Home » Novelet » Sastra » 3. Restu Ibu » 230 views

3. Restu Ibu

Rubrik Novelet/Sastra Oleh

Novelet: Kado untuk Avira
Oleh Sardono Syarief

Pulang sekolah, Avira bergegas menemui ibunya. Saat itu ibu Avira sedang menyiapkan makan siang di ruang tengah.

“Selamat siang, Bu!”salam Avira pada ibunya.

“Siang,”sahut Bu Atin, ibu Avira. “Sudah pulang, Nak?”

“Sudah, Bu.”

“Ya, sudah. Sana ganti pakaian! Cuci tangan dan kaki! Lalu makan bersama Ibu.”

“Baik, Bu.”

Avira berlalu ke kamar mandi.

Setelah semua perintah ibunya dipenuhi, anak bungsu itu pun menghadap ibunya kembali.

“Sudah siap makanannya, Bu?”

“Sudah. Mari, makan bersama!”

“Mari, Bu,”jawab Avira setuju. Anak berambut sebahu itu segera meraih piring dan sendok. Disendoknya dua tiga pucuk centong nasi dari wadahnya. Diambilnya sekerat daging sapi. Dicampurnya pula dengan sayur sop dan sedikit sambal. Makanlah ia  dengan lahap. Demikian juga ibunya.

“Maaf, Bu,”kata gadis kecil itu di sela-sela makannya.

“Ya. Ada apa, Avira?”lurus-lurus mata ibu memandangi anaknya dengan penuh tanda tanya.

“Bolehkah Vira mengutarakan sesuatu, Bu?”

“Boleh. Silakan!”

“Vira ingin berlatih permainan anak tradisional, Bu.”

“Maksudmu?”

“Vira ingin belajar bermain jamuran. Permainan zaman kuno yang ada di Jawa Tengah ini, Bu.”

Bu Atin mengernyitkan kening,“Tak salahkah rencanamu itu, Vira?”

“Maksud, Ibu?”

“Di zaman modern seperti sekarang ini,”ujar ibu muda itu. “Pada saat semua permainan serba maju. Serba canggih. Serba teknologi. Mengapa justru kau akan  belajar jenis permainan lama? Permainan kuno yang sudah ketinggalan zaman? Apakah kau tidak malu pada teman-temanmu, Vira?”

“Mengapa harus malu, Bu?”sahut Avira datar. “Justru Vira sangat senang jika bisa mempraktikkan paling sedikit satu jenis permainan anak tradisional tadi, Bu.”

“Senangmu di mana, Vira?”

Avira tersenyum. “Dengan menguasai jamuran, misalnya, Bu,”jawab anak itu.  “Avira akan merasa senang. Karena telah turut melestarikan satu jenis permainan tradisional. Permainan lokal Jawa Tengah yang tak boleh hilang dari bumi Indonesia, Bu.”

“Apakah kau tak salah pikir? Bagaimana jika permainan kuno itu akhirnya lenyap ditelan zaman, Vira?”

“Tidak, Bu,”sahut Avira yakin. “Boleh saja kita tertarik pada permainan masa kini,”sambung anak cantik itu. “Tapi permainan tradisional pun harus kita kuasai. Agar tetap lestari. Agar tidak dilupakan oleh generasi muda zaman sekarang, Bu.”

“Memangnya kenapa?”

“Jika jenis permainan kuno seperti jamuran, engklek, gobak sodor, dan lain sebagainya bisa kita lestarikan,”jawab Avira. “Berarti jumlah kekayaan budaya bangsa Indonesia pun makin bertambah banyak, Bu.”

“Apa kau yakin ada temanmu yang berminat belajar permainan anak tradisional itu, Vira?”

“Yakinlah, Bu,”jawab Avira tegas. “Bahkan tadi di sekolah, Vira dan teman-teman telah sepakat hendak latihan bersama, kok.”

“Kapan kau akan berlatih? Kepada siapa kau akan berguru?”

“Hari Minggu besok, Bu. Vira dan teman-teman akan berguru kepada Pak Ardhana, guru kelas Avira,”jawab Avira.

Bu Atin diam.

“Bagaimana, Bu? Setujukah Ibu jika Vira turut berlatih?”

“Ibu ingin tahu dulu. Untuk keperluan apa kau berlatih permainan itu, Vira?”

“Untuk ikut pentas festival permainan anak tradisional tingkat kabupaten, Bu.”

“Kapankah itu?”

“Setengah bulan mendatang.”

Bu Atin tidak langsung menjawab. Namun tak lebih dari sepuluh detik antaranya, mengangguklah ia.

“Ibu setuju?”Avira erat-erat merangkul pundak ibunya dengan hati gembira.

Bu Atin mengangguk mantap. *** (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Novelet

3. Bertemu Guru Sejati

Novelet Wayang Kampung Kambang Oleh Yonas Suharyono Malam makin larut. Lantip masih
Go to Top