2. Bima Suci Di Panggung Napi

Rubrik Novelet/Sastra Oleh

Novelet Wayang Kampung Kambang
Oleh Yonas Suharyono

Malam merambat. Rembulan penuh bertengger di pucuk cemara. Angin bertiup lembut membelai pucuk cemara. Sesekali tiupan kencang menerpa daun-daun lidi itu, memunculkan desah panjang. Rimbunan daun terlihat mengilap disiram cahaya bulan purnama. Bintang-bintang bertengger di tempat masing-masing, menyaksikan bulan yang bertahta di kerajaannya. Dan mereka laksana rakyat yang sedang menghadap hadirat sang raja malam.

Nusakambangan terlihat sunyi, meski malam itu akan dihelat pesta menyambut hari kemerdekaan negeri. Pulau ini hanya dihuni beberapa warga penjaga dan pekerja di lembaga pemasyarakatan. Selebihnya adalah para warga binaan yang menghuni lembaga. Mereka dilatih bermasyarakat, bertani, berkebun,  bercocok tanam, latihan kerja industri, dan berbagai keterampilan lain untuk membekali diri ketika sudah diizinkan meninggalkan rumah tahanan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap memperingati hari kemerdekaan selalu ada penghuni rumah tahanan yang dibebaskan atau mendapatkan potongan masa tahanan. Tahun ini sangat istimewa. Mereka yang bebas dan mendapatkan remisi, pemotongan masa tahanan berencana menanggap wayang kulit semalam suntuk. Mereka sepakat mengundang dalang dari Kampung Kambang, yaitu Ki Tejo dan Lantip, anaknya. Dipilihnya dalang cilik dan bapaknya, karena mereka pernah melihat di televisi lokal.

Dan dimulailah pergelaran wayang kulit, setelah beberapa pejabat berpidato. Lantip, si dalang cilik diminta naik ke panggung menerima wayang dari Kepala lembaga pemasyarakatan Nusakambangan. Maka bergemalah bunyi gamelan ditabuh para nayaga. Sinden menimpali dengan kidung yang mendayu-dayu, membawa nuansa magis ke arena pertunjukan.

Lantip menghentakkan kaki pada keprak yang menempel di kotak wayang. Maka berubah gemuruhlah suara gamelan. Di tangan Lantip, kesatria gagah perkasa muncul lebih dahulu. Kesatria itulah Raden Bima, satu dari lima trah Pandawa yang berperawakan besar dan tinggi. Diangkatnya wayang Bima tinggi-tinggi hingga menutup blencong, penyangga lampu. Siluetnya membentuk bayang gelap pada kain tirai. Makin keras gamelan ditabuh, makin semangat Lantip memainkan wayang, bergantian antara kekayon dan Bima.

Ada suara gemuruh menggema di antara gamelan yang ditabuh kuat. Tentu itu efek suara dari perangkat elekton yang dihadirkan sebagai gambaran suara ombak di tengah laut. Tangan Lantip meraih gambar ombak lalu diayun-ayunkan kanan kiri memberikan gambaran samudera luas. Halilintar dan gemuruh ombak berganti-ganti ditimpali hentakan suara drum yang ditabuh kuat.

Sang Bima menjejakkan kaki di atas batu karang sembari mengangkat kedua tangan menantang angkasa raya. Bumi berguncang, ombak bergemuruh bertarung satu sama lain. Langit tersibak warna merah semburat. Tubuh Bima terangkat ke angkasa, membelah langit, sesaat kemudian guntur dan halilintar beradu. Samudera terbelah membentuk cerukan menganga, memutar membentuk pusaran air. Pusaran itulah yang kemudian menelan tubuh Bima. Laut makin bergejolak. Ikan-ikan limbung terbawa kuat arus air laut.

