1. Sepucuk Surat dari Pak Bupati

Rubrik Cerita Anak/Novelet/Sastra Oleh

Novelet: Kado untuk Avira
Oleh Sardono Syarief

Bel masuk sekolah berdering. Semua anak berlari menuju kelas masing-masing.

“Selamat pagi, Anak-anak!”salam Pak Ardhana begitu tiba di kelas 6.

“Pagi, Pak….!”sahut anak-anak serempak.

“Apa kabar kalian?”

“Baik dan sehat-sehat saja, Pak,”jawab Halintar mewakili teman-temannya.

“Syukurlah,”sahut Pak Ardhana. “Semua masuk?”

“Masuk, Pak,”timpal Fariz dari bangku belakang.

Pak Guru paroh umur itu mengangguk.

“Baiklah,”ujar Pak Ardhana.“Sebelum pelajaran Pak Guru mulai,” sambungnya. “Terlebih dulu akan Bapak bacakan sebuah pengumuman dari Pak Bupati, Anak-anak.”

“Pengumuman tentang apa, Pak?”tanya Avira ingin segera tahu.

“Tentang akan diselenggarakan festival permainan anak tradisional tingkat kabupaten, Vira. Pengumuman ini dikhususkan bagi anak-anak SD/MI. Negeri maupun swasta.”

“Kapan dan dalam rangka apa, Pak?”masih tanya Avira.

“Setengah bulan lagi. Dalam rangka menyambut hari Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus mendatang.”

“Permainan tradisional yang Pak Guru maksud?” Dhestya ikut bertanya.

“Permainan anak yang ada di Jawa Tengah tempo dulu.”

“Misalnya, Pak?”masih tanya Dhestya.

“Misalnya,”jawab Pak Ardhana. “Jamuran, gobak sodor, engklek, dan masih banyak yang lainnya lagi.”

“Wah, wah, wah….! Itu kan permainan kuno, Pak!”timpal Wisnu tak tertarik. “Permainan yang tidak layak lagi bagi anak-anak zaman sekarang.”

“Kata siapa, Wisnu?”

“Kata saya, Pak.”

“Itu baru katamu. Lain dengan kata Pak Bupati.”

“Apa yang dikatakan Pak Bupati, Pak?” sahut Wisnu lagi.

“Pak Bupati berkata,”jawab Pak Ardhana. “Bahwa semua jenis permainan anak tradisional,” sambungnya.

“Khususnya yang ada di wilayah kabupaten kita ini jangan sampai punah. Jangan sampai tergilas roda zaman. Bahkan…,”Pak Ardhana diam sesaat. Ditaruhnya kertas pengumuman dari Pak Bupati tadi ke atas meja.

“Permainan tersebut harus digali. Harus ditumbuhkan kembali oleh kita semua,”lanjut Pak Guru. “Tentu saja agar anak-anak zaman sekarang mengenal jenis permainan tradisional. Permainan lokal warisan nenek moyang bangsa Indonesia asli. Bukan permainan yang berasal dari luar negeri. Bukan pula permainan peninggalan penjajah,” tambah Pak Ardhana panjang.

“Oleh sebab itu,” lanjutnya. “Festival permainan anak tradisional ini sengaja Pak Bupati adakan. Dengan tujuan, agar anak-anak tahu bahwa nenek moyang kita ternyata memiliki banyak jenis permainan. Permainan langka yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Permainan yang sangat digemari oleh para wisatawan asing bilamana berkunjung ke Indonesia.”

“Ah, masa iya, Pak? Orang luar negeri kok sampai tertarik pada permainan tradisional kita? Tak percaya, ah…!” hampir sama sombongnya dengan Wisnu, Ardi menimpali kata-kata pak gurunya.

“Apa kau tak suka bila orang luar negeri tertarik pada permainan tradisional kita, Ardi?” sahut Pak Ardhana.

“Tapi, Pak!” Reni menyela dari bangku depan.

“Ya. Tapi kenapa, Reni?”pandangan Pak Guru beralih ke anak perempuan yang duduk sebangku dengan Mawar.

“Rata-rata anak sekarang lebih suka bermain game di smartphone, Pak. Apakah kami tidak malu jika harus belajar permainan kuno yang sudah ketinggalan zaman itu?”

