Bukan Soal Agamanya Apa, Nilai Lamaholot Telah Menyatukan Kita

Rubrik Berita/Kegiatan Oleh

Bukan soal agamanya apa, melainkan nilai Lamaholot, warisan leluhur nenek moyang yang telah menyatukan kita jauh sebelumnya. Agama sesungguhnya sebagai jalan atau media memperkuat iman dan keyakinan akan hal-hal yang baik dalam kehidupan sehari–hari. Tentang hubungan kekeluargaan, toleransi antarumat beragama, saling menghargai sesungguhnya telah terkandung dalam budaya Lamaholot itu sendiri. Pernyataan ini disampaikan Romo Sam Dosinaen salah satu Panelis dalam Diskusi Panel, Keluarga Witihama-Larantuka dalam tema “Toleransi dalam Kaca Mata Lamaholot” pada Minggu (16/7/17).

Kegiatan Panel Diskusi yang berlangsung di Kota Rowido Kecamatan Larantuka ini, mengundang 5 Panelis, di antaranya Viktor Rianghepat (Budayawan), Romo Sam Dosinaen (Imam), Blasius Lamanepa ( Ketua Kelompok Arisan Witihama), Karim Bunga Tokan (Mewakili Umat Muslim) dan Wento Eliando ( Wartawan Flores Pos). Masing – masing memaparkan materi; Toleransi Dalam Kacamata Lamaholot, Toleransi dalam Kacamata Iman kaitan dengan Budaya Lamaholot, Kilas balik Keluarga Witihama Larantuka dalam Bingkai Lamaholot,  Toleransi dalam Kacamata Islam kaitan dengan Budaya Lamaholot, Wento Eliando  Toleransi dalam kaca mata jurnalis.

Hadir pada kesempatan itu, Tokoh Adat keluarga Witihama di Larantuka, Tokoh Agama, kaum muda, pelajar, yang mengenyam pendidikan di Larantuka juga organisasi kepemudaan diantaranya Orang Muda Katolik dan Remaja Mesjid. Anggota DPRD Daerah Pemilihan Kecamatan Witihama yang sempat hadir, Januarius Jawa Bala dari Partai PKPI.

Blasius Lamanepa Ketua Arisan mengatakan, Kelompok arisan Witihama dibangun dan melewati masa suka dan duka. Dalam arisan yang terdiri dari 30 -an Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah anggota di atas 70 puluan berbeda agama namun selalu menjalin kebersamaan. Selama ini selalu menciptakan momen bersama. “Kali ini kami mengangkat tema Toleransi dalam Kaca Mata Lamaholot karena kami melihat bahwa nilai nilai untuk kebaikan bersama telah terkandung dalam Lamaholot. Nilai warisan nenek moyang dalam Bingkai Lamaholot telah diletahkan berabad- abad lamanya. Nilai – nilai itu untuk mengatur kehidupan bersama demi kebaikan dan kesehjateraan. Saatnya kita harus menjaga dan merawat. Momen seperti hari ini tidak saja berlangsung secara seremonial belaka tetapi terus menjadi rutinitas harian kita. Saling bertemu dan berbagi pikiran untuk ke depan kehidupan bersama kita semakin baik.

Dialog dipandu moderator Maksimus Masan Kian, Ketua Agupena Flores Timur berlangsung santai di bawah rimbunnya pohon rambutan, semakin mempererat tali persaudaraan. Moses Kopong sesepuh Keluarga Witihama mengatakan, nilai Lamaholot tidak tergantikan. Dan tidak terkalahkan dengan dunia secanggih apapun. “Nilai – nilai yang terkandung dalam adat budaya Lamaholot sangat bermanfaat untuk menciptakan kedamaian, kerukunan, kesehjateraan dan saling hargai menghargai antara satu dengan yang yang lainnya. Kita tidak lagi belajar tentang tolerasi, tugas kita adalah terus memumpuk, menyiram dan mengemburkan nilai – nilai ini, ‘kata Moses.

Acara ini juga diisi dengan hiburan musik daerah, puisi dari anak – anak, dan diakhir dengan makan bersama, makanan lokal, khas Adonara Lamaholot. (Maksimus Masan Kian) ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Berita

Go to Top