Kemerdekaan Palestina, Keruntuhan Tirani Dunia

Rubrik Opini Oleh

Oleh M. Nasir Pariusamahu
(Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Pattimura Ambon)

Jumat Agung. Seluruh umat Islam di muka bumi turun ke jalan. Suarakan kemerdekaan Palestina. Negeri diberkahi Allah ini sedang diliputi lara dan lapar. Kekejaman zionis selama 50 tahun terakhir telah membuatnya terus dilanda bom dan martir.

Anak-anak kehilangan ibu bapanya, rumah-rumah menjadi ladang peluru, nyawa tak terhingga dibantai tanpa nama. Tapi, mereka (Anak Palestina) tetap tegar dalam menghadapinya.

Nama Allah senantiasa menjadi dzikir dalam perasaan hampa. Agar negeri mereka dibebaskan. Ini bukan soal Palestina. Ini soal kita, yang ingin damai, tapi tak kunjung didapatkan. Pertemuan-pertemuan sampai negosiasi seolah menjadi ayat nestapa.

Jika merujuk pada Atlantic Carter (1941) poin keempat yakni mengusahakan terbentuknya perdamaian dunia dimana setiap bangsa berhak mendapatkan kesempatan untuk hidup bebas dari rasa takut dan kemiskinan. Sebelumnya poin kedua adalah menghormati setiap bangsa untuk memilih bentuk pemerintahan dan menentukan nasib sendiri.

Piagam itu adalah dasar kesepakatan seluruh bangsa di dunia. Lalu, apakah Palestina bukan sebuah bangsa berdaulat? Terjawab dalam resolusi majelis umum PBB 67/19 adalah sebuah resolusi mengenai masuknya Palestina sebagai negara non-anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Resolusi ini disahkan oleh Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-67 pada tanggal 29 November 2012, tanggal Hari Solidaritas dengan Bangsa Palestina Internasional (ulang tahun ketika Majelis Umum mengesahkan Resolusi 181(II) tentang Pemerintahan Masa Depan Palestina), sehingga menaikkan keanggotaannya dari entitas non-anggota ke negara non-anggota.

Sekilas kita baca Palestina yang telah mendeklarasikan diri tahun 1988, jauh sebelum itu otoritas Palestina sudah ada sejak pemerintahan ottoman Turki Ustmani. Pengakuan sejarah ini memberikan definisi baru tentang Palestina.

Palestina adalah sebuah negara. Sebagaimana syarat menjadi negara ada pemerintahan, wilayah dan rakyat. Palestina sudah punya itu. Lalu kenapa terus menjadi sasaran sarapan pagi Israel? Dimana peluru keadilan?

Bukankah Israel juga tau, piagam Atlantik itu kesepakatan bersama? Berarti Israel harus taat pada asas perdamaian itu. Sebaliknya, bertahun-tahun, Palestina harus rela dan ikhlas diperangi. Dukungan dunia hanya sekedar suara sunyi. Apalagi pemimpin-pemimpin dunia Islam dalam OKI, tidak bisa berbuat banyak. Anehnya kini, mereka saling berkonflik di kawasan. Saling memusuhi musuh yang tak pasti.

Kemerdekaan adalah Harga Absolutisme
“”Ketika anda membuat dunia lebih toleran untuk anda, berarti anda membuat dunia lebih toleran bagi orang lain.” Anais Nin ( penulis, novelis Prancis)

Secara harfiah, manusia telah diciptakan dengan karsa. Dasar karsa itu saling mencintai sesama. Konklusi dari sikap cinta itu adalah hidup penuh damai.

Pastinya, anda tidak suka ada orang lain yang masuk ke rumah anda, lalu mengobrak-abrik seluruh isi rumahnya. Hal yang sama kini terjadi di tanah Filistin.

Kalaupun kita merasakan hal yang sama. Sebagai manusia, akankah hati kita beku, mata kita buta, lisan kita kaku, telinga kita tuli akan teriakan-teriakan jeritan saudara manusia kita disana. Mereka tidak tau kapan angin damai datang.

Damai adalah seruan kemanusian. Bahwa Palestina masalah umat. Perang telah menidurkan nyawa dengan paksa.

Seperti Anais katakan di atas, berlaku baiklah terhadap semua bangsa maka bangsa lain akan bersahabat denganmu.

Sadar atau tidak, perang tak dapat menyelesaikan masalah. Itulah kenapa harus dibentuk PBB, sebagai payung bersama, kepentingan satu, wujudkan perdamaian di muka bumi. Tak ada bangsa lain menindas bangsa lain. Tak ada bangsa lain, menduduki tanah bangsa lain.

Lagi-lagi kenapa Palestina masih dilibas paksa oleh Israel? Wajah dunia pun tertunduk atas jumawa sang Zionis ini.

Tirani Dunia Harus Dihentikan
Banyak sekali sejarah telah mencatat kejatuhan penguasa-penguasa yang bermental penjajah. Firaun, Namrud, Jalut adalah catatan penting tentang itu. Kejatuhan mereka sesungguhnya akibat kebodohan mereka yang telah mengklaim dirinya kuat,  tak terkalahkan.

Kalau kita buka lagi dekskripsi tentang perlawanan terhadap raja-raja tirani itu, kita akan menemukan bahwa kekuasaan tak mutlak di tangan manusia. Manusia punya keterbatasan sejauh mata memandang. Allah punya kekuatan maha tanpa batas. Yakinlah bahwa kekuatan illahiyah itu sedang membantu pertahanan saudara manusia kita: Palestina.

Di era modern, muncul Hitler di Jerman, Stalin di Rusia, Mao Zedong di Cina. Tiga nama penting ini telah membantai ribuaan nyawa seperti yang dilakukan Israel saat ini kepada rakyat Palestina.

Mereka pun menjemput ajalnya dengan senjata mereka sendiri. Disini kita belajar bahwa kekuasaan tirani, berwajah imperialis ini tidaklah menjadi taman hidup. Rakyat akan terus memberikan perlawanan, dan itu terjadi pada akhirnya, kebenaranlah yang menang di atas muka bumi.

Sekarang kita menyaksikan Israel telah menutup mesjid Al Quds. Sholat Jumat dilarang. Ini yang pertama kali dilakukan oleh zionis kepada rumah Allah. Allah selalu menjaganya. Seperti Allah menjaga Ka’bah dari serangan Abrahah. Disitulah nafas kebebasan akan berdengung. Allahumma amin.

“Ya Allah Dzat yang menurunkan kitab, menjalankan awan, Yang Maha Cepat perhitungannya, Yang mengalahkan pasukan sekutu, kalahkan Yahudi dan goncangkanlah mereka dengan goncangan yang dahsyat. Ya Allah mereka telah kurang ajar dan berbuat kerusakan di bumi, ya Allah berantakanlah kumpulan mereka cerai beraikan mereka, lemparkan di hati mereka rasa takut. Ya Allah jadikanlah perselisihan yang sengit antar mereka, wahai Dzat Yang Maha membalas, balaslah kaum durjana, dan turunkan atas mereka siksa-Mu yang tidak bisa dielakkan oleh kaum yang zhalim.” (Qunut Nazilah) ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*