Belajar-Mengajar Bahasa Inggris: Antara Komunikasi Lisan dan Grammar

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh Rijal Mahril
(Awardee LPDP University of Adelaide/Agupena Australia)

Bahasa Inggris, khususnya percakapan sudah seharusnya menjadi skill dasar yang dikuasai para peserta didik di Indonesia. Dia sudah diajarkan rata-rata mulai dari tingkat SD (meski sebagai muatan local di sekolah-sekolah di beberapa daerah) hingga perguruan tinggi bahkan banyak riset-riset tentang bagaimana mengembangkan (develop), meningkatkan (improve), foster (membantu perkembangan) dan sederet kosakata yang berdenotasi positiflainnya dari skripsi S1 dari yang berjurusan pendidikan Bahasa Inggris maupun literature Bahasa Inggris itu sendiri.

Namun, walhasil kemampuan berbahasa Inggris itu belum mumpuni bahkan percakapan dasarpun rata-rata para peserta didik kita masih terbata-bata dalam mengkomunikasikannya.Dari essay ini, mungkin ada baiknya kalau kita merefleksikan diri lagi dengan merujuk ke dua hal yang kira-kira bisa jadi konteks penyebab atau trigger (pemicu) mengapa kondisi kemampuan Bahasa Inggris masih dalam kondisi stagnan.Khususnya saya sendiri.

Metode dan teknik pengajaran Bahasa Inggris yang masih konvensional mungkin bisa jadi faktor pertama atas stagnansi ini.Selama menempuh pendidikan dari tingkat SD hingga SMA metode pengajaran yang ditawarkan guru-guru sendiri masih berkisar Teacher-centred Learning (pembelajaran yang hanya berpusat pada guru) tanpa memperhatikan bahwa siswa juga harus ikut andil dalam memproduksi dan membangun kemampuan berbahasa itu sendiri.Bukannya malah siswa yang jadi pintar berkomunikasi bahasa Inggris, malah gurunya yang tambah fasih.

Belum lagi, ujian nasional itu lebih berkiblat pada penguasaan terhadap rule / tatanan Bahasa (grammar mastery) dari pada kemampuan siswa mengkomunikasikan ide-ide mereka dalam bentuk lisan (oral communication).Hal yang sama sepertinya juga dialami sampaipada tingkat perguruan tinggi meskipun mengambil jurusan Bahasa Inggris. Konsentrasinya rerata menuju kepada pengajaran unsur-unsur Bahasa seperti tata Bahasa itu sendiri/ grammar, phonology (ilmu tentang bunyi), pronunciation (pelafalan bunyi), tanpa ada yang benar-benar memaksimalkan penggunaan waktu di kelas untuk mempraktikkan komunikasi dalam Bahasa Inggris itu sendiri tentunya dengan memasukan unsur-unsur bahasa di atas.

Walhasil, begitu selesai dari bangku sekolah dan kuliah, aturan-aturan berbahasa itu nyaris terlupakan bahkan hilang dari memori apalagi bila tidak pernah dipraktikkan lagi.Point-point yang terpenting sebenarnya adalah penyiapan waktu yang cukup intens dalam jam pembelajaran untuk mempraktekkan komunikasi Bahasa Inggris itu sendiri, aturan tata Bahasa bisa mengikut di belakang yang penting bagaimana menciptkan rasa percaya diri (confidence) dan pemberian motivasi (encouragement) belajar siswa itu dulu.

Kurangnya variasi metode pembelajaran juga sangat berpengaruh pada peningkatan motivasi belajar siswa.Siswa di sekolah merasa bosan dengan bentuk pengajaran tradisional yang hanya menekankanpada grammar, mereka hanya mendengarkan penjelasan guru, setelah itu mengerjakan tugas-tugas individu di kelas dan pulang dengan membawa PR (pekerjaan rumah).Metodenya pun rerata tidak melibatkan siswa untuk bekerjasama dengan siswa lainnya apakah itu berpasangan, berkelompok atau satu kelas.Hal ini menyebabkan siswa tidak mendapat input dari teman lainnya (peer-review).Akibatnya, tidak berkembangnya skill berkomunikasi lisan siswa meski telah belajar bertahun-tahun lamanya.

Hal yang kedua tentang implementasi kurikulum yang belum maksimal.Sebelum berpindah ke topik yang lebih jauh, ada baiknya kita mengetahui definisi kurikulum itu sendiri.Menurut definisi pemerintah RI dalam UUSPN menyebutkan bahwa “kurikulum itumerupakan seperangkat rencana dan pengaturan isi pelajaran, bahan kajian, dan cara penyampaian serta penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman  penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar.

