HONOR MENULIS, LUMAYAN BUAT TAMBAH KANTONG GURU

Rubrik Literasi Oleh

Oleh: Hamli Syaifullah
(Dosen di UMJ, Anggota Agupena DKI Jakarta, serta Blogger di Blog Strategi dan Keuangan
)

Menulis bisa ngasilin uang lho..!

Kalo ngomongin uang, pasti semuanya akan serius dan antusias membaca hingga tuntas tulisan ini, hehehehehe….!

Maaf bercanda, agar kita tidak terlalu serius membaca tulisan ini. Karena tulisan ini memang tulisan ringan dan tak serius. Namun, jika diperaktikkan dengan serius, pasti akan menghasilkan pendapatan finansial yang serius juga.

Selain itu,tak ada salahnya kita jadikan uang sebagai salah satu motivasi menulis, agar kita sebagai guru semangat untuk hasilkan karya tulis yang berkualitas. Karena, semakin berkualitas sebuah karya tulis, akan semakin tinggi kesempatan mendapatkan uang atau honorarium.

Lantas, salahkah, jika salah satu motivasi kita menulis ingin mendapatkan uang?

Tentu tidak salah, dan itu sangat manusiawi. Apalagi, bagi kita yang berprofesi guru dengan honor pas-pasan, tentu kegiatan menulis sangat membantu memperbaiki tingkat kesejahtraan dirinya.Sehingga dengan kita mau meluangkan waktu menulis, akan ada tambahan pendapatan bagi dirinya.

Jika ada yang bertanya, memangnya honor menulis itu besar?

Jawabannya, honor menulis itu tidak besar. Tapi, bila dijadikan tambahan pendapatan kita sebagai seorang guru, Insya-Allah sangat membantu. Apalagi, bagi kita yang konsisten menulis setiap harinya, dan bila dikumpulkan dalam sebulan akan sangat banyak honor yang diterima.

Dan, jika kita sebagai guru mau menyeriusi kegiatan menulis, bisa jadi honor menulis akan lebih besar bila dibandingkan dengan honor menjadi guru. Hanya saja, kita sebagai guru tidak boleh membanding-bandingkan honor menjadi  guru dengan yang lainnya. Karena, menjadi guru merupakan profesi adiluhungyang tak boleh dikaitkan dengan honorarium. Berapapun honor yang diberikan, harus tetap diterima dengan penuh keikhlasan, dan tetap semangat untuk mencerdaskan anak-anak bangsa.

Dan menjadi guru, harus berangkat dari dalam hati kita, sebagai bentuk pengabdian untuk mempersiapkan generasi mendatang menjadi generasi yang lebih baik. Maka dari itu, dengan kita memiliki keahlian menulis dan selalu mendapatkan honor dari setiap tulisan kita, tentunya kita akan makin ikhlas mengajar. Karena kita tidak mengaitkan kegiatan mengajar sebagai ladang mencari rejeki, akan tetapi menjadikan mengajar sebagai ladang ibadah. Sedangkan ladang rejeki, sudah didapatkan dari kegiatan menulis.

Kok jadi muter-muter sih, hehehehehe…! Simpelnya begini saja, kalau Anda sebagai guru yang memiliki keahlian menulis. Selain Anda akan mendapatkan honor mengajar, juga akan mendapatkan honor dari setiap tulisan yang dihasilkan. Jadi, akan ada tambahan pendapatan bagi Anda seorang guru yang bisa menulis

Tentu, ada beberapa persyaratan, agar tulisan yang kita hasilkan bisa mendapatkan uang. Karena, tidak semua jenis tulisan bisa ngasilin uang. Contoh, nulis status di facebook, twitter, istagram, dan lain sebagainya. Semuanya merupakan tulisan, tapi tulisan tersebut tak bisa ngasilin uanglho…!

Tulisan yang Ngasilin Uang

Secara garis besar, jenis tulisan  yang bisa ngasilin uang itu, saya coba membagi menjadi dua kategori. Kategori tersebut, didasarkan dari pengalaman saya selama menekuni kegiatan tulis-menulis, sembari saya mengajar—entah mengajar di perguruan tinggi sebagai dosen ataupun mengajar kelas-kelas kepenulisan di beberapa organisasi luar kampus.

Pertama, jenis tulisan yang dikirim ke media massa—entah online ataupun cetak, biasanya jenis tulisan ini memiliki ciri khas, salah satunya ialah tulisan pendek yang disesuaikan dengan karakter (ruang) yang diberikan oleh media massa tersebut. Misalnya, 7.000 karakter no space, 6.000 karakter with space, 500 kata, dan lain sebagainya.

Artinya, panjang tulisan yang akan kita kirim ke media massa harus disesuaikan dengan karakter media massa yang kita tuju. Jika memang media massa tersebut menyediakan ruang tulisan sebesar 500 kata, maka kita sebagai guru harus menulis sebanyak 500 kata.

