Merajut Silaturrahim di Negeri Jiran Kangguru

Rubrik Opini Oleh

Oleh Abd Majid
(Mahasiswa University of Adelaide, Perwakilan Agupena Australia)

Sudah dua mingguan kita ditinggalkan oleh bulan yang paling istimewa, yaitu bulan Ramadhan dimana semuan kebaikan akan dilipat gandaan oleh Alloh SWT dan semoga amal kebaikan kitapun termasuk amalan yang akan dibalas dengan berlipat-lipat. Namun jangan salah, bulan inipun, Syawwal, merupakan bulan yang juga memiliki keistimewaan yang banyak juga, salah satunya adalah bulan untuk memajangkan silaturrahim kepada sanak family dan kerabat kita.

Kegiatan-kegiatan yang sempat tertunda karena ingin mengkhususkan diri dibulan Ramdahan mulai dimulai lagi. Salah satu rutinitas kami di kompleks Kelurahan KBC (Kurralta Beach Apartment) sebagai pendatang adalah Pengajian Mingguan. Tahun ini, pengajian mingguan ini diikuti oleh sekitar 12 kepala keluarga yang biasanya kami bagi dalam dua sesi (keterbatasan tempat), yaitu ibu-ibu disiang hari dan bapak-bapak dimalam hari ba’da magrib. Kegiatan ini sudah berjalan seiring mahasiswa Indonesia menduduki kompleks ini.

Adapun kegitan utama dari pengajian rutin ini adalah membaca Al-Qur’an dan terjemahanya, masing-masing seperempat halaman yang diikuti dengan diskusi ringan tentang pemahaman dan berbagi pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan tema diskusi dan diakhir dengan menyantap masakan yang sudahh disiapkan oleh tuan rumah. Kata seorang teman, “ternyata saya tidak perlu ke Surabaya untuk makan masakan asli Surabaya, cukup ikut pengajian di KCB aja”.

Dalam kesempatan yang sangat baik tadi, ada beberapa hal yang cukup menarik untuk saya bagikan dalam tulisan ini;

Pertama, ayat-ayat surat Al-baqarah yang kami baca tadi merupakan ayat-ayat yang bercerita banyak tentang kehidupan perkawinan, seperti memilih pasangan, menjalani kehidupan berumah tangga, sampai masalah Thalaq atau perceraian.

Dalam memilih pasangan misalnya, Alloh SWT berfirman yang artinya “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik daripada orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah perintah) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah: 221)

Ibnu Katsir dalam kitabnya menjelaskan makna yang terkandung dalam ayat iniadalah bahwa laki-laki atau wanita musyrik itu adalah mereka yang menyembah berhala, sementara para ahli kitab dikecualikan dalam masalah ini karena diayat yang lain Alloh SWT membolehkan seseorang mukmin/mukminat menikah dengan ahli kitab (QS Al-Maidah: 5). Namun, Imam Bukhari meriwayatkan, Ibnu Umar RA mengatakan: “Aku tidak mengetahui syirik yang lebih besar daripada seorang wanita yang mengaku ‘Isa sebagai Rabbnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Contoh lainnya adalah bagaimana menjalani kehidupan dalam berumah tangga, bersuami-istri yang diajarkan oleh AL-Qurán. Tidak hanya sampai disitu, ketika harus berceraipun, haruslah dengan cara yang ma’ruf, tidak dengan cara yang kasar apalagi biadab. Tentu sharing ilmu-ilmu seperti ini sangat kami butuhkan sebagai keluarga baru, dalam rangka membina keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

Kedua, dari pemaparan materi diskusi yang dibawakan oleh tuan rumah,setidaknya memberikan tambahan khazanah keilmuan dalam rangka memperbaiki budi pekerti kita dalam kehidupan ini. Mas Edy, seorang dosen di salah satu kampus di Surabaya dan salah seorang mahasiswa Ph.D di University of Adelaide, menyampaikan materi tentang “management hati”.Dari materi yang disampaiakn bisa ditarik kesimpulan bahwa menjalani hidup ini selayaknya mengendarai kendaraan.Ada beberap hal yang harus kita pastikan sebelum mengendara seperti, bagaimana kondisi kendaraan kita, apakah indera kita berfungsi, apakah kita sadar atau tidak dalam keadaan mabuk, bagaimana menyikapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi selama mengendara, dsb. karena semua itu akan mempengaruhi perjalanan yang akan kita lakukan.

Dalam hidup juga haruslah seperti itu. Selalu periksa fikiran, panca indra dan hati. Fikiran dan hati haruslah jernih selayaknya mata air yang menjadi sumber kehidupan makhluk disekelilingnya. Ketika, indera kita mengirim sinyal aktifitas ke Otak, maka hati haruslah berperang penting dalm menimbang baik dan buruknya sehingga output yang dihasilkan nantinya berupa sesuatu yang positif, tidak menjadi hal yang menambaj kerumetan dalam kehidupan ini. Dalam usaha menjaga Hati yang salim, haruslah memperbanyak menuntut ilmu, khususnya ilmu agama karena semakin banyak ilmu yang dimiliki, maka semakin banyaklah referensi sang hati dalam mengambil keputusan.

Ketika seseorang melihat kesempatan untuk Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, misalnya, maka Otaknya akan merespon dengan cepat, maka dengan memiliki hati yang salim, dia akan menyadari bahwa pekerjaan itu melanggaran aturan yang ada. Begitupun, ketika dia mendengar orang lain mencelanya, mencaci-makinya, maka dengan hati yang salim dia akan membiarkan orang tersebut dan malah memaafkanya.

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Ketiga, poin yang sangat penting juga dalam diskusi tadi adalah ketika hukum-hukum di Indonesia tidak berjalan seiringan dengan hukum Alloh SWT dan ini kadang yang membuat berbagai interpretasi berkembang dikalangan masyarakat awam. Kasus yang diangkat misalnya, Thalaq atau perceraian. Banyak kasus perceraian atau bahkan rujuk dimasyarakat yang secara agama sudah sah namun secara hukum negara belom. Tentunya, hal semacam ini sangatlah berbahaya ketika pelakunya tidak menyadari hukum agama atau kurang berhati-hati dalam berkata, bertindak, dsb.Disinilah, dibutuhkan Ilmu-ilmu agama untuk membentengi diri kita agar terhindari dari hal-hal demikian itu karena sesunggunya perkara yang tidak boleh dipermainkan itu salah satunya adalah perkataan cerai atau thalaq. Wallohu Álam.

Itulah beberapa poin penting dari diskusi kami malam ini yang mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kami dan kita semua. Memanglah, silaturrahim itu akan membuka berkah dalam hidup tidak hanya perut kenyang namun banyak sekali hikmah yang bisa kita ambilsebagai bagian dari ikhtiar kita menjadi insan kamil yang diberkahi oleh Alloh SWT. Amin ya rabbal alamin.

Adelaide, 09 July 2017

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top