Jika kurikulum itu dihubungkan dengan hal-hal yang berbau praktis-aplikatif maka tendensinya akanberkorelasi dengan usaha-usaha yang diadakan oleh perencana kurikulum (curriculum planner) dalam penyusunan bidang mata pelajaran yang sesuai dengan tingkat pendidikan. Karena jenjang pendidikan selalu berbeda di dalam berbagai konteks, maka dalammenyusun kurikulum harusnya selalu berlandaskan pada  asas-asasyang benar-benar jelas. Setidaknya ada limaasasyang dikemukakan olehBinti Ma’unah yaitu landasan filosofis, landasan sosial budaya, landasan  psikologis, hakikat pengetahuan (Ma’unah, 2005: 5), dan landasan asas organisatoris (Nasution, 1990: 21).

RPP (Rencana Pembuatan Pembelajaran) dan silabuscontoh dari beberapa elemen kurikulum itu sendiri. Mereka lebih banyak yang digunakan untuk melengkapi syarat administrasi guru bila akan menghadapi supervisi dari pengawas.Sudah menjadi tradisi bila kelengkapan administrasi hanya menjadi prasyarat bagi beberapa kalangan guru (meski tidak semuanya) untuk mendapatkan point untuk berbagai kepentingan (kenaikan pangkat, prasyarat untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi (baik yang PNS maupun non-PNS), dsb.

Peningkatan metode pembelajaran itu sendiri termarginalkan khususnya dalam pengajaran Bahasa Inggris. Kebanyakan hanya merampungkan bagaimana RPP dan silabus per satuan mata pelajaran dan per semester bisa terselesaikan sehingga ketika tim supervisi datang urusan supervisibisa agak lancar. Kurang sekali ada yang mau menyinggung penyiapan metoda pengajaran dan penyediaan media pembelajaran yang mendukung kegiatan komunikasi berbahasa Inggris siswa yang maksimaldalam perangkat administrasi guru itu.

Pergantian kurikulum pun kian kerap terjadi seiring bergantinya mentri pendidikan tanpa memperhatikan kondisi siswa yang belum bisa beradaptasi dengan kurikulum yang sedang berjalan.Mulai dari KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran) dan Kurikulum 2013.KBK didefinisikansebagai suatu konsep kurikulum yang berfokus terhadap pengembangan kapabilitasdalam melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan merujuk pada  standar perfoma tertentu (Mulyasa, 2003: 39).

Karakter dari KBK sendiri seperti sistem belajar dengan memakai modul, menggunakan keseluruhan sumber belajar, pengalaman lapangan, strategi individual personal, kemudahan belajar, belajar tuntas (Mulyasa, 2003: 43).Sedangkan KTSP sendiri, menurut SNP pasal 1 ayat 15 (E. Mulyasa mengemukakan bahwa kurikulum operasional itu disusun dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan (Mulyasa, 2006: 19).KTSP ditandai dengan beberapa ciri seperti pemberian otonomi luas kepada satuan pendidikan, partisipasi masyarakat dan orang tua, kepemimpinan yang demokratis dan profesional, serta tim kerja yang kompak dan transparan (Mulyasa, 2006: 29).Sampai pada Kurikulum 2013 yang menawarkan konsep “metakognitif” yakni bagaimana membuat siswa untuk berpikir bagaiamana caranya mereka berpikir (bagaimana caranya mereka mengontrol cara berpikir mereka).

Konsep kurikulum yang mewajibkan kemampuan metakognitif dalam pembelajaran apalagi dalam subjek Bahasa Inggris, seyogyanya jam pelajaran Bahasa Inggris ditambah atau dipertahankan (minimal 4 jam) kok…malah dikurangi menjadi dua jam saja.Pada akhirnya – pengembangan kompetensi Bahasa khususnya keterampilan berbicara (speaking) Bahasa Inggris itu masih belum terlalu signifikan pengembangannya dalam beberapa dekade terakhir ini meski konsep kurikulum itu silih berganti.

