Pendidikan (yang) Memerdekakan

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh Edi Sugianto
(Esais, Penyair, dan Pendidik Penulis Buku “Menyalakan Api Pendidikan Karakter”)

“Anak-anak harus dididik, tetapi mereka juga harus dibiarkan untuk mendidik diri mereka sendiri.”
–Ernest Dimnet, Pendeta Prancis, 1866-1954.

Akhir-akhir ini, Full Day School (FDS), terus menjadi perbincangan hangat di dunia penddikan, setelah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Prof. Muhadjir Effendy menyampaikan gagasan, dan kebijakannya. Ada yang setuju, dan ada yang menolak, merupakan konsekuensi logis dari regulasi baru.

Menurut hemat saya, ada yang lebih penting daripada sekadar memperdebatkan FDS tersebut, yaitu masalah “sistem pendidikan yang memerdekakan”. Sistem pendidikan kita belum memberikan kebebasan (kemerdekaaan) pada setiap individu. Bahkan, menurut pengusaha ‘nyentrik’ Bob Sadino, pendidikan terbaik bukan di sekolah (formal),  melainkan di ‘jalanan’, yang memberi ‘kebebasan’ seluas-luasnya kepada anak-anak untuk mengeksplorasi potensi diri.

Ironis, melihat sistem pendidikan kita saat ini. Anak didik dipaksa untuk menguasai seluruh mata pelajaran. Semua harus mencapai target KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal), yang ditentukan masing-masing guru mata pelajaran.

Setiap hari murid-murid dijejali dengan Lembar Kerja Siswa (LKS), kurang lebih tiga atau empat LKS. Bahkan, tanpa ada koordinasi antara guru yang satu dengan lainnya. Alhasil, mereka mengerjakan setengah hati, syukur-syukur tak depresi dini, karena saking banyak mata pelajaran dan tugas yang diterima. Belum lagi kegiatan ‘menghafal’ jawaban UN (Ujian Nasional).

Memang disadari atau tidak, pendidikan kita cenderung ‘memaksakan’ kehendak, sekolah layaknya ‘monster’ menakutkan bagi anak-anak. Itu terjadi, karena sistem pendidikan di negeri ini terbentuk dari nalar kuasa, bukan nalar budaya.

Meskipun bangsa ini sudah lama merdeka (72 tahun), namun akibat salah asuh pendidikan, yang terjadi sekolah tak lebih sekadar pelatihan menjadi bodoh (stupidifikasi). Mengejar formalitas, tapi mengabaikan orisinalitas, dan mengubur kreativitas.

Pendidikan yang memenjara kebebasan perlahan tapi pasti akan melumpuhkan daya pikir kreatif anak didik (baca: metode sokratik). Akhirnya, pendidikan tak akan pernah melahirkan manusia ‘merdeka’, yang sadar dengan potensi  dirinya.

Kebebasan bukan berarti ‘liar’, menerabas tanpa aturan. Kebebasan yang dimaksud, bahwa transmisi pengetahuan dan nilai senantiasa didasarkan untuk membangun ‘kesadaran’ individu, tanpa paksaan dan intimedasi guru. Sehingga dalam jiwa murid terpatri rasa ‘tanggungjawab’ yang tinggi (responsibility).

Dalam UU Sisdiknas Nomor 20, Tahun 2003. Pasal 3 disebutkan,  “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.”

Pendidikan hadir untuk mencetak generasi yang mampu berperan aktif dalam pembangunan bangsa, tentu sesuai keahliaan masing-masing. Karena itu, pendidikan mutlak memerlukan budaya kebebasan, yang beyond politik dan kepentingan rezim.

Kurikulum MBKB
Tuhan menciptakan manusia dengan ragam rupa, keunikan, serta bakat masing-masing. Maka, paradigma pendidikan sudah selayaknya bersikap adil dan proporsional.

Dalam benak guru, murid-murid adalah manusia sempurna yang pasti memiliki potensi unik (excellences), sehinggga tak ada lagi istilah anak ‘bodoh’, atau pun ‘tidak naik kelas’. Di ‘mata’ sekolah, semua anak-anak itu pintar, cerdas, dan potensial.

Pertanyaannya. Bagaimana mendesain kurikulum pendidikan yang memberi ‘kemerdekaan’ kepada anak didik?

