MENGGELORAKAN “CINTA PUISI” DI KALANGAN PELAJAR

Rubrik Esai/Sastra Oleh

Oleh Edi Sugianto
Penulis Buku “Tuhan dalam Rintik Hujan”

Judul di atas sangat menarik untuk dibahas, bukan karena saya hebat, melainkan justru saya masih “penulis/ penyair pemula”.

Entah, saya harus mulai dari mana tulisan ini? Baiklah, saya mulai dari bercerita saja. Di bangku sekolah, baik Sekolah Dasar atau pun Menengah Pertama, saya belum pernah “jatuh cinta” pada puisi. Setelah saya lanjut Sekolah Menengah atas di pesantren (Al-Amien Madura), baru sedikit demi sedikit saya menyukai puisi, meskipun sekadar mendengarkan saat beberapa kawan santri men-deklamasikan puisi di acara-acara, seperti Pentas Seni, dan sebagainya.

Saat di pesantren dan bangku kuliah, “cinta” saya pada puisi tidak begitu tumbuh subur sebab saya lebih menyukai tulisan esai daripada puisi.

Setelah menjadi sarjana, saya baru mencoba-coba belajar (membaca-menulis) puisi. Buku pertama yang saya baca adalah karya D. Zawawi Imron, Madura Akulah Darahmu, itu pun buku tersebut saya pinjam dari kawan.

Bulan Agustus 2016, saya didelegasi oleh sekolah (tempat saya mengajar) untuk mengikuti Workshop Menulis Buku di Gondanglegi, Malang Jawa Timur. Pematerinya sang motivator kondang; Prof. Imam Robandi. Dari Workshop itulah semangat saya untuk berlatih menulis (puisi) mulai menggelora. Bahkan, beberapa bulan kemudian, saya berani menerbitkan antologi puisi pertama: “99 Api Berlayar”, namun saya sadar, bahwa sajak-sajak di dalam buku tersebut tidak lebih baik daripada sajak para pelajar/ penyair pemula.

Hari demi hari saya lalui dengan belajar menulis puisi. Motivasi dari rekan-rekan guru, kawan Grup WhatApp IRo. Society, dan beberapa penyair/ penulis senior, kian memantik semangat saya dalam menyajak, sehingga kini saya me-launching antologi puisi kedua (2017), berjudul: “Tuhan dalam Rintik Hujan. InsyaAllah juga akan disusul dengan “Cinta dalam Secangkir Kopi: Kitab Puisi Cinta.”

Lalu, muncul pertanyaan besar; bagaimana minat pelajar/ mahasiswa dalam menulis puisi dewasa ini?

Sejauh pengamatan saya, saat ini sudah sangat banyak para penyair muda berbakat yang tampil di panggung persajakan Indonesia, tentu nama-namanya tidak bisa saya sebutkan satu per satu di sini, namun kita bisa lihat dengan mudah di berbagai media; online atau pun cetak (koran atau pun buku antologi). Misalnya juga, di tempat saya mengajar (SMK di Jakarta), beberapa siswa sudah berani membukukan antologi puisinya sendiri.

Mengapa suasana menyajak terus berkembang di sekolah (walau pun tidak terekam secara nasional)? Apa kuncinya? Menurut hemat saya, karena dua alasan, pertama karena keteladanan guru (terutama guru bahasa Indonesia) yang terus membudayakan kegiatan “baca tulis” secara konsisten, contoh One Day One Poetry. Kedua, karena atmosfer munulis (puisi) senantiasa dirawat oleh para senior, principal, serta guru yang peduli dengan masa depan literasi bangsa dan semangat berkarya.

Jadi, untuk “menciptakan” penyair-penyair hebat di masa depan, atau minimal suka dengan puisi, maka para pendidik tidak boleh bosan “memaksa” siswa-siswanya untuk senang: membaca puisi, mengapresiasi yang kemudian menjadi energi untuk ikut menyajak.

