Sevel Tutup Karyawan Terpuruk

Rubrik Opini Oleh

Oleh: Riza Lina

Tepatnya tanggal 30 Juni 2017, seluruh gerai Seven Eleven di Indonesia tidak beroperasi lagi. Sevel yang menjadi tempat favorit mayoritas anak muda kini tidak ada lagi kita dapati. Kalau kita lihat di beberapa lokasi Sevel seringkali penuh dengan anak muda , karena tempat yang nyaman dan fasilitas wifi gratis menjadi salah satu alasan Sevel menjadi tempat favorit. Harga makanan dan minuman juga terbilang tidak begitu mahal karena masih terjangkau untuk masyarakat kalangan atas,menengah dan bawah, ditambah luas parkir kendaraan yang lumayan luas memudahkan pengunjung Sevel yang mengendarai mobil dan motor . Dengan adanya Sevel sedikit memberikan solusi berupa lapangan kerja bagi tenaga kerja yang belum mendapatkan pekerjaan dan sehingga mereka mendapatkan penghasilan guna mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.

Diluar dugaan, masyarakat mungkin bertanya kenapa Sevel sudah tidak beroperasi lagi? Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan “ ada dua faktor utama yang menyebabkan gerai Seven Eleven (Sevel) tutup di Indonesia yaitu faktor internal dan eksternal “(Beritasatu.com, 02 Juli 2017). Menurutnya, faktor Internal disebabkan karena melemahnya Sumber Daya Keuangan dan Sumber Daya Manusia.

Dalam menjalankan roda Bisnis kedua faktor tersebut memang sangatlah penting karena bila keduanya lemah akan mengganggu kegiatan operasional dan tujuan dari perusahaan akan sulit tercapai. Sumber Daya Manusia merupakan Asset yang sangat berharga bagi perusahaan karena menurut Hasibuan (2003, h 244) “Pengertian Sumber Daya Manusia adalah kemampuan terpadu dari daya pikir dan daya fisik yang dimiliki individu. Pelaku dan sifatnya dilakukan oleh keturunan dan lingkungannya, sedangkan prestasi kerjanya dimotivasi oleh keinginan untuk memenuhi kepuasannya”. Perusahaan yang maju dan sukses biasanya memiliki karyawan yang dengan semangat kerja tinggi ,kreatif dan memiliki motivasi kerja yang sangat tinggi.

Faktor lain yaitu faktor internal yang disebabkan melemahnya pasar retail, karena dengan kondisi perekonomian saat ini masyarakat banyak yang menahan daya belinya dan mengurangi kebiasaan konsumtifnya. Masyarakat lebih banyak mengalokasikan dananya untuk keperluan yang lebih penting, seperti pendidikan dan kesehatan.Selain itu masyarakat sudah banyak yang melakukan transaksi jual beli melalui online. Karena ada beberapa keuntungan yang didapat dari belanja online, selain mudah ,belanja online tidak banyak membuang waktu dan biaya. Sevel yang menjadikan minimarket modern karena selain konsumen belanja ,mereka diberikan fasilitas duduk-duduk untuk berbagai kegiatan dengan menikmati fasilitas wifi ternyata kurang didukung oleh regulasi pemerintah.Namun hal tersebut bukan menjadi faktor utama dari tidak beroperasinya Sevel. Biaya operasional keuangan seperti sewa tempat juga mengalami sedikit kendala dan bisa menjadi beban perusahaan selain memberikan gaji kepada para karyawan.

Bagaimana dampak terhadap karyawan?
Dengan tidak beroperasinya Sevel ,banyak karyawan yang akhirnya di PHK karena perusahaan sudah tidak mampu lagi memberi gaji kepada karyawan,dan menyebabkan karyawan tidak lagi memiliki penghasilan bulanan. Akhirnya akan menimbulkan bertambahnya pengangguran di Indonesia. Sementara mencari pekerjaan untuk saat ini tidaklah mudah mengingat kondisi perekonomian di Indonesia yang belum stabil.Harga kebutuhan hidup yang juga semakin meningkat membuat kondisi para karyawan yang di PHK semakin terpuruk,terlebih mereka yang tidak memiliki penghasilan sampingan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan penutupan gerai 7- Eleven (Sevel) pada 30 Juni lalu memberikan dampak negatif yaitu seluruh pegawai. Dari data terakhir yang diperoleh, lebih dari 1.000 orang karyawan sudah kehilangan pekerjaannya atau terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).Ia mengatakan gelombang PHK bisa saja terjadi di industri ritel, jika kebijakan pemerintah tidak sesuai dengan perkembangan bisnis.Seperti diketahui, berdasarkan laporan keuangan perusahaan tahun 2016 yang sudah diaudit, total karyawan yang dipekerjakan perusahaan mencapai 1.605 orang yang terdiri dari berbagai jenjang pendidikan. Di antaranya, 1.384 orang lulusan SMA, 62 orang lulusan diploma, 145 orang lulusan S1 dan 2 orang lulusan S2. Ada pula, 7 orang yang berpendidikan SMP dan 5 orang berpendidikan SD. Dari 1.605 orang karyawan sevel, 1.194 berstatus karyawan kontrak dan 411 orang berstatus karyawan tetap.

Kalau kita lihat dari data tersebut, Sevel sangat membantu pemerintah dalam memberikan solusi para pengangguran di Indonesia.Namun tidak beroperasinya Sevel akan menimbulkan masalah baru bagi pemerintah karena pengangguran yang bertambah, dan dampak pengangguran adalah timbulnya kejahatan di masyarakat. Semoga pemerintah bisa memberikan perhatian lebih terhadap kondisi retail yang terjadi saat ini ,sehingga perekonomian dan kesejahteraan rakyat dapat semakin meningkat. ***

Tags:

AGUPENA.OR.ID merupakan website resmi Agupena yang diluncurkan pada 10 Oktober 2016. Kehadiran website ini diharapkan bisa menjadi pendukung program Agupena di seluruh wilayah tanah air. Website dikelola oleh Sawali Tuhusetya (Bidang Pengembangan Profesi Agupena).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Keluargaku Surgaku

Seorang ahli kungfu sedang asyik menari di lantai dansa bersama istrinya. Ia

Sayang dia, Cinta dia

Hampir pecah tangisku menyaksikan peristiwa itu. Seorang suami mencekik, menampar dan menendang

Tegar

Oleh: La Ode Mu’jizat Perlu kekuatan hati yang berlebih ketika ujian atau
Go to Top