Dari sudut yang lain muncul gelombang lebih dahsyat. Deburnya berbenturan satu sama lain. Buih putih kapas membuncah ke segala arah. Dari pusaran angin muncul sosok mengerikan. Mula-mula tubuh bersisik berwarna emas dan merah menyala. Lama-lama terlihat jelas ekor naga menjulur ke angkasa, menyibakkan ombak. Sirip ekor bercabang bergigi gergaji, tajam mengerikan. Menyepak, menerjang kiri dan kanan. Sesekali tubuhnya menyembul sebesar pohon kelapa tua. Sisik emas dan merah menyala memancarkan cahaya jingga. Pada jurus berikutnya muncul kepala bertanduk ganda, memanjang bagaikan pecut penjalin. Gigi tajam, lidah menjulur, menyemburkan api dan asap hitam. Mata melotot bersinar jalang. Disemburkannya air dari mulutnya, wus…

Rupanya naga itu murka setelah merasakan wilayah kekuasaannya diusik oleh seseorang. Maka dikibas-kibaskannya ekor yang berduri kuat itu. Benar saja, segera naga raksasa menyerang sang Bima. Mula-mula dikitarinya tubuh Bima seraya menyabetkan ekornya ke tubuh kesatria itu. Bima sadar ada yang menyerangnya. Dengan sedikit berkelit kekiri dia hindarkan serangan sang naga. Serangan pertama tidak menemui sasaran.

Merasa serangannya sia-sia, makin murkalah sang naga. Dengan Kaki  cakar dan taji tajamnya, ia mulai membabi buta menyerang sang kesatria. Bima waspada, namun tidak pernah berupaya membalasnya. Ini tentu sesuai dengan ajaran yang dia patuhi. Bima hanya menghindar dengan sesekali merunduk, berkelit, dan mengangkat tubuhnya di arus yang bergolak oleh ulah sang naga.

Menyadari serangannya selalu menemui tempat kosong, naga raksasa semakin kalap. Serangannya semakin dahsyat dengan menguasai arus air. Dikitarinya tubuh kesatria itu dengan tubuhnya yang panjang, kukuh, dan berotot. Kali ini setrateginya berhasil. Dililitnya kuat-kuat tubuh Bima hingga kesatria itu lemas dan sulit bernafas.

Antara hidup dan mati, Bima merasakan bisikan gaib. Ia sadar memiliki senjata pamungkas lain berupa kuku Pancanaka yang tajamnya melebihi gobang, runcingnya melampaui tumbak. Dengan sisa kekuatannya dia matak aji pemberian sang guru, kemudian ditancapkannya kuku seruncing tumbak itu ke pangkal kepala sang naga. Kuku satunya lagi digunakan untuk mencabik-cabik tubuh naga yang melilit tubuh Sena. Darah segar menyembur, membuncah dari tubuh naga raksasa dan mendadak merahlah lautan sekitar mereka. Kibasan ekor dan cakaran kakinya makin mengganas menambah kencang semburan darah naga.

Dalam beberapa saat longgarlah cengkeraman dan lilitan tubuh naga dari tubuh Bima. Kesempatan ini tidak disia-siakan Bima untuk melepaskan diri. Dengan kekuatan penuh dia hantam kepala naga, membantingnya ke dinding karang. Remuklah kepala naga raksasa, dan menemui ajal. Hempasan tubuh naga menimbulkan suara bergemuruh.

Bersamaan dengan itu muncul ikan-ikan besar kecil dari karang-karang persembunyian. Mereka mengitari Sang Bima seraya mengucap terima kasih karena telah terbebas dari rasa takut berkepanjangan. Mereka mengelu-elukan Bima dengan pujian-pujian.

Lantip memberikan isyarat kepada para penabuh gamelan menurunkan tempo permainan. Irama gamelan sedikit melembut, sinden mulai lagi menyenandungkan kidung syahdu. Langit di atas Nusakambangan benderang. Bulan berada pas di atas ubun-ubun. Bunga wijaya kusuma bermekaran di sudut taman dekat arena pergelaran wayang. Saatnya dalang Lantip meneguk teh yang disajikan.

Tepuk tangan hadirin mengakhiri adegan pertama. Para penonton terlihat puas mendapatkan suguhan pergelaran wayang oleh seorang anak. Menurut mereka, sabetan yang dibawakan anak itu cukup menawan, begitu juga antawecananya. Cuma satu yang belum sempurna, yakni sulukan masih terdengar fals. Barangkali karena Lantip, dalang itu belum akil balik sehingga belum mengalami perubahan suara. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Novelet

3. Restu Ibu

Novelet: Kado untuk Avira Oleh Sardono Syarief Pulang sekolah, Avira bergegas menemui

3. Bertemu Guru Sejati

Novelet Wayang Kampung Kambang Oleh Yonas Suharyono Malam makin larut. Lantip masih
Go to Top