2. Janji Kemenangan

Rubrik Cerita Anak/Novelet/Sastra Oleh

Novelet Kado untuk Avira
Oleh Sardono Syarief

Jam istirahat pertama tiba. Avira, Dhestya, dan Nirmala ramai-ramai menuju kantor guru. Sengaja mereka menemui Pak Ardhana. Tentunya untuk mendaftarkan diri sebagai peserta festival permainan anak tradisional. Begitu pula Halintar, Fariz, dan Seno. Mereka menyusul rombongan Avira.

“Maaf, Pak. Kami bertiga dari kelas 6 putri minta didaftar sebagai peserta festival, Pak,”kata Avira di hadapan Pak Ardhana.

“Benar, Pak,”sela Halintar.“Kami bertiga dari kelas 6 putra minta didaftar juga.”

“Baik,”ujar Pak Ardhana. “Kalian akan Pak Guru daftar satu per satu. Setelah jumlahnya cukup, akan segera Pak Guru hubungi.”

“Terima kasih, Pak. Kabar dari Bapak kami tunggu,”ucap Halintar mewakili teman-temannya.

Tak lama dari itu, datanglah pula menghadap Pak Ardhana, anak-anak dari kelas 5. Mereka antara lain; Candra, Tritan, Fitria, dan Gadis. Keempat anak tadi rupanya juga hendak mendaftarkan diri sebagaimana Avira dan Halintar.

Setelah tercatat ada 30 pendaftar, Pak Ardhana segera memenuhi janjinya. Beliau memanggil Avira dan kawan-kawan untuk berkumpul di ruang perpustakaan.

“Anak-anak,”ucap Pak Ardhana mengawali pertemuannya.

“Ya, Pak,” semua anak pasang telinga.

“Apakah kalian sudah mantap benar ingin mengikuti festival permainan anak tradisional tingkat kabupaten?”

“Sudah, Pak…!”sahut anak-anak ramai.

“Apakah kalian tidak malu dikatakan kuno oleh kawan yang bergaya masa kini?”

“Tidak, Pak,”jawab anak-anak lagi.

“Syukurlah,”ucap Pak Ardhana puas. “Kalau kalian sudah mantap,”lanjutnya. “Maka, kalian akan Pak Guru beri…,”Pak Ardhana diam sesaat. Ditariknya napas kuat-kuat. Kemudian katanya,”Pertama, sedikit pengertian tentang asal mula permainan anak tradisional. Yang kedua, Pak Guru bagi jenis permainan yang bakal kalian ikuti. Ketiga, Pak Guru tentukan hari-hari diadakannya latihan.”

“Oh, begitu, Pak…?”sela Fariz. Pak Ardhana mengangguk.

“Perlu kalian ketahui,”lanjut Pak Ardhana. “Asal mula permainan anak tradisional ini adalah dari nenek moyang kita, Anak-anak. Permainan yang harus kalian lestarikan. Jangan sampai hilang ditelan zaman,” Pak Guru diam. Dipandanginya anak-anak yang duduk di depannya satu per satu dengan cermat.

“Boleh saja kalian ikuti jenis permainan anak masa kini,”sambungnya. “Akan tetapi, permainan anak tradisional yang dianggap sudah ketinggalan zaman pun harus kalian kuasai. Harus kalian pertahankan. Bahkan harus kalian banggakan.”

“Mengapa sebabnya, Pak?”sela Avira.

“Karena permainan anak tradisional ini merupakan hasil karya asli leluhur kita. Bukan warisan bangsa asing. Bahkan mereka justru ingin bisa memainkan jenis permainan ini. Nah, kalau bangsa asing saja suka. Apakah kalian tidak, Anak-anak?”

“Suka sekali, Pak!”dengan serempak anak-anak menjawab.

“Kalau begitu,”lanjut Pak Ardhana. “Dari sejumlah 30 anak yang ada di ruangan ini,”sambungnya. “Akan Pak Guru bagi 3 regu. Masing-masing regu terdiri dari 10 anak. Kebetulan di sini ada 10 anak putra, dan 20 anak putri.

Untuk regu putra akan Pak Guru latih cara bermain gobak sodor. Sementara regu putri I, akan Pak Guru latih sebagai pemain jamuran. Adapun regu putri II, akan Pak Guru latih cara bermain engklek. Jelas, Anak-anak?”

“Jelas, Pak…!”

“Setujukah kalian?”

“Setuju…!”

“Terima kasih,”Pak Guru tersenyum. “Sekarang, mari kita berdoa! Semoga permainan yang bakal kalian ikuti nanti bisa meraih juara,”sambungnya.

“Mari, Pak, mari…!”anak-anak setuju.

“Anak-anak,”ucap Pak Guru Ardhana sesaat dari itu.

“Ya, Pak.”

“Bagaimana kalau Minggu besok, kalian mulai latihan?”

“Siap, Pak….!”jawab anak-anak.

“Di mana latihan akan dilaksanakan, Pak? Siapa pula pelatihnya?”potong Seno minta penjelasan.

“Di halaman sekolah ini. Palatihnya Pak Guru sendiri.”

“Baik, Pak. Kami semua siap,”janji Seno sebelum teman-teman lainnya menjawab.

“Kami juga siap untuk bisa memboyong piala dan kado kemenangan, Pak,”Avira berjanji pula penuh keyakinan.
Mendengar itu, Pak Ardhana tersenyum senang.

“Kalau begitu, pertemuan kali ini Pak Guru cukupi sekian dulu. Mudah-mudahan apa yang kalian cita-citakan bisa berhasil.”

“Amin, Pak. Amiiin………!”sahut anak-anak ramai.*** (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Cerita Anak

Saat Liburan Panjang Tiba

Oleh Sardono Syarief Andra segera menyimpan buku bacaan yang dipinjamnya dari perpustakaan

KEJUJURAN YANG PERNAH HILANG

Cerpen: Sardono Syarief (Guru SDN 01 Domiyang-Paninggaran-Pekalongan, Agupena Jawa Tengah) “Reno! Tunggu!”seru
Go to Top