TENTANG FILM DOKUMENTER: “BANDA: THE DARK FORGOTTEN TRAIL”

Rubrik Opini Oleh

Oleh: Salamudin Uwar, S.Pd. M.Pd.
(Guru SMP 3 Kei Kecil Barat, Maluku Tenggara, Ketua Bidang Internal AGUPENA Maluku)

Memulai tulisan ini, saya sebagai salah satu generasi Wandan (Banda Ely dan Banda Elat) merasa terpanggil untuk sedikit memberikan pikiran saya tentang film dokumenter yang disutradarai oleh Jay Subiyakto tersebut. Sebelum Film dokumenter ini dirilis sudah banyak menuai kontraversi. Penyebabnya adalah dalam wawancara di sebuah media online, Jay Subiyakto menyatakan bahwa saat ini jika berkunjung ke Banda, maka tidak bisa bertemu satu pun orang asli Banda karena sudah dibantai. Menurutnya pula, penduduk asli Banda hilang tak tersisa akibat genosida yang terjadi pada April 1621 silam. Pernyataan Jay Subiyakto itu, kontan saja menuai reaksi keras dan seruan untuk memboikot film dokumenter tersebut. Reaksi keras dan seruan pemboikotan film dokumenter tersebut disuarakan oleh generasi asli Banda melalui berbagai media sosial.

Saya sangat memahami berbagai ragam reaksi yang diperlihatkan oleh generasi Wandan akibat pernyataan tersebut, akan tetapi saya mencoba melihatnya dalam perspektif yang berbeda. Bahwa benar pernah terjadi genosida yang dimotori oleh Jan Pieterszoon Coen terhadap penduduk asli Banda pada tahun 1621, namun tidak semua penduduk asli Banda menjadi korban kebiadaban Jan Pieterszoon Coen, karena sebagian dari mereka berhasil menyelamatkan diri dan akidahnya ke berbagai wilayah di Nusantara, termasuk di Kepulauan Kei hingga kini. Hal ini sekaligus membantah pernyataan sutradara, narasumber, atau siapapun yang meyakini bahwa penduduk asli Banda telah musnah hingga kini akibat peristiwa genosida tersebut.

Dalam pemahaman saya, Film dokumenter adalah film yang proses pembuatannya berdasarkan fakta-fakta atau peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya dan diangkat kembali dalam bentuk sebuah film. Dalam kasus ini, saya melihat penulis naskah, produser, dan sutradara serta siapa saja yang terlibat dalam penggarapan film dokumenter ini menyampingkan keberadaan penduduk asli Banda yang hingga kini masih hidup dengan segala kearifan lokalnya. Ini bukan tentang persoalan siapa penduduk asli Banda atau bukan, seperti pernyataan sang penulis naskah Irfan Ramli di laman facebooknya. Tapi ini tentang eksistensi sebuah etnik, ini tentang kebenaran sejarah, dan lebih dari itu, ini tentang harga diri penduduk asli yang katanya telah dibantai habis itu.

Masih tentang pernyataan Irfan Ramli, tentang Sejarah rempah dan kepulauan Banda adalah milik semua orang bahkan dunia. Sangatlah benar pernyataan demikian, tetapi sejarah rempah dan Kepulauan Banda yang menjadi milik siapa saja itu, tidak lantas menyingkirkan peran penduduk asli Banda sebagai pemilik sah atas rempah dan kepulauan Banda. Sejarah rempah dan kepulauan Banda tidak akan dikenal oleh dunia dan siapa saja termasuk Irfan Ramli jika menafikan eksistensi dan peran penduduk asli Banda dalam sejarah perdagangan rempah. Pertanyaannya adalah, Apakah Irfan Ramli sebagai penulis naskah yang telah menghabiskan waktunya untuk meneliti demi penggarapan film dokumenter tersebut telah memberikan ruang pada penduduk asli Banda untuk menuturkan sejarah rempah dan Kepulauan Banda dalam perspektif mereka atau tidak? Jikalau penduduk asli Banda tidak diberikan ruang, maka sama halnya Irfan Ramli membenarkan pernyataan sutradara yang menggarap film dokumenter tersebut.

