Aksi Literasi Mungil di SDK Horowura

Rubrik Berita/Literasi Oleh

Kisaran tahun 1965, sewaktu kami di bangku Pendidikan Sekolah Dasar (SD), kebiasaan membaca, menulis dan mendongeng adalah sebuah keniscayaan. Di rumah, orang tua gemar mendongeng anak-anaknya pada malam hari. Di sekolah, para guru rajin bercerita kepada peserta didiknya. Saat istirahat, peserta didik saling berbagi cerita tanpa diperintah oleh gurunya. Saking menikmati kondisi ini, peserta didik bahkan menghafal ceritanya, kisah Lorens Lema Lewo, guru PAK di ruang guru SDK Horowura, Sabtu (28/8).

Ketua PGRI Cabang Kelubagolit ini pun mengakui bahwa atmosfir demikian semakin menipis lantaran suguhan acara di TV, gaya hidup instan dan hedonis lebih menggiurkan serta lebih bertenaga menguasai waktu kita semua. Gerakan literasi bukan untuk melarang anak-anak menonton TV. Orang tua dan guru sebaiknya selektif dan melakukan pendampingan yang tidak asal-asalan. Setidaknya waktu untuk membaca, menulis dan mendongeng sering kita giatkan di sekolah dan di rumah. Gerakan ini bersifat ajakan bernada seruan, urai Lorens.

Kepala SDK Horowura, Wilibertus Tawa Ama dalam obrolan santai memberikan apresiasi kepada Agupena Cabang dan pihak lain yang kebetulan lebih dulu belajar memberi diri dengan memanfaatkan waktu senggang dalam menggerakkan literasi di Flotim. Literasi sesungguhnya bukan hal baru. Ini kebiasaan lama yang sedikit demi sedikit telah kita tinggalkan. Gerakan ini tentu bukan sebuah ajang pencitraan. Gerakan ini untuk mengingatkan sekaligus saling melecut semangat bagi kita semua.

Pak Wili menghimbau kepada para guru gerakan ini milik kita semua bukan milik Agupena Flotim atau segelintir orang. Ini sebuah proses yang semestinya terus kita galakkan sebelum generasi kita kadung salah begitu jauh. Selebihnya, gerakan ini semacam bagian kecil dari revolusi mental individu dan institusi yang sudah dikumandangkan Presiden, ungkap Pak Wili bersemangat.. Di sekolah kami, sudah ada gedung perpustakaan. Mudah-mudahan ke depan sekolah kami boleh menerima lagi sumbangan buku dari pihak lain melalui Agupena Flotim, imbuhnya.

Pada lawatan Agupena Flotim yang menyertakan aksi literasi mungil di SDK Horowura ini, peserta didik tampak antusias saat memperoleh buku baru. Setelah mendapatkan buku, mereka lincah mencari tempat teduh lalu membaca buku. Dari sekilas gelagat dan raut wajah mereka, kita dapat mengendus ada kerinduan dari mereka untuk memiliki buku baru. Kepedulian dan dampingan yang serius dan konsisten semua pihak akan menjadikan gerakan ini sebagai fondasi yang langgeng sekaligus tabungan maha nilai bagi generasi menyambut perubahan. Ibarat belajar bersepeda, kita terus mengayunkan kaki kita agar tetap seimbang. Begitupun dengan gerakan ini. Kata dan aksi mesti kita terus giatkan agar hidup semakin seimbang dan awet muda, ucap canda Amber Kebelen, salah satu pengurus Agupena Flotim usai membagi buku sumbangan dari pihak lain melalui Agupena Flotim di SDK Horowura, Desa Horinara, Kecamatan Kelubagolit, Adonara. (Humas Agupena Flotim)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Berita

Go to Top