1. Di Atas Perahu Kelotok

Rubrik Novelet/Sastra Oleh

Novelet Wayang Kampung Kambang
Oleh Yonas Suharyono

Angin bertiup lembut. Tak mampu menahan laju perahu kelotok yang dipacu anak nelayan. Arus air sangat tenang, bahkan cenderung diam. Seorang anak memegang kemudi di bagian buritan perahu, sementara ayahnya sibuk mengemasi jaring yang mereka tebar pagi tadi. Suara mesin kapal yang berbunyi kelotok-kelotok mengisi sunyi di segara anakan itu.

Mereka adalah anak dan bapak yang sedang mengais rezeki dari air laut yang tak terlalu kaya ikan. Boleh jadi ikan buruan mereka sudah makin langka karena perluasan kilang minyak yang tiap tahunnya bertambah. Atau bisa jadi tumpahan minyak yang setiap saat terjadi telah membunuh ikan-ikan itu. Ekosistem semakin rusak oleh eksplorasi besar-besaran.

Mereka berasal dari dusun Kampung Kambang, perkampungan yang berada di muara Bengawan Donan. Meskipun masuk wilayah kota administratif, namun untuk mejangkau perkampungan itu orang harus menempuh tak kurang satu jam terapung di atas perahu.

“Matikan mesin, Tip!

“Kenapa, Pak?”

Sang ayah tidak menjawab pertanyaan Lantip. Bocah kecil itu sudah tahu jawabnya. Bahan bakar di mesin itu memang sudah berkurang, sedangkan waktu tempuh untuk menjangkau Nusakambangan masih lama. Belum lagi waktu menarik jaring memerlukan waktu lumayan lama.

Mereka diundang memainkan wayang kardus di pulau seberang dalam rangka peringatan hari  kemerdekaan. Warga binaan di Nusakambangan itu sengaja mengundang bapak dan anak itu memainkan wayang kardus. Rupanya kabar tentang dalang anak dan bapak itu sudah tersebar di pulau seberang, sehingga sembari menghibur dan penyuluhan, mereka ingin membuktikan kehebatan anak dan bapak itu memainkan wayang-wayangnya.

Sang bapak beberapa kali melepas ranting-ranting kayu yang tersangkut di jaring. Tak sedikit pun terlihat ekspresi kecewa setiap saat menarik jaring, yang tersangkut bukan ikan melainkan ranting. Bagi orang tua itu, rezeki sudah ada yang mengatur. Jika hari ini perolehan ikan tak sebanyak yang diharapkan, toh nanti malam masih ada rezeki yang bakal diperoleh dari memainkan wayang di pulau seberang.

“Angkat jangkar, Tip! Kita pindah ke tepian. Siapa tahu di sana ada ikan.”

Dengan sigap, anak itu menarik tali sebesar ibu jarinya. Maka terangkatlah sebongkah batu karang sebesar kepala sapi. Mereka menyebutnya jangkar. Ternyata hanya batu karang yang fungsinya pemberat, agar perahu tidak terbawa arus.

“Dayung, Tip!”

Maka meluncurlah perahu itu menuju tepian. Pohon bakau tumbuh subur di antara rimbunan tumbuhan air payau. Di tempat itu agak teduh, namun belum tentu ada gerombolan ikan. Biasanya jenis ikan tertentu memilih perairan yang dalam dan arusnya tenang.

“Kita berteduh dulu, Tip. Kalau sudah sorean kita lanjutkan perjalanan.”

“Bukankah kita sudah ditunggu, Pak?”

“Tenang saja, kita main malam nanti. Sebelum kita naik panggung, mereka akan dibina Pak Polisi dan Pak Bina.”

“Mereka juga orang-orang jahat, Pak?”

“Iya, makanya dibina agar menjadi orang baik.”

Sunyi. Anak itu mereka-reka wajah para warga binaan itu. Lantip pernah melihat wajah orang dengan tangan diborgol digiring masuk dalam kapal ASDP. Tubuhnya kekar penuh tato, mukanya tak bersahabat. Matanya garang, seolah menyimpan dendam dalam.

“Lakon yang akan kita bawakan nanti apa, Pak?”

“Mereka minta lakon Bima Suci, kamu masih hafal bukan?”

“Masih, tapi Bapak ikut main kan?”

“Tentu, bapak di belakangmu, kita bergantian. Kalau adegan perang Lantip yang pegang wayang, kalau sulukan dan janturan, Bapak yang maju.”

“Baiklah, Lantip siap, Pak.”

Matahari sudah condong ke barat, sinarnya tak lagi menyengat. Anak dan bapak mengemasi jaring dan tangkapan ikan. Ada beberapa ekor kerapu kecil, cukup untuk lauk di esok hari. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Novelet

3. Restu Ibu

Novelet: Kado untuk Avira Oleh Sardono Syarief Pulang sekolah, Avira bergegas menemui

3. Bertemu Guru Sejati

Novelet Wayang Kampung Kambang Oleh Yonas Suharyono Malam makin larut. Lantip masih
Go to Top