“Malu….?” Pak Ardhana mengerutkan kening. “Mengapa harus malu?”sambungnya. ”Bukankah seharusnya kalian bangga, karena permainan tradisional kita ternyata sangat disukai bangsa lain?”

Reni terdiam. Begitu pula anak yang lain.

“Anak-anak,”ujar Pak Ardhana meneruskan bicara. “Di zaman yang serba canggih ini,”sambungnya. “Semua jenis permainan anak memang sangat menarik. Macamnya lebih komplit. Semua bisa dicari di internet,” Pak Ardhana diam. Sepasang matanya merayap ke seisi ruang kelas.

“Pak Guru paham dengan apa yang diutarakan oleh Wisnu, Ardi, maupun Reni tadi,”katanya lebih jauh. “Akan tetapi……”

“Akan tetapi, bagaimana, Pak?” potong Seno.

“Permainan yang serba canggih itu sangat individual.”

“Maksud, Pak Guru?” sela Mawar.

“Permainan zaman modern ini,”jelas Pak Ardhana. “Para pemainnya sudah dikemas aktif di balik layar handphone. Kita tak bisa ikut jadi pemain di dalamnya. Bisa kita hanya sebatas menikmati permainan mereka saja. Permainan tersebut bisa kita tonton sambil duduk manis. Bahkan sambil tiduran pun bisa.”

“Kalau begitu, berarti…” kata Avira belum selesai.

“Berarti kita hanya sebagai penonton. Bukan sebagai pemain aktif seperti kalau kita bermain pada permainan tradisional,”sahut Pak Ardhana cepat. “Itulah sebabnya Bapak katakan, bahwa permainan semacam itu bersifat individual.”

“Artinya, Pak?” Nirmala belum paham maksud pak gurunya.

“Artinya,”jelas Pak Ardhana. “Permainan zaman sekarang hanya dilakukan seorang diri. Oleh anak yang pegang handphone. Dia tidak membutuhkan bantuan teman lain.”

“Bagaimana halnya dengan permainan tradisional, Pak?” sela Halintar ingin tahu.

“Permainan tradisional memiliki sosial tinggi.”

“Contohnya, Pak?” sahut Avira.

“Contohnya…,”ujar Pak Ardhana. “Untuk bisa main gobak sodor,”sambung Pak Guru. “Dibutuhkan sedikitnya 6 sampai 10 anak. Tiga anak sebagai regu pemain. Tiga lainnya jadi regu jaga. Kedua regu tersebut saling aktif bergerak-gerak. Regu pemain, berusaha menembus garis masuk. Sementara regu jaga menghalangi pemain agar tidak bisa melompati garis masuk. Agar permainan bisa berjalan lancar, dalam gobak sodor ini dibutuhkan adanya kerja sama antarteman.

Dengan demikian, rasa sosial dan setia kawan mereka amat tinggi. Tidak individual,”demikian panjang Pak Ardhana menjelaskan.

Semua anak mendengarkan dengan tenang.

“Bagaimana, Anak-anak? Ada yang akan kalian tanyakan?”

“Tidak, Pak. Kami sudah jelas,” jawab Avira.

“Baiklah,”sahut Pak Guru. “Bagi yang berminat mengikuti festival permainan anak tradisional,”lanjutnya. “Silakan kalian mendaftarkan diri kepada Pak Guru.”

“Kapan dan di mana, Pak?” tanya Nirmala.

“Istirahat pertama nanti. Di kantor Guru.”

“Anak putra boleh ikut, Pak?” Halintar bertanya.

“Boleh.”

“Baik, Pak. Nanti saya akan mendaftarkan diri,”janji Halintar. Anak lelaki berambut ikal itu ingin ikut jadi peserta permainan anak tradisional. Walaupun nantinya dikatakan ‘kuno’ oleh teman-teman, tak akan peduli dia. Demikian pula yang diniati oleh Avira, Nirmala, maupun Dhestya. (Bersambung) ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Cerita Anak

2. Janji Kemenangan

Novelet Kado untuk Avira Oleh Sardono Syarief Jam istirahat pertama tiba. Avira,

KEJUJURAN YANG PERNAH HILANG

Cerpen: Sardono Syarief (Guru SDN 01 Domiyang-Paninggaran-Pekalongan, Agupena Jawa Tengah) “Reno! Tunggu!”seru

NAMAKU JIGME

Erawati Heru Wardhani Namaku Jigme. Aku berasal dari sebuah desa kecil di
Go to Top