MAKNA KURBAN PADA MASA PENUH BENCANA

Rubrik Opini Oleh

Oleh : Drs.H.A.Sholeh Dimyathi, MF, MM

Di penghujung bulan Agustus ini, kita diberi kesempatan untuk menyambut dan merayakan ‘Idul Adha 1438 H. Umat Islam di seluruh belahan bumi, tak terkecuali yang ada di negeri ini, juga sedang merayakan hari yang agung ini dengan alunan takbir, tahmid, tasbih, dan tahlil. Gema takbir itu pun diperintahkan untuk terus dikumandangkan selama hari tasyrik, tanggal 11, 12 , dan 13 Dzulhijjah setiap selesai sholat fardzu.

Sementara itu, jutaan umat Islam yang sedang menunaikan ibadah haji, pada hari ini, sedang berkumpul di Mina. Iring-iringan mereka, bergerak dengan perlahan, sejak dari Jumratul ‘Ula, Jumratul Wustha, hingga Jumratul ‘Aqabah. Mereka yang datang dari berbagai penjuru dunia, dengan beragam suku, bangsa, bahasa, dan warna kulit, bersatu padu dengan langkah yang sama untuk memenuhi panggilan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Keaneka-ragaman suku, bangsa, bahasa, dan warna kulit itu, ternyata tak lagi membedakan mereka, satu sama lain, karena sesungguhnya mereka telah dipersatukan dengan kesatuan aqidah dan hukum yang diturunkan oleh Allah, yang sedang mereka praktikkan dalam manasik haji mereka.

Dihari Idul Adha ini, dan di bulan haji ini, kita harus lebih meningkatkan rasa syukur kepada Allah swt. Yaitu dengan menambah ketaqwaan kita kepada-Nya. Yang kita wujudkan dengan terus berusaha, untuk senantiasa menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-laranganNya. Di hari Idul Adha awal bulan September 2017 ini, banyak kejadian-kejadian, ujian, bencana dan juga kesalahan-kesalahan yang kita lakukan di hampir setahun ini, harus kita renungkan dan kita jadikan pelajaran.

Arti Kurban
Kurban menurut bahasa, berasal dari kata bahasa Arab : “ Qaraba”, “yaqrabu”, Qurban wa qurbanan wa qirbanan yang artinya dekat. Dalam kamus Al-Munjid; ”KULLU MAA TAQORRBU BIHI ILALLAHI TA’ALA MIN DHABIIKHATIN AUGHOIRIHA”(=Tiap-tiap sesuatu yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, baik dengan cara menyembelih hewan kurban atau lainnya).

Menurut istlah, kurban  berarti mendekatkan diri kepada Allah s.w.t., dengan mengerjakan sebagian perintah-Nya. Kurban dalam pengertian kita sehari-hari, sebenarnya diambil dari kata udhhiyah, yakni bentuk jama’ dari kata ”dhahiyyah” yang berarti; penyembelihan hewan kurban pada waktu dhuha tanggal 10 Dzulhijjah setelah shalat Id sampai dengan tanggal 13 dzulhijah dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dari sinilah muncul istilah ”Idul Adha”. Apa arti kurban bagi individu atau yang berkurban dan apa hikmah syariat kurban ini bagi umat manusia? Kurban adalah ritual atau ibadah yang sangat bermakna bagi pensucian jiwa individu dan sekaligus sebagai sikap kepekaan sosial terhadap sesama.

Sejarah Kurban dan Pensyariatannya
Kurban adalah salah satu syari’at Allah yang sangat tua.  Pada era nabi Adam a.s.ibadah kurban sudah diperkenalkan. Beliau mendapat perintah dari Allah agar kedua anaknya melakukan kurban. Caranya dengan ”mempersembahkan” hasil bumi dan hewan ternak. Kedua anaknya, Qobil dan Habil segera memenuhi perintah tersebut. Habil yang peternak, dengan sepenuh hati berkurban untuk mencari ridha Allah dengan menyiapkan hewan terbaiknya untuk kurban. Sebaliknya, Qabil, yang petani, melaksanakan perintah tersebut dengan tidak ikhlas karena Allah, ia merasa terpaksa. Ia berkurban dengan buah-buahan yang busuk yang ia sendiri tidak menyukainya. Kurban Habil diterima oleh Allah sedangkan kurban Qabil ditolak.

Di sini terdapat pelajaran yang sangat tinggi, bahwa dalam berkurban diperlukan keikhlasan dan persembahan kepada Allah adalah sesuatu yang terbaik sebagaimana tersebut dalam Q.S. Al Maidah ([5]: 27), yang artinya:

Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (Q.S. Al Maidah [5]: 27).

” Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (Q.S. Al Maidah [5]: 27).