Semestinya, pemerintah memberi kebebasan terhadap Tingkat Satuan Pendidikan (TSP) dalam menyusun, dan mengembangkan kurikulum sendiri. Yakni kurikulum yang sesuai dengan “kultur”, karakteristik murid, ketersediaan fasilitas sekolah, atau pun potensi alam sekitar. Mengapa demikian? Sebab, yang lebih tahu tentu pihak sekolah yang bersangkutan. (baca: School Based Management)

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, sebenarnya merupakan paradigma cerdas untuk memajukan pendidikan nasional. Namun faktanya, kurikulum itu layu sebelum berkembang, bahkan hanya hidup di atas kertas, dan mati di pintu gerbang sekolah. Saat ini, sekolah berlangsung dengan Kurikulum 2013. Entah apa istimewanya?

Sejatinya, kurikulum yang ideal disusun berdasarkan minat, bakat, dan kebutuhan belajar (MBKB) murid. Misalnya, di sekoalah  “A”, memberikan kebebasan kepada murid-murid untuk memilih satu “bidang keilmuan dan keterampilan” tertentu, yang paling menonjol, dan disukai. Baik dalam ilmu alam (universe sciences), ilmu terapan (applied sciences), atau pun ilmu agama (revelation sciences).

Sekolah hanya membantu mengidentifikasi bakat-bakat murid, tanpa harus memaksakannya. Sedangkan, ‘mata pelajaran dasar’, seperti membaca, menulis, dan berhitung, serta agama (ibadah), cukup diajarkan secara tematik dan praktis.

Dengan demikian, anak didik memiliki banyak waktu dan tantangan untuk mengasah bakatnya. Sehingga menjadi ‘ahli’ di kemudian hari. Hanya orang-orang yang mempertajam bakatnya yang mampu bermain di atas panggung sejarah paradaban.

Menurut hemat saya, kurikulum berbasis MBKB akan membentuk atmosfer belajar menyenangkan (joyful study), dan bahagia (learning to be happy). Sebab, anak-anak belajar sesuatu yang dirasa mampu/dicintai. Ini pun berdampak pada ‘kedewasaan’, dan kemandirian dalam menentukan jati diri masing-masing.

Akhirnya, pendidikan akan melahirkan generasi pembelajar (on becoming a learner), dan masyarakat belajar (learning society), yang menjadikan belajar sebagai ‘budaya’ hidup. Bukan keterpaksaan, formalitas semu, apalagi pemberhalaan gelar/ijazah. Inilah makna masyarakat madani (civil society) yang dirindukan bangsa. Semoga! ***

EDI SUGIANTO (Esug), lahir di Sumenep, 22 September 1989 (28 tahun), dari pasangan H. Abd Lathif dan HJ. Holifah. Lulus SD Gedugan I (1996-2001), MTs Al-Hasan Somber Giligenting (2002-2004). TMI Al-Amien Islamic Boarding School, Sumenep Madura (2005-2008), S1- Universitas Muhammadiyah Jakarta (2009-2013). Kegemaran menulis dimulai sejak nyantri di Pesantren Al-Amien. Saat ini tulisannya berupa esai, resensi, dan puisi telah dimuat di berbagai media (cetak, dan online) nasional, seperti koran Kompas, Republika, Koran Tempo, dll. Majalah, Tabloid, Jurnal Kampus, dan Agupena (online). Bukunya yang telah terbit, Menyalakan Api Pendidikan Karakter (2016). 99 Api Berlayar (2016). Tuhan dalam Rintik Hujan (2017). Cinta dalam Secangkir Kopi (2017). Di samping itu, ia juga berkiprah sebagai guru agama Islam di SMA Muhammadiyah 11, Rawamangun, Jakarta Timur, dan SMK Muhammadiyah 15, Setiabudi, Jakarta Selatan. Sekretaris Majelis Pendidikan Kader, PCM Rawamangun (2015-2020). Di waktu luangnya, anggota AIS (Arsenal Indonesia Supporter) ini, punya hobi main futsal, Football PlayStation, seni vocal (nyanyi dan qiroah). Email: esug_L2s@yahoo.com. Facebook: Edi Sugianto Sug.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

SEKOLAH RAMAH ANAK

(Selip Gagas Untuk Momen Outdoor Classroom Day) Oleh Anselmus Atasoge (Mahasiswa UIN
Go to Top