Bagaimana teknis-pembelajaran puisi yang efektif, dan menyenangkan, supaya anak didik tertarik membuat sajak?

Dr. Edy Sukardi (2017), dalam kuliahnya bersama penulis memaparkan tentang “Langkah-langkah Pembelajaran Puisi yang Menyenangkan,” adalah sebagai berikut: 1) guru memberikan contoh puisi sederhana yang mudah dicerna, 2) guru mengajak para siswa untuk memahami, dan mengapresiasi puisi tersebut, 3) guru memotivasi para siswa untuk sedikit demi sedikit membuat puisi, 4) hendaknya guru mengajukan tema-tema yang dekat dengan kehidupan siswa.

Lalu, bagaimana tahapan-tahapan kreatif dalam mencipta puisi yang keren? Para ahli menyimpulkan sebagai berikut:

Pertama, tahap persiapan (preparasi). Dalam tahapan ini, seorang penulis dituntut untuk mengumpulkan berbagai macam pengalaman hidupnya. Semakin banyak pengalaman maka daya kreatif dan imajinatif akan mudah muncul.

Kedua, tahap pengendapan/ “pengeraman” (inkubasi). Pada tahapan ini, penulis mulai “mengolah/ mematangkan” berbagai pengalamannya, sehingga nantinya menetas menjadi karya (puisi) yang luar biasa.

Ketiga, tahap “penetasan” (iluminasi). Tahapan ini merupakan tahap di mana seorang penulis bisa tersenyum lebar, karena “telur-telur” imajinasi yang ia erami selama jangka tertentu, kini telah menetas menjadi karya-karya hebat.

Keempat, tahap pemeriksaan (verifikasi), revisi, dan kritik. Tahap terakhir inilah, penulis mulai meng-evaluasi karyanya sendiri, bahkan mungkin bisa meminta para ahli-kritikus untuk membedah karyanya secara mendalam, apa yang perlu dipertahankan/ ditingkatkan, dan juga apa saja yang harus perbaiki dari tulisannya.

Sebagai contoh, bagaimana proses saya menulis puisi berjudul “Aku Ingin Tidur di Mimpimu”?

Di tahapan persiapan, saya mulai melihat sikap; “kegalauan” saya, karena beberapa bulan harus “berpisah” dengan istri, dan anak tercinta. Saya tinggal di kota, mereka tinggal di kampung (sementara). Tahapan pengendapan, saya sengaja mengolah kerinduan yang mendalam tersebut menjadi bahasa batin yang sempurna, dan terukur. Lalu, kemudian saya sedikit demi sedikit mencoba menuangkannya di atas kertas, berupa kata-kata/ kalimat majazy, bait, maka menetaslah puisi berikut.

Aku ingin berbaring di matamu/ menjala keindahan dunia/ menikmati lanskap angkasa dan pesawat terbang yang melintasi mimpi-mimpi kita/ mimpi itu seperti awan yang kita kejar malam itu: mereka telah beranak-pinak, membangun rumah dan tangga sendiri untuk sampai di nirwana cinta/ Aku ingin tidur di mimpimu seperti awal kita bertemu.

Sawali Tuhusetya (2017), seorang pengamat sastra, mengkritisi dan merespons puisi tersebut, dalam tulisannya berjudul: “Labirin Cinta Transendental dan Kekayaan Metaforis dalam Puisi Cinta Edi Sugianto.” Begitulah tahapan kreatif dalam menulis puisi.     

Ada hal yang lebih urgen untuk kita sadari bersama, bahwa puisi bukan sekadar dilombakan (formalitas) lalu selesai, atau ditulis, dipublikasikan lalu dibaca, melainkan “dihujamkan” ke jiwa anak didik sebagai ruh kehidupan itu sendiri. Maka benar apa yang pernah disampaikan, Penyair Husni Djamaluddin kepada D. Zawawi Imron, bahwa “Saya sebenarnya bukan penyair, yang bersyair sebenarnya alam, kemanusiaan, dan jeritan yang secuil sempat singgah ke dalam hati.”