Nabi Ibrahim a.s. juga melakukan ibadah kurban. Mulanya berkurban dengan bersedekah roti, kemudian menyembelih anak sapi, kambing dan biri-biri. Beliau adalah seorang yang terlambat mendapatkan anak, dan ketika telah dikarunia seorang anak yakni Ismail, ujian datang dengan perintah agar menyembelih sang anak terkasih. Ibrahim patuh, taat dan berserah diri kepada Allah. Begitu juga Ismail, puteranya, pasrah dan bersabar. Kalimat yang keluar dari mulut kedua orang suci itu hanyalah takbir, tahlil, dan tahmid. Kalimat inilah yang kini dikumandangkan setiap menyongsung Idul Fitri maupun dalam merayakan Idul Adha. Kalimat takbir berarti yang paling agung (akbar) hanyalah Allah, kalimat tahlil adalah sikap tauhid, tidak ada Tuhan selain Allah, dan tahmid adalah segala puji, sanjung dan penghargaan hanyalah milik Allah.

Kisah pengurbanan yang sangat menggetarkan semua jiwa hamba Allah ini diabadikan dalam Q.S. Al Shaaffat (37): 102-107) yang artinya:
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata : ” Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu”? Ia menjawab:” Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), nyatalah kesabaran keduanya. Dan Kami panggil dia: ”Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar).

Allah s.w.t juga berfirman yang Artinya:
”Dan bagi setiap umat telah kami syariatkan menyembelih (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepadaNya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), yaitu orang-orang yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah kami rizkikan kepada mereka. Dan telah kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (orang yg tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah telah kutundukkan unta-unta itu kepadmu, mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menunduk kannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik (Q.S. Al Hajj [22]: 34-37).

Makna Kurban Dalam Konteks Kekinian
Allah s.w.t. memberikan banyak pelajaran kepada umat manusia melalui syariat ibadah kurban.

Pertama; Ibadah kurban itu, untuk menguji apa dan siapa dan sebenarnya yang menjadi orientasi atau tujuan hidup kita sebagai manusia. Apakah harta, seperti ujian bagi anak – anak Adam (Habil dan Qabil) atau kecintaan kepada anak ( ujian Ibrahim) dibanding dengan kecintaan kepada Allah?

Kedua, kurban adalah ujian tentang ketulusan, keikhlasan, kesabaran menghadapi berbagai dinamika kehidupan, terutama perhatian dan kecintaan kita, kepada sesama manusia sebagai makhluk Allah. Tentu saja, bagi orang-orang mukmin menyikapi firman-firman Allah tersebut tidak ada kata lain kecuali ” Sami’na wa atha’na”. Artinya iya, Allah lebih aku cintai ketimbang harta dan anak-anak kami. Begitu juga sikap orang mukmin, selalu peka terhadap penderitaan sesama mukmin dan juga kepada sesama umat manusia. Rasa kemanusian bagi orang mukmin ini berpangkal pada pengajaran Rasulullah SAW bahwa daging kurban itu dibagi dan didistribusikan menjadi tiga kategori. Satu bagian untuk keluarga yang berkurban, satu bagian untuk tetangga dan teman, dan satu bagian lagi untuk orang-orang miskin baik yang meminta-minta maupun yang tidak meminta-minta.

Solidaritas Islam ini, tidak hanya untuk orang-orang miskin dari kalangan muslim, tetapi juga untuk non muslim. Abu Daud dan Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa keluarganya sedang menyembelih seekor domba. Tatkala daging domba sudah diserahkan kepadanya, maka ia bertanya, ” Apakah kalian sudah memberikan dagingnya kepada tetangga kita yang Yahudi? Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: ” Jibril senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga, hingga aku mengira dia akan menjadikannya sebagai ahli waris.

Ujian dan perintah Allah untuk berkurban ini berlaku abadi. Semua umat manusia pada setiap zaman dan tempat, mendapatkan ujian dan pelajaran yang sama. Kita tidak akan pernah paham dan mendapatkan keutamaan kurban, kecuali telah tercerahkannya jiwa kita. Ketaqwaan adalah sikap mental dan perbuatan yang mengantarkan kurban kita diterima oleh Allah. Keikhlasan, kejujuran dan kesabaran, membimbing kita mencintai Allah dan akhirnya juga mencintai makhluk ciptaanNya.

Kekafiran dan kekotoran jiwa, yang dialami oleh seseorang, dapat juga mengantarkannya berkurban. Namun kurbannya bukan untuk Allah tetapi untuk kepentingan kehormatan dan pujian, kesombongan dan penghinaan sesama. Kalau kita sudah dapat berkurban dengan menyembelih seekor hewan kurban dengan niat dan sikap yang benar, insya Allah kita akan bisa menyembelih hawa nafsu kita atau sifat-sifat kita yang tidak terpuji. Oleh karena itu, selain takbir dalam penyembelian, Rasulullah mengajari kita agar berdoa tatkala darah menetes ke tanah, tangan kita menengadah ke langit memohon kepada Allah agar sifat-sifat buruk yang ada pada jiwa kita juga disembelih atau dipotong (H.R. Muslim).

