Home » Novelet » Sastra » 3. Bertemu Guru Sejati » 230 views

3. Bertemu Guru Sejati

Rubrik Novelet/Sastra Oleh

Novelet Wayang Kampung Kambang
Oleh Yonas Suharyono

Malam makin larut. Lantip masih betah memainkan wayang didampingi sang ayah. Tak tampak kecapaian di wajahnya. Begitu pun para warga binaan yang malam itu diberi kebebasan menikmati suguhan makanan beraneka ragam dan tentu saja sajian wayang kulit. Beginilah kelanjutan cerita yang dibawakan Lantip.

Langit terang, laut tenang. Bangkai naga raksasa sudah lunglai di dasar samudera, terkapar tak berdaya. Ikan dan udang tak tertarik memangsanya. Seorang kesatria tertidur kelelahan. Dialah Bima, yang tetap setia kepada perintah guru, mencari air suci Tirtaprawita. Kepatuhannya itulah yang membawanya ke dasar samudera ini.

Sementara itu di Kadewataan yang bersemayam di langit lapis ke tujuh, Sang Hyang Wenang telah menyaksikan kejadian di Marcapada. Para Dewa tri dasa watak nawa melihat kesungguhan dan keteguhan hati Bima dalam mencari air suci Tirtaprawita. Mereka sangat kagum akan kesetiaan Bima kepada gurunya yakni Druna yang sejatinya hanya ingin menjerumuskannya ke dalam jurang kehancuran. Druna adalah guru sekaligus pendeta yang selalu berpihak pada Korawa dalam perseteruan dengan Pandawa. Dengan kehancuran Bima, diharapkan kekuatan Pandawa makin lemah sehingga mudah bagi Kurawa menguasai tanah Hastinapura yang subur, makmur.

Para dewa tri dasa watak nawa merasa perlu membela yang benar. Tetapi dalam hal ini, dewa tidak boleh terlibat dalam perseteruan. Oleh karena itu dibiarkannya Bima meneruskan perjuangannya dengan bantuan restu dari para dewa.

Dalam termangu, Bima merasa ada sesuatu yang aneh mendekatinya. Gelombang besar tiba-tiba muncul di depannya dengan mengayun-ayunkan sosok mungil bagai bayi di timangan. Sosok itu mengeluarkan cahaya menyilaukan hingga Bima sejenak tertegun. Sosok kecil itu menapakkan kakinya di atas buih dan gelombang tetapi tidak basah oleh air, apalagi terbawa arus gelombang. Jika dibandingkan dengan Bima, maka sosok kecil itu hanya sekepalannya. Namun demikian mempunyai wibawa yang sangat besar.

Tatapan mata sosok kecil itu tajam menghunjam mata Bima, sehingga tertunduklah kesatria itu. Kedua tangannya dijulurkan dengan telapak tangan menghadap ke bawah, seolah memberi isyarat kepada Bima untuk tenang dan diam di tempat. Mendapatkan isyarat seperti itu, Bima langsung duduk bersila dan menyembahnya. Bima yang kesehariannya tidak bisa bertutur halus dan tak bisa duduk bersila, kini menyadari bahwa sosok di hadapannya adalah sosok  yang dikirim oleh dewata dari kahyangan langit ke tujuh.

Benar saja, sosok itu adalah Dewaruci. Wujudnya mirip Bima namun jauh lebih kecil dan kerdil. Dalam segala hal, Bima merasakan adanya kemiripan fisik antara dirinya dengan sang dewa. Mulai bentuk wajah, busana, juga fisik lainnya seperti kuku pancanaka dan mahkota.

Senyap, tak ada desau angin bertiup. Air berhenti bergemericik, ikan-ikan bersembunyi di balik karang. Semua menunggu apa yang akan terjadi antara Dewaruci dan Bima. Bima sabar menunggu.

Dewaruci segera mengangkat kedua tangan, dan dengan suara berat, dia menyapa Bima.

“Wahai, Bima cucuku yang perkasa. Apa yang Engkau cari  di tempat ini? Ketahuilah, ulahmu ini sudah mengganggu ketenangan para Dewata di Kahyangan Suralaya.”

“Waaaa, Seribu ampun Pukulun, Dewaruci. Hamba diperintah Guru Druna supaya mencari Tirtaprawita, yaitu air kehidupan yang bersemayam di dasar samudera. Dari air itu hamba ingin mendapatkan jati diri dan kesempurnaan hidup.”

“Benar, Bima. Di sini Engkau bakal mendapatkan ilmu kesempurnaan hidup, yaitu ilmu kemanunggalan atau kesatuan antara  manusia dan Gusti. Gusti  yang tidak dapat  Engkau amati, Gusti atau Dewata sebagai zat pemberi hidup.

“Pukulun, bagaimana caranya agar Hamba bisa mendapatkan ilmu kesempurnaan hidup?”

“Sudah saatnya Ulun izinkan Engkau mendapatkannya, Bima. Masuklah di telinga Ulun, maka Engkau akan menyaksikan keelokan yang ada dalam tubuh Ulun yang juga bersemayam di dalam tubuhmu.”

“Bagaimana bisa Hamba masuk tubuh Pukulun, sedangkan tubuh hamba jauh lebih besar dari tubuh Pukulun?”

“Tidak ada yang mustahil di jagat ini, Bima. Segeralah angkat tubuhmu dan masuklah di telinga Ulun.”

Kemudian Bima masuk ke telinga kanan Dewaruci. Ajaib, tubuh Bima yang sepuluh kali lebih besar bisa leluasa masuk telinga Dewaruci, serasa memasuki gua yang menganga. Begitu sampai di dalam tubuh Dewaruci, terkesimalah Bima akan pemandangan indah dan mengagumkan. Ada hamparan samudera luas tiada bertepi. Ada sinar kuat namun tidak menyilaukan mata. Pelangi berpendar-pendar bergantian memunculkan tujuh warna.

Dalam terkesima, Bima mendapatkan bisikan dari Dewaruci. Bisikan itu berisi wejangan-wejangan atau ajaran tentang hidup dan kehidupan. Banyak ajaran yang bisa diserap oleh Bima. Di antaranya tentang manunggaling kawula klawan Gusti, bersatunya manusia dengan Tuhannya. Tuhan yang bersemayam dalam batin.

Pada bagian akhir, Dewaruci memberikan wejangan penutupnya tentang penjelasan maksud dari mati dalam hidup, hidup dalam mati. Dewaruci menjelaskan dengan sangat lugas tentang pemahaman tersebut kepada Bima. Setelah wejangan terakhir tersebut, maka sempurnalah sang Bima, dan kembali menuju Amarta dengan raga yang sama tetapi sukma yang berbeda yaitu, sukma yang telah berhasil bersatu dengan Yang Sukma. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Novelet

3. Restu Ibu

Novelet: Kado untuk Avira Oleh Sardono Syarief Pulang sekolah, Avira bergegas menemui
Go to Top