Jika kita tidak mengikuti persyaratan yang disyaratkan media massa tersebut, pasti tulisan kita tidak akan dimuat. Kalau tidak dimuat, berarti harapan mendapatkan uang tak akan mungkin terjadi. Maka dari itu, kita harus tetap mengikuti persyaratan yang telah ditentukan oleh media massa tersebut.

Adapun tulisan yang bisa dikirimkan ke media massa, ada dua jenis tulisan, yaitu fiksi dan non-fiksi. Untuk jenis fiksi, misalnya: cerpen, puisi, ulasan puisi, ulasan cerpen, serta esai sastra. Dan, untuk jenis non-fksi, misalnya: opini, resensi buku, resensi film, liputan masyarakat (citizen jurnalism), reportase perjalanan, dan tulisan hikmah.

Kedua, jenis tulisan yang dikirimkan ke penerbit buku, atau jenis tulisan yang dibukukan. Jenis tulisan ini, biasanya memiliki tingkat ketebalan tertentu. Misalnya, 100 halaman A 4 Times New Roman, 125 halaman A 4 Book Antiqua, dan lain sebagainya.

Dalam pengertian lain, tulisan ini merupakan jenis tulisan yang dikirimkan ke penerbit buku untuk diterbitkan menjadi sebuah buku. Karena targetnya buku, maka setiap penerbit buku memiliki aturan tentang ketebalan setiap naskah buku yang akan diterbitkan di penerbit tersebut.

Misalnya, saya seorang guru yang menekuni tulisan buku dengan tema bisnis dan keuangan. Suatu hari, saya ingin mengirimkan naskah buku ke penerbit A. Penerbit A memberikan persyaratan bagi penulis yang ingin mengirimkan naskah, bahwa setiap naskah yang dikirim minimal ketebalannya 150 halaman, ditulis dengan Times New Roman, dengan spasi 1,5.

Jika naskah yang akan saya ajukan ingin diterima hingga bisa diterbitkan di penerbit A, paling tidak saya harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh Penerbit A. Tujuannya, agar naskah saya bisa cepat diproses oleh penerbit, dan kemudian diterbitkan. Sehingga akhirnya saya mendapatkan honorarium menulis buku.

Berapa Honorarium yang Bisa Diterima Guru?

Seperti yang telah saya ungkap sebelumnya, honorarium menulis tidak terlalu besar. Hanya saja, bila kita konsisten menulis setiap harinya, kemudian dikumpulkan dalam sebulan, Insya-Allah bisa menyamai honorarium mengajar, atau bahkan bisa lebih.

Salah satu tujuan saya membeda honorarium menulis ialah, untuk membangkitkan motivasi kita sebagai guru agarmau belajar menulis dan rajin menulis. Sehingga kegiatan menulis bisa menjadi budaya bagi guru, sebagai salah satu media pengembangan diri bagi seorang guru.

Untuk memudahkan kita mengetahui honorarium menulis, saya coba membagi honorarium menulis menjadi dua bagian, yaitu honorarium menulis di media massa (online atau cetak) dan honorarium menulis naskah buku.

Honor Menulis di Media Massa

Honorarium di media massa (online dan cetak) memiliki tingkat nominal yang berbeda-beda. Dari pengalaman saya menulis di media massa khususnya koran yang bersifat harian untuk jenis tulisan opini, honor yang ditawarkan berkisar antara Rp 150 ribu hingga Rp 400 ribu.

Mungkin, Anda akan mengatakan jumlah seperti itu merupakan jumlah dengan nominal yang kecil. Tapi, bila kita coba hitung-hitung. Anggap saja kita rajin menulis ke koran yang memberikan honorarium Rp 300 ribu. Jika dalam sebulan tulisan kita berhasil dimuat sebanyak 4 kali, berarti dalam sebulan kita akan hasilkan uang sebesar Rp 1,2 juta.

Itu, jika kita hanya bisa hasilkan 4 tulisan, namun bila lebih dari 4 tulisan, tentu makin banyak honorarium yang akan kita terima setiap bulannya. Dan lumayan untuk dijadikan sebagai tambahan pendapatan bagi kita, yang saat ini berprofesi sebagai guru.

Honor Menulis Naskah Buku

Honorarium menulis naskah buku sedikit berbeda dengan honorarium menulis di media massa (online dan cetak). Secara garis besar, dari pengalaman saya menulis buku, ada tigabentuk pembayaran honorarium menulis buku.

Pertama, honorarium berupa royalti. Royalti merupakan bentuk honorarium menulis buku bagi seorang penulis yang dihitung dengan sistem persentase dari harga jual buku yang terserap oleh pasar (laku di pasaran). Besarnya persentase, biasanya disepakati antara penulis dan pihak penerbit.Biasanya juga, diberikan setiap semester sekali. Tapi, ada yang lebih 6 bulan, dan ada pula yang tak sampai 6 bulan.