Menurut hemat saya, apapun alasan yang melatari sehingga tidak dilibatkannya penduduk asli Banda dalam penggarapan film dokumenter ini, sama halnya menafikan eksistensi sebuah etnik yang sampai saat ini masih bertahan hidup dengan segala bentuk kearifan lokalnya, walaupun sempat menjadi korban kekejaman serta keserahkan sebuah koloni perdagangan yang bernama Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) di bawa pimpinan Jan Pieterszoon Coen. Upaya “genosida” ini bukan hanya pernah dilakukan oleh Jan Pieterszoon Coen, namun kini upaya semacam ini juga pernah dilakukan oleh beberapa orang sejarahwan yang mengklaim diri sebagai pewaris budaya Banda dengan memutarbalikan fakta sejarah dengan tidak mengakui eksistensi orang asli Banda yang kini bermukim di luar Kepulauan Banda.

Namun terlepas dari kontarversi film dokumenter tersebut, saya mengapresiasi keberanian Irfan Ramli untuk menulis naskah film dokumenter itu. Betapa tidak, saya sebagai salah satu generasi Wandan tidak memiliki nyali yang cukup untuk menulis tentang sejarah Banda dalam perspektif penduduk asli Banda, ini bukan berarti saya mengidap penyakit semacam graphopphobia, akan tetapi sejarah Banda dalam kacamata penduduk asli sangat berat untuk ditulis. Banyak hal yang membuat sejarah Banda versi penduduk asli sulit untuk ditulis, salah satunya dikarenakan hampir semua sumbernya berasal dari sejarah narasi (oral history) atau onotan dalam bahasa Wandan yang dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi dengan perspektif yang berbeda oleh setiap marga. Belum lagi, akses untuk mendapatkan sumber informasi sejarah sering kali terhalang oleh ketidakterusterangan narasumber dalam menuturkan sejarah, karena menganggap tabu untuk diceritakan. Kendala-kendala semacam ini yang sering kali saya temui ketika saya berusaha untuk menulis tentang sejarah Banda dalam perspektif penduduk asli Banda. Hingga detik ini, saya baru berani menulis sebuah tulisan tentang budaya Banda untuk dijadikan sebagai sebuah buku atas kerjasamaAsosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) dengan Kementerian PPPA. Selain itu, saya juga mencoba menggarap sebuah novel sejarah tentang Banda dalam perspektif penduduk asli, namun kembali saya menyerah karena kesulitan untuk mendapatkan sumber informasi yang valid.

Di sisi lain, saya miris melihat generasi Wandan yang saat ini cenderung reaksioner dalam merespon berbagai persoalan yang terkait dengan sejarah Banda. Mereka (termasuk saya) cenderung bereaksi terhadap hasil karya orang lain yang belum tentu mereka mampu membuat karya yang sama. Mereka sendiri tidak peduli dengan sejarahnya, dan terkesan membiarkan sejarahnya ditulis oleh orang lain, dan pada akhirnya sejarah yang ditulis tidak sesuai dengan pengetahuan sejarah mereka, maka yang dilakukan hanyalah sekadar membuat gaduh dan setelah itu kembali berdiam diri tanpa berusaha untuk berdiskusi, mengkaji, dan menulis sejarah ataukah bahkan membuat sebuah film dokumenter sebagai bahan rujukan atau bahan pembanding. Semua ini menunjukan bahwa kita miskin gagasan dan tidak peduli atas sejarah yang kita miliki, kita hanya menjadi penikmat dari karya orang lain atas sejarah kita sendiri.

Pada akhirnya, situasi ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih mengedepankan akal sehat dalam menyikapi segala persoalan termasuk penulis naskah, narasumber, sutradara, produser film dokumenter Banda: The Dark Forgotten Trail, dan semua generasi Wandan di mana pun berada. Dan terakhir, khusus untuk generasi muda Wandan, leluhur kita telah menorehkan sejarahnya, kini tugas kita adalah meluruskan sejarah yang pernah ditorehkan itu, walapun dalam perjalanannya sejarah Banda seringkali diputarbalikkan dan sengaja dikaburkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan sesaat mereka. Tugas kita saat ini dan kedepannya adalah menulis tentang kebenaran sejarah Banda sehingga kita tidak lagi menjadi penikmat dari hasil karya orang lain atas sejarah kita sendiri. Semoga. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Keluargaku Surgaku

Seorang ahli kungfu sedang asyik menari di lantai dansa bersama istrinya. Ia

Sayang dia, Cinta dia

Hampir pecah tangisku menyaksikan peristiwa itu. Seorang suami mencekik, menampar dan menendang

Tegar

Oleh: La Ode Mu’jizat Perlu kekuatan hati yang berlebih ketika ujian atau
Go to Top