Kita sebagai umat Islam mesti dapat belajar dari ibadah kurban. Ibadah ini pada hakekatnya pembelajaran agar kita dapat terus menerus mengoreksi dan memperbaiki diri dengan cara mengikuti pengajaran Allah dan Rasul-Nya sebagaimana tersebut dalam (Q.S. Al An’am (6): 153 yang artinya:
Inilah jalan yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.(Q.S. Al An’am (6): 153

Berat sekali ujian keimanan, pada era global seperti sekarang ini. Idealisme sulit ditemukan dan pragmatisme menjadi fenomena sehari-hari. Merosotnya nilai-nilai ideal, tidak saja dalam dunia bisnis, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kalau dalam masyarakat, orang yang dipandang dan dihormati adalah mereka yang memiliki kekayaan berlebih, maka korupsi akan tumbuh subur.  Suara dan jeritan kaum fakir miskin dan rakyat jelata sudah tidak lagi diperhatikan. Tangisan bayi dan orang tua yang hidup sengsara sudah tidak terdengar lagi. Dan jika para pemimpin bangsa (eksekutif, legislatif dan yudikatif) sudah berlomba-lomba memamerkan kekayaan dan kemewahan, maka tunggullah azab Allah yang terus datang silih berganti. Allah mengingatkan kita dalam firman-Nya yang artinya:
Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya (Q.S. Al An’am [6]: 123).

Allah juga berfirman dalam (Q.S. Al Israa’ [17]: 16) yang artinya:
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam negeri itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu).(Q.S. Al Israa’ [17]: 16).

Bukankah negeri ini telah diuji dengan berbagai peringatan oleh Allah s.w.t. melalui berbagai bencana alam?, tanah longsor, banjir, puting beliung, dan gempa telah menghancurkan, meluluhkan bangunan, harta benda  dan menelan korban ratusan ribu jiwa, dan masih banyak lagi catatan tentang bencana di negeri ini. Belum lagi akibat langsung dari keserakahan dan sikap materialisme manusia, kebakaran hutan dan asap melanda Sumatera dan Kalimantan yang juga mengganggu negeri tetangga, banjir menggenangi banyak desa dan kota, tanah longsor terjadi di mana-mana, Allah berfirman yang artinya:
” Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (Q.S. Ar Ruum [30]: 41).

Dalam menghadapi kehidupan berbangsa dan sosial keberagamaan kita akhir tahun ini juga merupakan waktu yang cukup berat dengan datangnya krisis ekonomi global beserta dampak yang ditimbulkanya. Masalah bencana, ekonomi, kerukunan beragama, kekerasan, ketidakadilan dalam hukum, kerusakan lingkungan, dan juga masalah-masalah lainya masih menjadi bagian dari keseharian kita. Tetapi bagaimanapun beratnya ujian itu, kita sebagai khalifah yang ditugaskan Allah untuk memakmurkan bumi ini, harus tetap optimis dan bersemangat untuk terus berusaha, pantang menyerah, untuk dapat keluar dari segala masalah dan cobaan ini. Untuk menjaga keutuhan dan juga kerukunan dalam kehidupan berbangsa dan keberagamaan kita harus dapat wujudkan,khususnya di Perumahan Bulak Macan Permai:

Pertama; Dengan membangun ukhuwah islamiyah. Sudah saatnya umat Islam mengesampingkan hal-hal furu’iyah (parsial) yang hanya akan menambah fitnah dan pertentangan sesama umat Islam, dan juga akan menguras dan menyia-nyiakan waktu dan energi kita dengan perdebatan yang tidak begitu bermanfaat, yang seharusnya hal itu dapat kita gunakan untuk berfikir dan bekerja demi kemajuan dan kemaslahatan umat.

Karena tantangan yang kita hadapi semakin banyak dan komplek, mari kita kembali kepada al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 11-12 yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.(QS. Al Hujuraat [49]: 11-12)

Kedua; Mari kita kembali ke jalan yang benar,yaitu dengan mengagungkan nama Allah (Allah Akbar) bukan mengagungkan kekuasaan, jabatan dan harta benda. Mengesakan Allah (Laailaaha illallah), tidak memberhalakan materi, kehormatan, dan kebesaran duniawi. Apa yang kita miliki, anak, isteri, harta benda, jabatan, pangkat, kekuasaan dan kewenangan adalah amanat atau titipan. Wajib disyukuri dan dijaga, tidak disalahgunakan. Walilaahi al hamd, segala pujian yang diberikan kepada kita pada hakikatnya adalah milik Allah. Kita semua dilahirkan tidak memiliki apa-apa dan nanti akan kembali kepada Allah (mati) juga tidak membawa apa-apa.  Ibadah kurban dan haji yang sedang kita lakukan sekarang ini adalah ibadah atau ritual tahunan yang maknanya mengingatkan kembali kepada kita bahwa hidup adalah pengurbanan dan perjuangan.