Mungkin ada baiknya pengajaran Bahasa (khususnya Bahasa Inggris) itu harus selalu dikontekstualkan sesuai dengan perkembangan zaman. Seperti contohnya pengintegrasiam teknologi ke dalam pembelajaran Bahasa seperti “Flipped Classroom” di mana kegiatan pemberian instruksi tentang apa yang akan dikerjakan di kelas komunikasi Bahasa Inggris lisan (speaking classroom) ada baiknya diadakan diluar kelas (Pra-Tatap Muka) dengan menggunakan perangkat online (email, facebook, Linkedin, dan sosial media lainnya) sehingga kegiatan tatap muka di kelas (In Face-to-face class) khususnya kegiatan speakingnya akan lebih maksimal dan intens.

Bagus pula adanya penyediaan “games” seperti guessing games, miming games, sugestopediayang bisa melibatkan siswa untuk speak-up (bicara lepas tentang apapun ide mereka) tentang sebuah topik lebih banyak dan “grammar”nya dijelaskan pada bagian akhir untuk evaluasi ketimbang membahas “latihan-latihan” tenses dan sederet aturan-aturan Bahasa Inggris untuk persiapan menghadapi “Ujian Nasional” ataukah pengadaan kegiatan “Group Project” dimana guru menugaskan siswa dalam kelompok untuk membuat presentasi tentang materi apapun (digital storytelling) – (story, unforgettable moments/experiences, pemaparan proses tentang pembuatan sesuatu, dll.

Namun mereka sendiri yang mengelola konsep, ide, presentasi visual (gambar, kesesuaian gambar dengan cerita) berkolaborasi, berdiskusi sehingga para siswa-siswa itu sendiri yang menciptakan. membangun, mengembangkan dan mengeksplorasi ilmu itu sendiri sehingga ilmu yang mereka dapatkan akan lebih lama tertanam di memori otak mereka ketimbang transfer ilmu dari guru itu sendiri. Penerapan sugestopedia (metode yang ditemukan oleh George Lozanov)  dalam bentuk role-playing (bermain peran) mungkin bisa menjadi altenatif untuk pengajaran Bahasa Inggris juga.Dalam hal ini, guru hanya memfasilitasi pembelajaran siswa.

Mungkin pengalaman yang di ataslah yang saya dapatkan mulaidari mengajar di tempat kursus, dapat experiences ketika ada teman yang share metode pembelajaran Bahasa Inggris sehabis belajar dari luar negeri yang mengambil jurusan TESOL (Teaching English to the Speakers of Other Language), ikut jadi instruktur jadi-jadian (dadakan) ketika ada English Camps ke sekolah di daerah-daerah  hingga menempuh Pendidikan S1 bahasa Inggris dan akhirnya menempuh Pendidikan S2 di Adelaide (South Australia) yang manamemang “Student-Centred Learning” yang mendorong siswa untuk “engaged/terlibat”, “explore knowledge/ menjelajahi pengetahuan itu sendiri” dan “construct knowledge/ membangun dan mengembangkan pengetahuan itu sendiri”lah yang harus diaplikasikan agar siswa lebih aktif dalam pemerolehan Bahasa itu sendiri khususnya dalam pembelajaran Bahasa Inggris sebagai Bahasa kedua.

Sebagai tambahan, mungkin kurikulum harus difiksasi sesuai kondisi dan dibuat simple agar sesuai dengan kebutuhan guru di lapangan serta bisa difleksibelkan dan bisa diaplikasikan di kelas  Mungkin, ide atau konsep yang disampaikan oleh penulis di atas mungkin masih sangatsubjektif tapi paling tidak mudah-mudahan bisa menjadi referensi kecil untuk satu saran dari ratusan ide agar perkembangan pengajaran dan pembelajaran Bahasa Inggris di negeri kita bisa lebih baik lagi di tengah semakin dekatnya gempuran persaingan global dengan adanya program AFTA (Asean Free Trade Area), ACFTA (Asean-Cina Free Trade Era) dan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) di mana Bahasa Inggris merupakan satu prasyarat untuk berkompetisi dalam memasuki program-program tersebut serta memasuki era digital dan global seperti sekarang ini. ***

AGUPENA.OR.ID merupakan website resmi Agupena yang diluncurkan pada 10 Oktober 2016. Kehadiran website ini diharapkan bisa menjadi pendukung program Agupena di seluruh wilayah tanah air. Website dikelola oleh Sawali Tuhusetya (Bidang Pengembangan Profesi Agupena).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

PAHLAWAN ZAMAN NOW

Oleh Fortin Sri Haryani Pahlawan diartikan sebagai seorang yang telah berjasa, memberikan
Go to Top