Home » Literasi » Tentang Waktu Menulis » 217 views

Tentang Waktu Menulis

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & AGUPENA Papua Barat

Jawaban dari seluruh pertanyaan tentang bagaimana cara menulis hanyalah soal waktu saja. Karena sifatnya yang individual, maka menemukan waktu untuk menulis merupakan seni yang hanya bisa ditemukan secara pribadi. Setiap orang akan memiliki waktu yang berbeda dalam menulis.

Walaupun tidak sama persis, ada sedikit kesamaan antara menulis dengan kontemplasi. Terlalu jauh kalau saya menamakannya dengan proses uzlah seperti di awal kenabian Rasulullah SAW. Keduanya memerlukan konsetrasi pada waktu yang khas. Sehingga tak ada hal yang utama kecuali dengan mengalokasikan waktu secara khusus dalam proses penulisan.

Bagi seorang petualang, perjalanan adalah sarana untuk menemukan inspirasi dalam menulis. Karenanya, ide dan gemuruh maklumat akan melimpah ruah ketika melangkahkan kaki. Sementara bagi seseorang yang mencintai keheningan dan kehangatan rumah, saat berada di rumah pribadi justru menjadi awal dari lahirnya ide untuk terus menulis.

Hanya saja, perbedaan individual itulah yang kemudian perlu ditemukan masing-masing individu yang berkeinginan untuk menulis. Tidak ada waktu yang tepat bagj semua orang. Menemukannya, justru perlu “pencarian spiritual” yang memungkinkan mengenali potensi pribadi untuk mengungkapkannya pada waktu yang tepat.

Saat menulis, akan menjadi kontemplasi penulis dengan tulisan. Sehingga hubungan yang intim ini kemudian tidak dapat ditiru oleh orang lain. Demikian pula soal waktu, setiap orang juga punya agenda yang berbeda. Sehingga mengenali peluang-peluang menulis, hanya dapat dikenali oleh masing-masing penulis.

Dalam budaya patriarkal ketika perempuan memiliki peran ganda, maka seorang penulis perempuan justru punya energi yang berlipat ganda. Tidak hanya merampungkan beban domestik, tetapi juga menemukan waktu ideal bagi dirinya untuk menumpahkan ide dalam menulis. Namun demikian, keterampilan menemukan waktu yang tepat bagi seorang perempuan kadang lebih mudah berbanding lelaki yang dimanjakan oleh budaya. Keduanya tetap saja dibebani dengan agenda untuk mendapatkan masa yang paling tepat bagi dirinya dalam menulis.

Hal lain yang juga terikat dengan soal waktu adalah kesediaan untuk merevisi dan menyunting tulisan. Saat menulis, bisa saja langsung selesai. Akan tetapi, sebelum publikasi diperlukan proses penyuntingan dan juga revisi sesuai dengan saran para mitra bestari. Proses inilah yang perlu kesabaran dan konsistensi sehingga tulisan akan sampai pada garis akhir, terpublikasi.

Soal waktu, tak ada yang rahasia. Demikian pula dalam hal jatah. Juga tidak ada perbedaan. Semua makhluk memiliki jatah yang sama. Tak ada perbedaan dalam sedetikpun. Hanya saja, waktu bisa menjadi begitu relatif. Ada perasaan lama dan singkat dalam persepsi yang berbeda bagi masing-masing makhluk. Maka, selain agenda untuk menemukan waktu yang tepat juga berkaitan dengan berusaha merangkai persepsi tentang lama atau singkatnya waktu yang digunakan. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top