Hidup di dunia merupakan rangkaian siklus kehidupan manusia yang panjang yang bermula dari Allah (alam azali), lahir di dunia, meninggal dan berada di alam kubur, dibangkitkan kembali dan perhitungan amal baik serta jahat, kemudian hidup di akhirat, surga atau neraka. Ibadah haji dan kurban sekali lagi mengingatkan kita terhadap kehidupan masa lalu ( Adam, Qabil, Habil, Ibrahim, Sarah, Ismail) bagaimana mereka berjuang dan berkurban untuk mendapatkan ridla Allah.

Ibadah haji dan kurban juga mengokohkan semangat kita untuk merenungkan apa arti kurban dan ibadah haji pada masa kini. Haji dan kurban adalah syariat untuk pensucian jiwa, membersihkan kotoran yang ada pada hati kita, sifat-sifat ananiyah atau egoisme dibersihkan melalui ibadah haji dan menyembelih kurban. Kita tebar kepedulian sosial kita kepada sesama umat manusia melalui penyebarluasan daging kurban, dan persahabatan abadi kita jalin antar sesama muslim se dunia melalui ibadah haji. Dalam suasana Idul Adha yang demikian, kita agungkan asma Allah, kita kumandangkan takbir, tahlil, tasbih dan tahmid.

 Akhirnya, marilah kita renungkan kembali firman Allah yang artinya:
” Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri pada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari Rahmat Allah). (Q.S. Al Kautsar [108]: 1-3).

Kita semua berharap semoga para jama’ah haji berhasil meraih haji mabrur. Di tempat yang mustajab, mereka berdoa untuk dirinya, keluarganya, dan seluruh kaum Muslimin agar segera mendapatkan pertolongan Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, dan dimenangkan atas musuh-musuh Allah dan musuh-musuh mereka. Semoga para pemimpin mereka juga tersadar, baik pemimpin keluarga, masyarakat, organisasi, maupun negara, termasuk semua pemuka umat; bahwa mereka semua wajib berkorban untuk meraih kemuliaan Islam. Semoga kita dijadikan sebagai bahagian dari barisan orang-orang yang rela memberi pengorbanan demi kecintaan dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dalam rangka menegakkan Islam secara kaffah, yang akan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Demikianlah,tulisan singkat ini dipersembahkan buat saudara-saudaraku sebangsa,mudah-mudahan ada manfaatnya.Dan marilah momentum idul kurban ini,benar-benar kita jadikan untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah dengan melakukan penyembelihan hewan kurban dan juga mengorbankan sebagian anugerah rizki yang diberikan oleh Allah kepada kita sehingga kita menjadi semakin dekat kepada Allah, dan mendapatkan kebahagian hidup didunia dan diakhirat. Amiin. ***

Drs. H. Ahmad Sholeh Dimyathi, MF., MM. (biasa dipanggil Pak Kyai) lahir di Pati, Jawa Tengah, 17 Oktober 1954. Prestasi yang berhasil dicapainya meliputi pemenang utama Lomba Kreativitas Guru (LKG) tingkat nasional tahun 1997, guru teladan tingkat Jakarta Timur tahun 2000, pemenang II Lomba Kreativitas Guru (LKG) tingkat nasional tahun 2001 dan 2002, guru berprestasi dan berdedikasi luar bisa tingkat nasional tahun 2005, kepala sekolah berprestasi nasional tahun 2006, dan pengawas berprestasi terbaik 2 tingkat DKI Jakarta tahun 2014. Dalam kepangkatan sebagai pegawai negeri sipil (PNS) berhasil meraih pangkat pembina utama dengan golongan IV E. Pangkat dan golongan ini bagi PNS yang berkarir dari seorang guru, merupakan prestasi yang sulit dicapai. Pada tahun 2004 ia meraih Satya Lencana Pendidikan Guru Berprestasi dan Berdedikasi dari Menteri Pendidikan Nasional. Saat ini menjadi Dewan Pembina Pengurus Pusat Agupena (Asosiasi Guru Penulis Indonesia).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Keluargaku Surgaku

Seorang ahli kungfu sedang asyik menari di lantai dansa bersama istrinya. Ia

Sayang dia, Cinta dia

Hampir pecah tangisku menyaksikan peristiwa itu. Seorang suami mencekik, menampar dan menendang

Tegar

Oleh: La Ode Mu’jizat Perlu kekuatan hati yang berlebih ketika ujian atau
Go to Top