirkan tabungan dan kebahagian rumah tangganya.  Tanpa memikirkan masa tua kedua orang tuanya.

Dianggapnya,  Pantai Jompo adalah solusi. Dengan cara menitipkan kehidupan baru bagi kedua orang tuanya disana, sesungguhnya dengan secara sadar telah membunuh mereka secara perlahan.

Lebih pedihnya, ketika ada salah satu kedua orang tuanya sakit, uangnya tak mau dikeluarkan untuk biaya pengobatan kedua orang tuanya. Dibiarkan orang tua terlunta-lunta sakitnya di antara bangsal rumah sakit. Padahal, ia mampu membiayai di ruang VVIP.

Sungguh malang nasib orang tua demikian. Namun, disaat begitu kedua orang tua tak sedikitpun mengemis belas kasihan. Doa mereka terus kepada Allah memberikan berkah bagi anaknya. Tak ada sedikitpun prasangka.

Hari tua mereka, mungkin akan melelahkan hari-harimu. Jam kantormu terpotong, waktu liburmu tergadaikan, namun itulah saat dimana Allah menguji kesetiaan bakti kita kepada mereka.

Ibu, mengandungmu. Airmata kesakitan ditutup rapat guna membahagiakan buah hati dalam rahimnya. Andaikata, ada ibu yang tak rela seperti itu. Mungkin saja, kau akan dibuang sebelum kau lahir. Tapi, sempurnalah jiwa ibumu, menunggu berbulan-bulan, memberikan nyawa melindungimu. Agar anaknya dianggap halal dalam kehidupan.

Perhatikan kisah ibu ini, sebut saja ibunya si Fulan. Walau hujan hari itu, tertatih-tatih dengan sepeda motor pinjamannya nekat pergi ke sekolah anaknya untuk ngambil rapot.

“Mama, jang pi lai,” kata suaminya.

Mama, akan tetap pergi ke sekolah. Terserah hujan mau stop atau tidak, itu bukan peduli. Yang penting anak kita bisa bahagia menerima hasil belajarnya hari ini.

Ku ingin, menghirup udara yang kau hirup.

Melangkah, di tempatmu melangkah.

Berteduh, di tempatmu berteduh.

Dan terlelap di atas pangkuanmu.

Ibu…

Ku hanya ingin selalu bersamamu.

sepanjang waktuku…

( Agus Suarsona)

Ayah, walau bukan manusia yang melahirkanmu.  Walau surga bukan di telapak kakinya. Tapi, berkat ayahlah kau dapat makan sehari tiga kali bahkan lebih. Kau dapat menikmati kudapan setiap pagi dan sore,  bahkan uang jajan tebal di kantongmu. Ayah, walau keluar pagi dan pulang malam setelah kau tidur, ayahlah tetap laki-laki penuh tanggung jawab. Sebab, kehormatan keluarga ada padanya.

Sama halnya dengan si Ayah.

Nak, bapak tidak titipkan kau, harta seperti si Fulan tetanggamu. Kucukupkanlah dengan menyekolahkanmu tinggi-tinggi agar suatu saat nanti engkau berjaya dengan ilmumu,”kata bapak di suatu saat pada anaknya.

Telah rapuh Tulang-tulangmu

Yang dahulu kau gunakan

Untuk memberikan kami sesuap nasi

Untuk menunaikan kewajibanmu sebagai kepala keluarga

Kini… kau hanya mampu memberikan kami nasehat

Kini… Kau hanya mampu mengucapkan do’a yang lurus untuk kami

Untuk… anak yang telah kau besarkan dengan kerja kerasmu

Ayah….

Air mata ini tak mampu membalas semuanya

Keduanya adalah insan Tuhan. Kasih sayangnya sepanjang jalan.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kalian kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku lah kalian kembali” [Luqman : 14]

*Ambon, 4/7/2017

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top