4. Latihan di Hari Pertama

Rubrik Novelet/Sastra Oleh

Novelet: Kado untuk Avira
Oleh Sardono Syarief

Minggu pagi tiba. Dari balik jendela kamar, matahari mengintai  Avira dengan sinarnya yang hangat. Terlihat di kaca almari, Avira sedang berdandan diri. Tampak cantik sekali paras anak itu.

“Bu, Avira berangkat latihan dulu, ya!”pamit gadis kecil tadi begitu keluar dari kamarnya.

“Nanti! Sarapan dulu!”cegah ibunya seraya menyiapkan makan pagi di ruang tengah.

“Ayah mana, Vira?”tanya ibu sambil menaruh piring di atas meja. “Ajak Ayah sarapan bersama!”

“Baik, Bu,”Avira mencari keberadaan ayah.

“Yah. Ayo, sarapan dulu!”ajak Avira begitu mendapatkan ayah di belakang rumah.

“Sebentar! Ayah cuci tangan dulu.”

Setelah ayah datang. Avira, ibu, dan ayah sarapan pagi bersama.

“Ayah,”ucap Avira sambil mengunyah makannya.

“Ya. Ada apa, Vira?”Pak Yudi, ayah Avira, berpaling ke arah anaknya.

“Vira minta izin untuk latihan bermain jamuran di sekolah, ya, Yah?”

“Memangnya untuk apa, Vira?”

“Untuk ikut festival permainan anak tradisional tingkat kabupaten, dua minggu lagi, Yah.”

“Berapa temanmu yang ikut?”

“30 anak, Yah.”

Untuk sesaat Pak Yudi diam, mengolah pikir.

“Bagaimana, Yah? Ayah mengizinkan tidak?”

“Karena untuk kepentingan sekolah,  Ayah mengizinkanmu, Vira,”begitu Pak Yudi menjawab.

“Terima kasih, Yah. Ayah baik sekali pada Avira,”seru anak itu senang sekali.

Ayah dan ibu anak itu saling tersenyum.

Setelah selesai sarapan.

“Yah, Bu, Vira berangkat latihan dulu, ya!”

Kedua orang tua Avira mengangguk-angguk. Dilepasnya anak lincah itu sampai di ujung halaman.

Setiba di sekolah ternyata sudah banyak teman yang datang. Pak Guru Ardhana pun sudah hadir di sana.

“Anak-anak! Ayo, masuk ke ruang perpustakaan! Latihan akan segera Pak Guru mulai.”

“Baik, Pak,”anak-anak memenuhi ajakan Pak Ardhana.

Setelah semuanya kumpul. Bertanyalah Pak Guru,”Sudah siapkah kalian untuk berlatih, Anak-anak?”

“Sudah, Pak.”

“Kalau begitu,”sahut Pak Ardhana. “Senyampang masih pagi. Mari, latihan kita mulai!”

“Mari, Pak, mari….!”

Semua anak kini berada di tengah halaman. Pak Ardhana menunjuk Avira, Dhestya, dan Halintar untuk menjadi ketua regu. Ketua regu putri I, Avira. Ketua regu putri II, Dhestya. Sedangkan ketua regu putra, Halintar.

Pak Ardhana juga membagi giliran latihan. Giliran pertama, regu putri I. Regu ini mendapat latihan bermain jamuran. Giliran kedua, regu putri II. Regu ini diberi latihan bermain engklek. Sedangkan giliran ketiga, regu putra. Regu ini mendapat latihan bermain gobak sodor.

Kini latihan pun berlangsung. Suasana halaman sekolah terlihat ramai. Tak lain dikarenakan adanya latihan permainan anak tradisional oleh Avira, Dhestya, Halintar, dan kawan-kawan.

Selang tiga jam dari itu,“Anak-anak….! Kalian kumpul kemari!”seru Pak Ardhana seraya berteduh di teras kelas 6.

Anak-anak segera merapat. “Latihan hari ini Pak Guru rasa sudah cukup. Pak Guru lihat kalian sudah lumayan baik. Untuk latihan besok, Pak Guru harap kalian bisa lebih baik dari hari ini.  Hari Minggu depan kalian harus sudah mahir. Harus sudah siap untuk berlaga di tempat festival. Bagaimana?”

“Siap, Pak! Kami semua siap,”dengan suara mantap anak-anak meyakinkan Pak Ardhana.

“Terima kasih. Mudah-mudahan usaha kalian untuk menang bisa jadi kenyataan.”

“Amin, Pak, amin…!”sahut anak-anak ramai. (Bersambung) ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Novelet

3. Restu Ibu

Novelet: Kado untuk Avira Oleh Sardono Syarief Pulang sekolah, Avira bergegas menemui

3. Bertemu Guru Sejati

Novelet Wayang Kampung Kambang Oleh Yonas Suharyono Malam makin larut. Lantip masih
Go to Top