Maafkan Jelita, Bunda!

Rubrik Cerita Anak/Sastra Oleh

Oleh Sardono Syarief

Jelita anak pertama Bu Aida. Usia gadis kecil itu tujuh tahun. Sikapnya lincah lagi manja. Bu Aida dan Pak Lin­tar sayang sekali kepadanya. Maklum. Jelita anak satu-satunya mereka. Rasa sayang ayah dan ibunya belum terbagi. Semua masih melulu untuk Jelita seorang.

Jelita duduk di bangku kelas I Sekolah Dasar. Letaknya agak jauh dari rumah. Setiap berangkat, Pak Lintar selalu meng­antarnya dengan sepeda motor.

Namun pagi itu tidak. Jelita bersikeras hendak berangkat sendiri. Anak itu ada janji dengan teman-teman. Mereka hen­dak bermain ayunan di sekolah sebelum jam masuk dimulai.

“Ayah, Bunda. Jelita berangkat dulu, ya?”pamit Jelita se­raya menyalami tangan ayah dan ibunya.

Melihat sikap Jelita seperti itu, Bu Aida maupun Pak Lin­tar kaget. Mereka segera menahan niat Jelita.

“Jangan berangkat sendiri, Jelita! Nanti Ayah an­tar,”cegah Pak Lintar.

“Nanti Jelita terlambat, Yah,”rajuk Jelita.

“Kata siapa? Biasanya saja tidak, kok,”sahut ayahnya. “Lagipula ini masih pagi, Jelita. Baru pukul 06.00.”

“Tapi, Yah! Kalau nanti Jelita terlambat, bagaimana?”

“Tidak, Jelita,”sahut Bu Aida. “Percaya Ayah saja. Seka­rang masih terlalu pagi. Di sekolah belum ada kawanmu yang datang.”

“Betul, Jelita!”tambah ayahnya meyakinkan. “Tunggu se­saat. Ayah mandi dulu.”

“Tidak mau, ah! Terlalu lama,”anak yang berambut ke­pang dua itu bersungut. “Kalau Ayah tak mau mengantar seka­rang, Jelita akan berangkat sendiri,”Jelita  tampak nakal. Pa­dahal biasanya tidak.

“Sebentar, Jelita!”cegah ibunya. “Ayah biar mandi dulu.”

“Tidak mau!”Jelita langsung lari keluar rumah.

Melihat itu, ibu dan ayahnya segera mengejar Jelita. Na­mun entah menyelinap di mana. Dalam sekejap, Jelita telah tak nampak.

“Jelita, sayang! Kau di mana, Nak?”panggil-panggil Bu Aida sambil mencari-cari keberadaan Jelita di sekitar rumah. Begitu pula Pak Lintar.

“Jelita…! Jelita…!”seru Pak Lintar mecari-cari. “Kau di mana, Sayang? Sini cepat. Akan Ayah antar sekarang.”

Pencarian terhadap Jelita berlangsung lama. Namun anak yang dicari tak juga mereka temukan. Sampai-sampai ke­dua orang tuanya panik. Karena itu mereka memutuskan untuk mencari Jelita di sekolah.

“Bu, Bu Aida…! Mau ke mana, Bu?”seru Bu Marti dari mulut gang.

Bu Aida segera menoleh ke asal suara yang memanggil-manggil namanya.

“Oh, Bu Marti?”kata Bu Aida begitu berhenti dari lang­kahnya. “Mau mencari Jelita, anak saya, Bu. Apakah Bu Marti melihatnya?”dengan gugup ibu muda itu menjawab.

“Maaf. Saya rasa kok tidak, Bu,”jawab Bu Marti. “Tadi saya cuma mendengar kabar,”sambung ibu sebaya Bu Aida tadi. “Di mulut gang ini baru terjadi tabrak lari. Korbannya se­orang gadis kecil berseragam putih merah, Bu.”

“Hah! Tabrak lari? Apakah Bu Marti tidak mengenali anak itu, Bu?”tanya Bu Aida makin gugup. Jangan-jangan anak itu, Jelita, anaknya.

“Tidak. Saya tidak melihatnya,Bu. Saat kejadian, saya se­dang ada di kamar mandi.”

“Lantas, adakah orang di sekitar sini yang sempat meli­hatnya, Bu?”

Bu Marti menggeleng-gelengkan kepala.

“Kiranya, sekarang anak itu di mana, Bu?”Bu Aida makin tegang.

“Kata sopir bajaj yang baru saja melintas,”jawab Bu Marti. “Anak itu ada yang membawanya ke rumah sakit, Bu.”

“Oh, ya? Kalau begitu, saya akan segera ke sana, Bu.  Siapa tahu, itu anak saya.”

“Silakan. Hati-hati di jalan, Bu.”

“Terima kasih, Bu Marti.”

Bu Aida segera menyetop angkuta jurusan rumah sakit.

Setiba di sana, dilihatnya Pak Lintar tengah pingsan. Ba­pak muda itu tampak berbaring satu kamar dengan Jelita. Pingsan Pak Lintar akibat melihat semata-mata kejadian ta­brak lari yang menimpa Jelita. Sedangkan Jelita tak sadarkan diri dikarenakan terserempet roda dua pada bagian kaki ka­nannya.

Melihat itu, seketika meledaklah tangis Bu Aida sekeras-kerasnya.

“Huaaa…! Huaaa…! Jelita…!”ibu muda itu segera mende­kap tubuh anaknya. “Jelita sayang,”tangisnya sesenggukan. “Sadar, Nak. Bangun! Ini Ibu, Nak. Ibu tak ingin kehilangan kamu. Huuuuu…Jelita, anakku….!”

Mendengar sayup-sayup suara tangis, perlahan Jelita si­uman dari pingsannya.

“Ibu…!”suara Jelita lirih setelah sesaat membuka mata. “Maafkan Jelita, Bunda. Jelita telah membuat susah Ibu dan Ayah. Jelita tak akan nakal lagi. Jelita akan jadi anak penurut, Bu. Jelita menyesal,”erat-erat anak itu merangkul pundak Bu Aida.

“Berjanjilah sayang. Oleh sikapmu, Ayah dan Ibu me­mang jadi susah.”

“Maafkan Jelita, Bunda. Maafkan Jelita, Ayah…!”Jelita se­gera menubruk ayahnya yang terbaring di sisi kirinya.***

Sardono Syarief
Guru SDN 01 Domiyang, Paninggaran, Pekalongan, Jateng 51164

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Cerita Anak

2. Janji Kemenangan

Novelet Kado untuk Avira Oleh Sardono Syarief Jam istirahat pertama tiba. Avira,

KEJUJURAN YANG PERNAH HILANG

Cerpen: Sardono Syarief (Guru SDN 01 Domiyang-Paninggaran-Pekalongan, Agupena Jawa Tengah) “Reno! Tunggu!”seru

NAMAKU JIGME

Erawati Heru Wardhani Namaku Jigme. Aku berasal dari sebuah desa kecil di
Go to Top