4. Wayang Dari Kampung Kambang

Rubrik Novelet/Sastra Oleh

Novelet Wayang Kampung Kambang
Oleh Yonas Suharyono

Kabar tentang pentas wayang di Nusakambangan  akhirnya terdengar juga oleh pejabat kabupaten. Mereka ingin membuktikan bahwa wilayah terpencil terbelakang itu ada anak yang terampil memainkan wayang. Maka dipanggilnyalah ayah dan anak itu menghadap bupati.

“Sejak kapan bermain wayang?” tanya asisten bupati kepada Lantip.

“Sejak TK sudah main wayang, Pak.”

“Siapa yang melatih main wayang?”

“Ayah…”, kata Lantip sembari memandang ayah yang mendampinginya.

“Bapak juga dalang?” tanya asisten bupati. Kali ini ditujukan kepada Ki Tejo, ayah anak tersebut.

“Saya nelayan, Pak, tetapi mendalang juga bisa. Berharap tambahan rezeki dari memainkan wayang dari kampung ke kampung.”

“Maukah Bapak dan anak mendalang di pendapa kabupaten, minggu depan?”

“Dengan senang hati, Bapak. Tetapi, apakah pantas saya mendalang di pendapa, sedangkan pengalaman kami belum banyak. Lagipula, wayang kami hanyalah wayang kardus buatan saya sendiri.”

Sang asisten bupati mengangguk-anggukkan kepala.

“Saya percaya Bapak bisa melebihi dalang-dalang hebat dari daerah lain. Tentang wayang, akan saya belikan wayang kulit, dan itu hadiah untuk Bapak sebagai rasa terima kasih saya karena Bapak sudah melestarikan seni tradisi bahkan menyiapkan anak sebagai penerus dalang di wilayah kita.”

Maka disepakatilah pentas wayang yang akan digelar di pendapa. Yang paling bangga adalah Lantip. Betapa tidak, anak kecil itu akan memainkan wayang kulit yang sesungguhnya. Kalau selama ini dia hanya memainkan wayang kardus buatan ayahnya, maka kali ini ia akan memainkan wayang kulit yang nilainya sungguh luar biasa. Ya, apalagi tempat pentasnya adalah pendapa kabupaten yang penuh wibawa.

Dan tibalah saat yang ditentukan. Lantip didampingi sang ayah bersama-sama menaiki panggung luas bermandikan lampu. Gangsa, gamelan perunggu warna emas dan berukirkan prada bersinar ditimpa lampu warna warni. Ada tujuh sinden yang akan menghiasi suasana panggung. Dan mereka itu belum pernah dikenal oleh dalang anak dan bapak tersebut. Gema gangsa ditabuh bergemuruh, seolah ombak yang sesekali datang. Ada dinamika, sesekali keras, ada waktunya lembut.

Lantip menghentakkan cempala pada kotak wayang, maka gemuruhlah tepuk tangan hadirin memenuhi pendapa yang agung. Sorot lampu warna-warni menyiram kelir di depan lantip. Bergantian dikibaskan dua kekayon dan bentuk wayang berupa ombak lautan. Kemudian muncul tokoh Bima yang gagah perkasa. Kekayon segera dipinggirkan, dan kini gangsa ditabuh pelan. Seperti pentas sebelumnya, Lantip memainkan tokoh Bima. Kali ini latar kisahnya adalah hutan Tikbrasara.

Bima mendapatkan perintah dari sang Guru Druna, supaya mencari Kayu Gung Susuhing Angin yang bersemayan di kaki gunung Candramuka di tengah hutan Tikbrasara. Sesungguhnya perintah Guru Druna mengandung maksud tersembunyi. Bahwa hutan Tikbrasara adalah salah satu hutan yang sangat ditakuti oleh semua tokoh wayang. Hutan itu dihuni oleh bangsa jin, lelembut, peri prahyangan juga binatang buas yang tak terhitung jumlahnya. Siapa pun yang masuk hutan itu dipastikan tidak akan pernah kembali karena sudah dimangsa binatang buas seperti singa, harimau, bahkan naga.

