5. Bintangku di Layar Kaca

Rubrik Novelet/Sastra Oleh

Novelet: Kado untuk Avira
Oleh Sardono Syarief

Upacara peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 72 baru saja selesai. Para peserta upacara bendera pun belum banyak yang beranjak dari barisannya. Bahkan mereka enggan pulang. Dikarenakan tak sedikit dari mereka yang berkeinginan hendak menyaksikan berbagai pentas seni yang dimainkan  oleh anak-anak sekolah.

Benar. Pagi itu alun-alun kabupaten makin ramai oleh hadirnya peserta festival. Mereka terdiri dari murid SD dan MI. Negeri maupun swasta. Begitu pun para pengunjung. Mereka ikut berdesak-desakan pula. Ramai sekali suasana di ibu kota kabupaten pagi itu.

Sejauh itu, rombongan Pak Arya menunggu giliran panggilan panitia pelaksana lomba.

Tak berapa lama, giliran pentas permainan jamuran pun tiba. Avira dan kawan-kawan membawakan permainan tersebut dengan lincah, genit, lagi gesit. Sehingga semua mata penonton tertuju ke arah permainan yang dipimpinnya. Permainan itu berlangsung sangat meriah. Tepuk tangan pun tak putus-putus dari penonton. Ramai.

“Hidup Avira! Hidup Avira…!”demikian yel-yel yang diteriak-teriakkan penonton.

Permainan jamuran akhirnya usai. Avira merasa puas. Keringat yang berleleran di kening tak dirasakannya.

Sementara itu, permainan engklek yang dipimpin Dhestya telah usai juga. Permainan ini tak kalah serunya dari jamuran yang dibawakan Avira dan kawan-kawan. Begitu pula dengan gobak sodor di bawah pimpinan Halintar.

Hampir semua penonton memuji penampilan ketiga jenis permainan tradi­sional mereka.

***

Esok paginya. Di ruang kelas 6.

“Anak-anak,”ucap Pak Arya kepada Avira, Dhestya, Halintar, dan kawan-kawan peserta festival lomba kemarin.

“Iya, Pak,”sahut anak-anak.

“Hari ini Pak Guru sampaikan berita gembira kepada kalian.”

“Berita apa, Pak?”tak sabar Avira bertanya.

“Pukul 11.00 nanti, kalian diundang Pak Bupati untuk  datang ke pendopo kabupaten. Bapak Bupati ingin bertemu kalian. Menurut kabar di koran ini, ketiga jenis permainan yang kalian pentaskan kemarin, menggondol juara pertama. ”

“Benarkah kabar itu, Pak?”seru Halintar setengah tak percaya.

“Benar. Ini koran yang memuat berita tersebut. Dan ini surat dari panitia yang menyatakan kejuaraan untuk permainan kalian,”Pak Arya menunjukkan koran dan surat pernyataan yang diterima dari panitia kepada anak-anak.

“Terima kasih, Pak. Terima kasih ya, Tuhan. Terima kasih Engkau telah mengabulkan cita-cita kami,”Avira menadahkan kedua tangannya tinggi-tinggi ke langit. Hatinya sangat  berbunga-bunga. Begitu pula yang dirasakan oleh Dhestya, Halintar, dan kawan yang lain.

Tiga jam dari itu, tepatnya pukul 11.00 Avira, Dhestya, Halintar, dan kawan-kawan tiba di pendopo kabupaten. Di sana telah menunggu panitia festival, para wartawan dari surat kabar, juga dari TV swasta.

“Anak-anakku yang tercinta,”demikian kata Pak Bupati ketika menyambut Avira serombongan. “Terus terang Bapak merasa sangat terharu  lagi bangga kepada kalian. Tepatnya ketika Bapak menyaksikan permainan tradisional yang kalian tampilkan kemarin. Kalian telah membawakannya dengan sangat bagus. Ini sangat mengingatkan Bapak ke masa silam. Masa kecil Bapak dulu,” Pak Bupati diam sesaat.

Katanya kemudian,”Dalam kesempatan ini Bapak berpesan kepada kalian. Gali dan tumbuhkan terus permainan tradisional Jawa Tengah ini sebagai permainan nasional, Anak-anak.

Meskipun zaman sudah maju, jangan sampai permainan warisan nenek moyang bangsa Indonesia ini hilang ditelan zaman. Karena Bapak yakin. Jika permainan tradisional bisa dipertahankan, tentu bisa dijadikan ajang tontonan bagi wisatawan asing yang cukup unik. Sanggupkah kalian mempertahankannya, Anak-anak?”

“Sanggup, Pak…!”jawab Avira dan kawan-kawan serempak.

“Terima kasih,”ujar Bapak Bupati bangga.

“Para wartawan!”serunya. “Agar prestasi anak-anak ini dapat dibaca dan ditonton oleh seluruh masyarakat Indonesia. Tolong, liput prestasi anak-anak ini  ke media kalian!”lanjut Bapak Bupati lagi.

“Baik, Pak,”sahut para wartawan penuh hormat.

Di tengah para wartawan sibuk meliput Avira dan kawan-kawan, kembali Bapak Bupati berdiri menghampiri anak-anak.

“Namamu siapa, Nak?”tanya Bapak Bupati ramah.

“Avira, Pak.”

“Kelas berapa?”

“Kelas enam.”

“Kamu menjadi ketua regu permainan apa?”

“Jamuran, Pak.”

Pak Bupati mengangguk-angguk.

“Bagus!”puji Pak Bupati. “Dalam permainan itu kamu terlihat sangat lincah dan percaya diri. Untuk itu, ini ada kado untukmu sebagai ucapan terima kasih Bapak. Maukah kamu, Avira?”

“Mau sekali, Pak,”jawab anak berwajah cantik itu sembari tersenyum malu.

“Ini, terimalah!”

“Terima kasih, Pak,”dengan hati berdebar-debar senang, Avira menerima kado tersebut dari Pak Bupati.

“Untuk yang lain,”ucap Pak Bupati selanjutnya. “Silakan kalian berbaris panjang! Satu demi satu maju menghampiri Bapak. Kalian akan Bapak beri amplop beasiswa. Maukah kalian?”

“Mau, Pak..!”sahut Halintar dan teman-teman ramai. Senang.

“Silakan maju!”

Maju pertama, Halintar. Kedua, Seno. Ketiga, Fariz, dan seterusnya hingga giliran terakhir, Dhestya dan kawan-kawan putrinya.

Satu jam dari itu, acara pemberian kado dan hadiah itu pun selesai. Dengan perasaan bangga Pak Arya mengajak kembali anak-anak ke sekolah tempatnya bekerja.

Keesokan harinya, semua kawan di sekolah Avira terlihat heboh. Mereka mengacungkan jempol atas prestasi Avira dan kawan-kawan. Mereka tahu prestasi anak itu lewat tayangan TV tadi malam. Kehebohan tersebut sempat menyurutkan kesombongan Wisnu, Reni, Ardi, dan anak-anak lain yang tak suka pada permainan tradisional.*** (Selesai)

Sardono Syarief
Guru SDN 01 Domiyang, Paninggaran, Pekalongan, Jateng 51164
Email: sardonosyarief@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Novelet

3. Restu Ibu

Novelet: Kado untuk Avira Oleh Sardono Syarief Pulang sekolah, Avira bergegas menemui

3. Bertemu Guru Sejati

Novelet Wayang Kampung Kambang Oleh Yonas Suharyono Malam makin larut. Lantip masih
Go to Top