PENDIDIKAN BUKANLAH KEWAJIBAN

Rubrik Pendidikan Oleh

Ismail Suardi Wekke
(STAIN Sorong & AGUPENA Papua Barat)

Jelang shalat Jumat, sekelompok mahasiswa berbincang. Salah satunya berucap “saya masih di bab 1, sementara kawan lain sudah bab 3”. Saya pun menimpali “jangan bandingkan dirimu dengan mahasiswa lain”. Bagi saya, setiap mahasiswa punya lintasan perjalanan sendiri ketika kuliah. Bahkan, mereka bisa saja kuliah sampai tujuh tahun. Menggunakan kesempatan secara maksimal.

Bahkan, kalaupun mereka berhenti kuliah, maka tetap saja itu boleh. Mempergunakan hak mereka untuk tidak kuliah. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional membolehkan mahasiswa menempuh kuliah sampai tujuh tahun. Dalam rentang waktu itu, mahasiswa berproses untuk menempuh tahapan yang disyaratkan untuk sarjana.

Kuliah bukanlah lomba lari. Setiap orang menempuh jalan dan takdirnya sendiri dengan tidak akan mengganggu jalan orang lain. Kalaupun sama-sama menempati tempat tercepat tetapi itu bukanlah jaminan apa-apa kecuali dalam administrasi pendidikan. Sarjana yang kuliahnya hanya 3 tahun 8 bulan, bukan berarti akan mendapatkan gaji yang lebih tinggi berbanding sarjana yang kuliah lebih dari itu.

Bangku kuliah hanyalah satu kesempatan untuk belajar. Jikalau saja, seseorang menemukan tempat belajar yang bukan bangku kuliah. Maka itu bisa digunakan sepenuhnya untuk memperoleh pengalaman. Sebuah proses di bangku sekolah sejatinya hanyalah salah satu kesempatan. Seperti dalam pelajaran di sekolah dasar, “ibukota Jawa Timur adalah Surabaya”. Jikalau saja, ada murid yang bisa mengenali Surabaya tanpa harus ikut duduk di bangku sekolah, maka itu juga sebuah kesempatan belajar.

Sekolah, merupakan fasilitas untuk belajar. Akan banyak kesempatan lain yang sama bagusnya. Orang yang sekolah dengan sukses menempati posisi yang diinginkan. Begitupun juga orang yang tidak sekolah bisa menempati posisi yang diinginkan. Hanya saja, bagi yang tidak memiliki kemampuan kreatif dan kesempatan belajar langsung dari praktik, sekolah merupakan satu-satunya jalan yang dapat ditempuh.

Namun, sekolah hanyalah memberikan kemampuan kognitif saja. Bukan hal aneh, jikalau seorang lulusan perguruan tinggi yang memiliki nilai hampir sempurna justru bekerja pada atasan yang justru tidak memiliki pendidikan formal sedetikpun. Ini hanya sebuah kasus. Pada kasus yang lain, justru sebuah usaha berkembang dengan pesat karena bekal pendidikan formal yang dipegang pemiliknya. Untuk itu, pendidikan merupakan salah satu jalan saja. Bisa saja ditempuh bagi yang tidak mampu menempuh jalan lain.

Kembali pada soal perbandingan dengan individu lain, maka tidak pernah layak seorang individu dibandingkan dengan individu lain. Ada takdir yang menjadi rahasia bagi seseorang. Tugasnya hanyalah memastikan takdir baik senantiasa diraih. Sekalipun sudah berusaha, tetap saja ada kegagalan yang kadang menyergap.

Pendidikan memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar. Jika ada kesempatan lain dan itu bukan lembaga pendidikan, maka itu bisa saja sebuah proses belajar. Sejatinya, belajar bukan hanya ketika duduk secara formal melainkan proses untuk memahami, memaknai, dan mengaplikasikan. Jikalau ini dapat dikuasai walau bukan dengan gelar sarjana, tetap saja dapat disebut sebagai pelajaran.

Dengan demikian, perlu menghindar untuk mengagungkan selembar ijazah tanpa makna. Kertas pengakuan dari institusi akan semakin bermakna jikalau itu disertai dengan kemampuan dan keterampilan. Kewajiban utama terletak pada kemauan untuk belajar dari sebuah kesempatan. Sehingga pada saatnya akan menjadi bekal dalam menghadapi pelajaran sesungguhnya dalam kehidupan nyata. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Hidden Kurikulum

Oleh: Fortin Sri Haryani Ada pertanyaan di balik tragedi pembunuhan massal oleh

Mind Map dan Aikido

Oleh: Yudhi Kurnia Bagi para praktisi pendidikan tentunya tidak akan asing lagi
Go to Top