Namun bukan Bima jika menyerah sebelum berjuang. Dibabatnya pohon-pohon penghalang langkahnya. Duri dan onak diterabas. Dan benar, di dalam hutan sudah menunggu dua raksasa yang tubuhnya dua kali lebih besar dari Bima. Rambutnya api, taring mencuat melewati bibir, mata melotot berwarna merah. Keduanya terlihat sedang kepalaran. Makanya begitu melihat Bima, nafsu makan keduanya menggelegak. Mereka adalah Rukmuka dan Rukmakala.

Tak menunggu lama, kedua raksasa menyergap Bima. Namun sergapanya meleset menemui ruang kosong karena Bima cepat menghindar. Makin buas serangan dua raksasa itu, makin kewalahan Bima menghidar. Angin bertiup kencang, membantu Bima mengambil jarak. Rukmuka dapat ditangkap dan dibanting, namun Rukmakala segera membantu. Setiap satu raksasa dapat ditangkap, satunya membantu sehingga membuat Bima keteteran. Beruntung Bima segera ingat pesan san guru. Ditangkapnya kepala Rukmuka dengan tangan kanan, dan Rukmakala dengan tangan kiri. Kepala kedua raksasa itu diadu dan dibenturkan ke dinding batu. Ajaib, tubuh kedua raksasa bukannya hancur, melainkan hilang meninggalkan kepulan asap putih kapas.

Dari kepulan asap tersebut kemudian samar-samar muncul dua sosok menakjubkan. Mukanya bercahaya dan busananya menandakan bahwa mereka adalah dewata. Benar, mereka adalah Batara Indra dan Batara Bayu. Mereka diutus oleh Batara Guru untuk menyampaikan wahyu kepada kesatria yang taat akan perinta guru. Wahyu itu berupa cincin yang dinamakan sesotya mustika manik candramana. Kelak cincin ini akan dapat membantu Bima apabila mendapatkan kesulitan.

Bima sudah melakukan semua perintah guru dengan sungguh-sungguh dan penuh keyakinan. Oleh karena itu pantaslah jika Bima mendapatkannya. Sedangkan wujud kayu gung susuhing angin hanyalah semu. Makna sebenarna, kayu adalah niat suci, gung beratri besar, susuh bermakna sarang, dan angin bermakna nafas. Jika digabung kata-kata itu bermakna niat suci yang besar akan terlaksana jika disertai dengan pengaturan nafas.

***

Lantip membalikkan badan seusai membawakan satu episode Bima Suci. Gemuruh tepuk tangan dan acungan jempol dari para hadirin membuat anak kecil itu tersipu. Dia memandang wajah ayahnya yang setia mendampingi, membantu menyiapkan wayang. Bapak dan anak merasa bangga sudah berhasil menyuguhkan pertunjukan wayang di depan para pejabat kabupaten. Maka keduanya menundukkan kepala kepada hadirin dan disambut tepuk tangan bergemuruh memenuhi pendapa agung. Kini Lantip mendapatkan hadiah dari bupati berupa satu kotak wayang kulit, sedangkan wayang kardus dari Kampung Kambang akan tetap disimpan menjadi sebuah kenangan. *** (Tamat)

===========

Glosarium:
Sulukan: syair yang ditembangkan oleh dalang : pembawa cerita
Janturan: kisahan tentang suatu kerajaan  pada pewayangan
nayaga: penabuh gamelan
keprak: lempengan besi pada kotak  wayang berfungsi untuk memberi aba-aba nayaga
trah: keturunan
blencong: wadah lampu untuk menerangi  kelir/tirai
kekayon/gunungan: jenis wayang berupa tumbuhan  dan binatang
pancanaka: kuku ibu jari yang panjang merupakan pusaka milik  Bima,     Hanuman, dan Dewaruci
matak aji: mengeluarkan aji/kesaktian
sabetan: cara memainkan wayang dengan tangan dalang
antawecananya: cara memainkan percakan antarwayang
kadewataan: tempat para dewa
marcapada: bumi, tempat penghuni
tri dasa watak nawa: tigapuluh dewa berwatak sembilan
kahyangan: tempat pada dewa
pukulun: sapaan untuk para dewa
ulun: sapaan untuk diri para dewa
wejangan: ajaran
gangsa: gamelan
prada: emas

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Novelet

3. Restu Ibu

Novelet: Kado untuk Avira Oleh Sardono Syarief Pulang sekolah, Avira bergegas menemui

3. Bertemu Guru Sejati

Novelet Wayang Kampung Kambang Oleh Yonas Suharyono Malam makin larut. Lantip masih
Go to Top