Ketika Menulis Menjadi Beban

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Apapun yang dikerjakan dengan senang hati tentu akan membawa kegembiraan tersendiri. Sebaliknya, jika disertai dengan tuntutan di luar dari aktivitas itu sendiri, akan menjadi beban yang justru tidak membawa kesenangan apapun.

Begitu pula dengan menulis. Jikalau dianggap sebagai beban dan hanya sekadar sebagai usaha untuk menyelesaikan tugas ataupun kewajiban, lagi-lagi menulis sekadar hanya untuk tujuan itu. Akhirnya tidak berdampak lebih pada hal lain.

Olehnya, menulis perlu dijadikan sebagai sesuatu yang lain. Pilihannya, bisa saja menulis menjadi sarana kontemplasi, atau bahkan menulis dijadikan sebagai sarana terapi. Lebih dari itu, menulis bisa juga menjadi bagian dari ibadah ketika tulisan yang dihasilkan menjadi pendorong bagi amal sholeh. Kesemuanya, akan menjadi tujuan akhir yang tidak berkaitan dengan materi.

Jikalau menulis hanyalah pada soal materi, pangkat, promosi jabatan, dan tugas, akhirnya saat tujuan itu tercapai maka proses menulis akan berhenti begitu saja. Mungkin ini menjadi penjelasan sehingga seorang yang pada pangkat lebih rendah secara aktif menulis. Namun, saat mencapai pangkat tertinggi akhirnya berhenti. Mungkin saja karena menulis semata-mata berurusan dengan kepangkatan.

Menulis bahkan bisa menjadi instrumen umur panjang. Bukan dalam arti harfiah tetapi bahkan ketika jasad penulis tidak berada lagi di bumi, tetap saja karya yang dihasilkannya akan ditemukan orang lain. Sebagaimana para penulis terdahulu, masyarakat sekarang tidak ada yang pernah menemui Alghazali, Plato, Socrates, Imam Syafi’i. Akan tetapi melalui karya-karyanya tetap dikenal, dibicarakan, dan juga dirujuk.

Ini bisa saja berarti umur bukan saja berarti biologis tetapi juga berkaitan dengan sosiologis. Sehingga saat badan sudah berkalang tanah sekalipun, nama seorang penulis tetap hidup bagi pembacanya. Jikalau ini bisa dijadikan satu sandaran, keinginan untuk hidup lebih lama dapat diwujudkan. Salah satu cita-cita manusia secara umum dan senantiasa diulangi dalam lafadz perayaan ulang tahun berkaitan dengan panjang umur.

Akhirnya, menulis dapat saja dijadikan sebagai aktivitas rutin yang tidak membebani. Ketika itu dapat dicapai, menulis justru menjadi sarana ekspresi diri yang tidak terbatas pada soal-soal kebendaan semata. Melampaui semuanya akan memberikan dampak yang tidak terkira. Bahkan akan menjadi bagian diluar urusan menulis itu sendiri. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top