Guru Cerdas, Siswa Berprestasi

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh M. Nasir Pariusamahu
(Mahasiswa/ Kompasianer Ambon)

Profesi menjadi seorang pendidik (teacher) adalah sesuatu yang lahir dari kesadaran tinggi (high motivation) Jalan kesadaran itulah yang mengantarkan pendidik selalu terbingkai dengan etos kerja yang maksimal. Demi terselenggaranya pendidikan yang baik, pendidik dituntut untuk mempunyai kualifikasi sesuai dengan standar yang telah diterapkan oleh pemerintah. Karakteristiknya adalah pendidik  menguasai kompetensi pedagogik, profesionalisme, kepribadian dan sosial seperti yang diatur dalam Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.

Lazimnya,  pendidik adalah satu komponen terpenting dalam pendidikan, dimana pendidik memegang peranan yang sangat vital dalam penyelengaraan pendidikan. Terselenggaranya pendidikan yang baik, pendidik sebagai bagian didalamnya dituntut untuk memiliki kualifikasi tersebut.

Mengapa? Ketika pendidik memiliki kompetensi tersebut. Secara ringan, pendidik membuat pedoman kerja tanpa terbebani oleh skala tugas. Pedoman kerja yang dimaksud sesuai tugas dan fungsi pendidik kemudian dipermudah oleh pemerintah dalam memberikan penjelasan umum. Sehingga, nantinya pendidik tidak merasa kesulitan dalam mengikutinya. Walaupun, antara hak dan kewajiban pendidik kadang jauh dari harapan. Tidak apalah.

Pendidik yang mampu mengondisikan empat kompetensinya secara baik akan mendampakkan hasil optimal bagi kelangsungan kualitas pendidikan, dalam hal ini anak didik. Perlu dipikirkan bahwa desain mutu pendidikan harus berbanding lurus antara input, proses, output dan outcome. Jangan sampai pendidik rancu dalam merencanakannya.

Penting juga, selain menjalankan tugas merencanakan, melaksanakan, menilai hasil belajar peserta didik. Pendidik memperhatikan aspek pembimbingan yang terpadu. Serta terus memperbaiki kualitas kualifikasinya. Jika hal ini telah disadari sungguh, klaim pendidik atas upaya pencerdasan bagi anak Indonesia akan terwujud.

Peliknya dunia pendidikan, khususnya sekolah dalam mengelola manajemen sekolahnya, pendidik kadang menjadi gamang dalam melakukan tindakan inovasi. Namun, sebaliknya regulasi menuntut hal tersebut. Olehnya itu, semestinya kondisi begini diabaikan saja. Pendidik harus tetap fokus pada visinya yakni menjadikan anak didiknya berkembang baik secara akademik, non akademik terlebih karakter. Lagi-lagi, tugas pendidik itu sangatlah berat. Pendidik bukan hanya  saja menanam pohon melainkan merawat pohon tersebut agar kelak pohon itu rindang hijau, berbuah dan buahnya dinikmati untuk kebermanfaatan. Itulah makna pengajaran.

Bagaimana menjadi guru cerdas?
Menjadi pendidik adalah wakil Allah di muka bumi untuk menyampaikan makna kebaikan. Harapan orang tua pun disandarkan pada pendidik di sekolah. Kata kuncinya, pendidik adalah pekerjaan mulia, sebab mendapat kepercayaan dari Allah dan juga orang tua.

Kepercayaan inilah yang harus dibangun oleh pendidik agar kepercayaan ini tidak rapuh. Memaknai itu, ada dua hal yang perlu diimplementasikan. Keduanya merupakan indikator guna tercapainya peningkatan mutu pendidikan anak.

Pertama, gap of information. Pendidik tidak boleh dikocakin sama peserta didik. Kemampuan pendidik dalam mengajar harus relevan dengan pengetahuan atau teori baru. Dalam ilmu strategi pembelajaran, pendidik harus mempunyai gaya up to date terhadap materi yang disajikan.

Model ini akan membangkitkan suasana pembelajaran. Peserta didik akan selalu sumringah dalam mengikuti sajian pendidik. Jangan sampai, terlalu kuno materi pendidik. Atau memakai gaya belajar lama, tanpa pembaharuan. Akan menstatiskan pembelajaran.

Semestinya, kekuatan kata-kata dan bahasa tubuh serta aneka taktik yang dimainkan menjadi daya tarik anak didik. Kepastian daya ingat akan materi yang disajikan pun akan mudah diingat dan lama hilangnya oleh anak didik. Istilah gaptek dan layunya suasana pembelajaran janganlah menjadi sisi kelam para pendidik yang dilahirkan dalam era digitalisasi.

Kedua, gap of communication. Sekolah merupakan rumah bersama bagi seluruh komponen yang disebut warga sekolah. Diantaranya, kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik. Sebagai pendidik, harus menyadari bahwa sekolah bukan lembaga homogenitas. Tetapi, heterogenitas. Keragaman eksponen yang ada jika tidak ada ruang komunikasi yang  baik akan memunculkan konflik internal. Baik dengan kepala sekolah, sesama pendidik, maupun peserta didik. Pendidik adalah contoh yang sedang ditiru oleh peserta didik. Pendidik adalah orang tua kedua mereka. Jadi, kemantapan lisan dan tatapan mata pendidik tidaklah boleh mengandung unsur keterpaksaan. Melainkan muncul dari hati yang bijak.

Keragaman di sekolah juga harus dimaknai sebagai komunitas baru yang disananya bukan hanya konsep pengenalan saja, tetapi konsep saling memahami dan saling membebani. Hal tersebut itulah yang patut bersinergi. Jika semua elemen tersebut telah tersambung rasa kasih, sayang hati, maka jangan khawatirkan hari esok anak didik. Diyakini atau tidak, di tangan pendidiklah, anak didik akan menjadi generasi amanah yang komprehensif. Wajah anak didik kita hari ini, wajah pemerintahan masa depan. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Hidden Kurikulum

Oleh: Fortin Sri Haryani Ada pertanyaan di balik tragedi pembunuhan massal oleh

Mind Map dan Aikido

Oleh: Yudhi Kurnia Bagi para praktisi pendidikan tentunya tidak akan asing lagi
Go to Top