MENELADANI “THE ETHOS OF SAKURA”

Rubrik Literasi Oleh

Diresensi oleh Edi Sugianto
(Pendidik, Penyair, dan Penulis Buku “Cinta dalam Secangkir Kopi.”)

Judul              : The Ethos of Sakura
Penulis            : Prof. Imam Robandi
Penerbit          : Penerbit Andi
Tahun             : 2010
Tebal              : 254 halaman
ISBN               : 978-979-29-1590-7
Harga             : –

Seorang principal di salah satu sekolah Muhammadiyah bertanya kepada Prof. Imam Robandi, “Kenapa sih kita harus belajar ke Jepang?” Sembari tersenyum, beliau menjawab dengan sederhana, “Ketika Indonesia masih zaman batu, Jepang sudah zaman kayu.”

Jepang adalah negara yang warganya terkenal dengan etos kerja dan kedisiplinan tinggi. Tak heran, Jepang menjadi salah satu negara yang paling maju di dunia, terutama dalam bidang ekonomi, dan pendidikan. Dua karakter tersebut menjadi kunci kesuksesan negara Jepang sebagai kiblat kemajuan dunia.

Membaca buku “The Ethos of Sakura,” kita banyak mengambil pelajaran, atau setidaknya ada beberapa kebiasaan yang perlu kita teladani dari kehidupan orang/ negera Jepang.

Pertama, budaya keikhlasan yang total. Ikhlas berarti melakukan yang terbaik (ahsanu ‘amala). Orang-orang Jepang memiliki dedikasi yang tinggi pada pekerjaan, mereka selalu melakukan aktivitas dengan optimal, untuk mendapatkan hasil terbaik.

Karena itu, orang super seperti orang Jepang “berani mendaki tebing yang terjal dengan penuh perhitungan untuk mengambil bunga kesuksesan.” (hlm. 92)

Kedua, budaya antre. Banyak yang tak sabar dengan ujian yang satu ini. Jika orang-orang ditanya, pekerjaan apa yang paling membosankan? Mereka menjawab, “mengantre”. Sabar mengantre adalah budaya yang sudah melekat pada karakter orang-orang Jepang. “Antre adalah etos super yang sistemik, kata orang-orang yang biasa hidup teratur. Berani antre sama dengan berani sukses.” (hlm. 35-36)

Antre di Jepang sudah dibudayakan sejak dini. “Ibu Guru Noda di Sekolah Dasar Seiki Shogakko, tempat anak saya sekolah, setiap hari tidak lupa mengucapkan “yoku narande,” antrelah dengan baik anak-anak!” (hlm. 39)

Ketiga, budaya on time. Menunda waktu berarti mempecepat diri pada kegagalan. Jadi, tak ada alasan untuk menunda waktu sedikit pun. Keberhasilan adalah pilihan dan output yang terukur. “Waktu dan target yang tercantum dalam jadwal adalah guide yang mutlak diperlukan.” (hlm. 18)

Keempat, budaya malu. “Malu” adalah budaya Jepang yang sudah turun temurun. Malu jika tidak bisa melakukan yang terbaik. Malu jika tidak berprestasi. Malu kalau terlambat datang. Malu kalau merugikan orang lain. Malu kalau tidak antre. Malu jika menerabas lampu merah. Kata polisi Jepang, “Kalau dia menyalakan lampu jauh, berarti Anda disuruh jalan duluan.” (hlm. 239)

Kelima, budaya teamwork. Orang Jepang suka bekerjasama, dan sama bekerja. Kerja kelompok yang solid adalah indikator keberhasilan yang besar. “Saya berangkat agak terlambat dan saat masuk kampus, saya melihat Prof. Konishi sudah menggunaķan sepatu bot, baju kerja, dan mesin pemotong rumput. Semua beramai-ramai, mahasiswa S1, S2, S3, Doktor, Profesor, dan semua karyawan bekerja bakti.” (hlm. 219)

Sebuah anekdot, “Mungkin satu orang profesor Jepang akan kalah dengan satu orang profesor Amerika, namun 10 orang profesor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang profesor Jepang yang berkelompok.”

Keenam, budaya baca yang tinggi. Orang-orang Jepang sangat “gila” baca. Budaya baca sudah ditanamkan sejak dini. Menurut laporan yang dirilis resmi oleh The World’s Most Literate Nations (WMLN) pada bulan Maret tahun 2016 lalu, bahwa warga Jepang (usia >15 tahun) biasa membaca 11-20 buku dalam setahun.

Bagaimana dengan budaya di Indonesia? Semoga, kita mampu meneladani budaya hebat orang-orang Jepang. ***

Tags:

EDI SUGIANTO (Esug), lahir di Sumenep, 22 September 1989 (28 tahun), dari pasangan H. Abd Lathif dan HJ. Holifah. Lulus SD Gedugan I (1996-2001), MTs Al-Hasan Somber Giligenting (2002-2004). TMI Al-Amien Islamic Boarding School, Sumenep Madura (2005-2008), S1- Universitas Muhammadiyah Jakarta (2009-2013). Kegemaran menulis dimulai sejak nyantri di Pesantren Al-Amien. Saat ini tulisannya berupa esai, resensi, dan puisi telah dimuat di berbagai media (cetak, dan online) nasional, seperti koran Kompas, Republika, Koran Tempo, dll. Majalah, Tabloid, Jurnal Kampus, dan Agupena (online). Bukunya yang telah terbit, Menyalakan Api Pendidikan Karakter (2016). 99 Api Berlayar (2016). Tuhan dalam Rintik Hujan (2017). Cinta dalam Secangkir Kopi (2017). Di samping itu, ia juga berkiprah sebagai guru agama Islam di SMA Muhammadiyah 11, Rawamangun, Jakarta Timur, dan SMK Muhammadiyah 15, Setiabudi, Jakarta Selatan. Sekretaris Majelis Pendidikan Kader, PCM Rawamangun (2015-2020). Di waktu luangnya, anggota AIS (Arsenal Indonesia Supporter) ini, punya hobi main futsal, Football PlayStation, seni vocal (nyanyi dan qiroah). Email: esug_L2s@yahoo.com. Facebook: Edi Sugianto Sug.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

WJLRC yang Impresif

Oleh : Yudhi Kurnia SD-SMP Muhammadiyah Antapani Bandung “Program WJLRC – West
Go to Top