Rata-rata persentase royalti yang diberikan untuk penulis pemula, berada di kisaran 5-7 %. Dan ada juga penerbit yang berani memberikan hingga 10 %. Tentu, hal tersebut akan ditentukan terhadap tingkat kualitas naskah yang ditawarkan kepada penerbit, dan juga tingkat pengalaman si penulis itu sendiri.

Contoh perhitungan, harga jual buku saya sebesar Rp 50 ribu, anggap saja royalti yang diberikan oleh penerbit sebesar 5%, dicetak oleh penerbit sebanyak 5.000 eksemplar. Penjualan 6 bulan pertama sebesar 500 eksemplar. Jadi, royalti yang dapat saya terima di 6 bulan pertama sebesar, Rp 50 ribu x 5% x 500 eks = Rp 1.250.000.

Bagaimana dengan sisa penjualan buku sebanyak 4.500 eksemplar yang belum terjual? Nah, sisa buku yang belum terjual dimungkinkan menjadi milik kita, jika kita mampu memasarkannya. Dalam artian, semakin banyak dan berhasil memsarkan buku, maka semakin besar peluang kita mendapatkan royalti yang banyak.

Kedua, honorarium berupa jual putus naskah. Jual putus naskah merupakan perhitungan honorarium yang disepakati antara penulis dan penerbit buku dengan cara menjual putus naskah tersebut. Dalam artian, naskah buku akan dihargai dengan nilai tertentu, setelah melalui proses kesepakatan antara penulis dan penerbit di awal perjanjian.

Adapun kisaran harga naskah buku bermacam-macam. Salah satu yang sangat mempengaruhi harga buku ialah, tingkat kesulitan dan kerumitan naskah, ketebalan naskah, dan isi naskah itu sendiri. Dari pengalaman saya sebagai penulis yang pernah menjual naskah buku secara putus, harga naskah berada di kisaran Rp 3-7 jutaan.

Ketiga, honorarium sebagai ghost-writer(penulis hantu atau penulis bayangan).Ghos-writer merupakan seseorang yang bersedia menuliskan buku orang lain, yang hak atas naskah isi buku tersebut menjadi milik si pemesan buku.Biasanya, naskah buku yang ditulis terkadang atas nama si ghost-writer itu sendiri (seperti buku biografi, company profile, profil yayasan, dan lain sebagainya), dan kadang juga atas nama si pemesan (seperti buku otobiografi, buku ajar di sekolah dan perguruan tinggi, buku motivasi dan lain sebagainya).

Adapun harga, biasanya disesuaikan dengan tingkat kesulitan, kerumitan, dan pengalaman si ghost-writer itu sendiri. Semakin rumit dan semakin berpengalaman, maka harga yang ditawarkan kepada pemesan semakin tinggi. Rata-rata, ghost-writer yang sudah memiliki pengalaman menulis buku di atas 10 buku untuk buku pribadi, dan telah pernah menulis buku biografi ataupun outobiografi lebih dari tiga buku, biasanya si ghost-writer akan mematok harga di kisaran Rp 15-50 juta per buku.

Anda Guru, Pasti Mulai Tergiur Menulis

Melihat kalkulasi matematika perhitungan honorarium menulis, saya rasa Anda pasti tertarik untuk mengikuti jejak guru yang sudah menekuni dunia kepenulisan. Hal yang perlu diingat, honorarium hanya akan diperoleh oleh seorang guru yang mau meluangkan waktu belajar, berlatih dan menyisihkan waktu untuk menulis.

Karena, bagi guru yang hanya memiliki keinginan menjadi guru penulis, namun dirinya tak mau belajar, berlatih dan menyisihkan waktu, sama saja dirinya bermimpi menjadi kaya tapi tak mau merasakan lelah bekerja keras di sepanjang hidupnya.

Jika Anda tertarik menjadi guru penulis, mulailah belajar, berlatih dan meluangkan waktu setiap harinya untuk menulis. Jika Anda sebagai guru konsisten berlatih menyisihkan waktu setiap hari, paling tidak 2-3 jam per hari, Insya-Allah dalam jangka waktu 6-12 bulan, Anda akan merasakan manisnya honorarium menulis. Klo sudah dapat honor, kan lumayan buat tambah kantong keuangan kita sebagai guru.***

Hamli Syaifullah, lahir di Sumenep-Madura, Jawa Timur. Senang menulis sejak Nyantri di Ponpes Al-Amien Prenduan Sumenep Madura. Kemudian bergabung dengan Agupena DKI Jakarta, demi menjaga semangat untuk menulis. Pendidikan S-1 diselesaikan di UMJ tahun 2013 dan S-2 di STIE AD Jakarta, tahun 2016. Aktivitas saat ini sebagai dosen Manajemen Perbankan Syariah di UMJ. Tulisannya telah menyebar di beberapa koran lokal dan nasional. Juga aktif menulis buku populer dan Buku Biografi. Dan saat ini, aktif Nge-Blog di Strategikeuangan.com

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top