Selagi Mahasiswa, Tulislah Minimal 1 Buku

Rubrik Literasi Oleh

Oleh Yanuardi Syukur

Kesadaran saya akan pentingnya menulis agak terlambat: saat menginjak tahun kedua kuliah sarjana. Ketika itu saya lihat banyak senior yang tulisannya dimuat di berbagai media dan itu menjadi salah satu prestasi yang membanggakan.

Pertemuan tim editor buku Mosaik Kemanusiaan dengan Prof Achmad Fedyani Saifuddin

Ketika sadar, saya pun belajar menulis mulai dari mading hingga di koran dan jurnal lokal. Saat itu, saya berusaha terus dan meminta beberapa teman untuk membaca dan koreksi. Walhasil, walau belum terlalu bagus, tapi hasil tulisanku dimuat di beberapa media.

Selagi mahasiswa baiknya kita menulis. Entah mahasiswa tingkat sarjana atau pascasarjana. Ketika sarjana, saya menulis satu buku yang cukup singkat–enam hari–tapi berkesan, berjudul “Menemani Bidadari: Suara Hati Seorang Mahasiswa” yang sempat dibedah di delapan kesempatan mulai dari pelataran kampus, radio hingga gedung pertemuan ilmiah.

Ketika saya mahasiswa master, saya juga menulis buku. Buku tersebut dibuat di warnet di Kramat Sentiong. Dua minggu waktu yang singkat sebagai deadline. Selesai, dan diedit lagi dua minggu kemudian. Praktis, satu bulan saya selesaikan buku yang berjudul “Facebook Sebelah Surga Sebelah Neraka.”

Kini saat jadi mahasiswa doktoral, saya juga terus menulis. Hingga tahun kedua ini saya telah menulis lebih dari 3 naskah buku, dan kini sementara bersama beberapa teman menyusun buku hasil ulasan etnografi. Dua puluh orang teman ikut dalam proyek buku “Mosaik Kemanusiaan” yang rencana akan diterbitkan oleh Pusat Kajian Antropologi FISIP UI.

Menulis itu mudah, tapi tidak selalu mudah. Adakalanya susah, apalagi jika topiknya kita kurang minati, atau malas karena berbagai kesibukan. Tapi, jika tidak bisa menulis sendirian, kita bisa menulis bareng-bareng. Nulis antologi. Kadang, kalau tulisan kita dimuat bersama teman lain kita jadi semangat dan termotivasi untuk menulis lagi.

Untuk mereka yang masih kuliah luangkanlah waktu untuk tulis buku. Usahakan tulis sendirian. Jika tidak bisa, tulislah bersama-sama.

Ukirlah satu kenangan terindah saat jadi mahasiswa dengan buku. Ya, minimal satu buku sendiri, atau satu buku antologi. ***

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top