Berdasarkan pernyataan penyair Makasar tersebut di atas, maka saya berpendapat, bahwa puisi yang kece selalu lahir dari tiga (3) hal, yakni:

Pertama, lahir dari alam. Alam senantiasa menjadi kawan yang senang berbincang-bincang dengan penyair, atau sebaliknya penyair ber-curhat dengan alam.

Alam adalah ayat kauniyah; yang Allah lukis dengan indah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Āli ‘Imrān (3) 190- 191: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Menurut hemat saya, berdasarkan ayat di atas, maka pantaslah para penyair menyandang predikat ulul albab; orang yang gemar berzikir, dan menggunakan akalnya untuk menyingkap ayat-ayat semesta.

Kedua, lahir dari isu kemanusiaan. Manusia dengan pelbagai problemnya terus “mewarnai” lingkungannya, baik dengan tinta putih, abu-abu, atau pun hitam. Suasana seperti itulah yang penyair rekam menjadi bahan renungan, berupa kata-kata sarat hikmah.

Ketiga, lahir dari renungan mendalam tentang diri sendiri. “Diri kita” adalah jagat kicil (mikrokosmos) yang begitu canggih, ia bisa merekam apa pun, bahkan dirinya sendiri.

Hakikat, dan level kemanusiaan seseorang sangat ditentukan oleh bagaimana ia berpikir, dan menyikapi dirinya sendiri. Dengan seperti itu, tugas sebagai ‘abit, dan khalifah akan mudah
dipahami, disadari, dan dijalankan sebagaimana mestinya. “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?.” (Aż-Żāriyāt, 51: 21)

Jika seorang penyair bersungguh-sungguh menggali tiga hal/ sumber tersebut, dan melewati tahapan kreatif menulis puisi yang benar, maka (besar kemungkinan) ia akan mencapai apa yang pernah dikatakan Chairil Anwar, “Menggali kata hingga ke putih tulang.”

Akhirnya, semoga cinta generasi bangsa pada puisi semakin bergelora, dan membanggakan. Amin!

Jakarta, 17: 7: 2017

EDI SUGIANTO (Esug), lahir di Sumenep, 22 September 1989 (28 tahun), dari pasangan H. Abd Lathif dan HJ. Holifah. Lulus SD Gedugan I (1996-2001), MTs Al-Hasan Somber Giligenting (2002-2004). TMI Al-Amien Islamic Boarding School, Sumenep Madura (2005-2008), S1- Universitas Muhammadiyah Jakarta (2009-2013). Kegemaran menulis dimulai sejak nyantri di Pesantren Al-Amien. Saat ini tulisannya berupa esai, resensi, dan puisi telah dimuat di berbagai media (cetak, dan online) nasional, seperti koran Kompas, Republika, Koran Tempo, dll. Majalah, Tabloid, Jurnal Kampus, dan Agupena (online). Bukunya yang telah terbit, Menyalakan Api Pendidikan Karakter (2016). 99 Api Berlayar (2016). Tuhan dalam Rintik Hujan (2017). Cinta dalam Secangkir Kopi (2017). Di samping itu, ia juga berkiprah sebagai guru agama Islam di SMA Muhammadiyah 11, Rawamangun, Jakarta Timur, dan SMK Muhammadiyah 15, Setiabudi, Jakarta Selatan. Sekretaris Majelis Pendidikan Kader, PCM Rawamangun (2015-2020). Di waktu luangnya, anggota AIS (Arsenal Indonesia Supporter) ini, punya hobi main futsal, Football PlayStation, seni vocal (nyanyi dan qiroah). Email: esug_L2s@yahoo.com. Facebook: Edi Sugianto Sug.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Esai

NASIB SASTRA KITA

NASIB SASTRA KITA Oleh: Cut Januarita *) Menyikapi opini Saudara Mustafa Ismail
Go to Top