Asal Sebuah Ide dalam Menulis

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Beberapa pepatah seperti “tidak ada yang baru di bawah matahari”, “masih adakah yang tidak dikaji dalam penelitian?” kadang terucap ketika mendiskusikan kebaruan sebuah tulisan.

Lalu, masihkah ada sesuatu yang baru jikalau perjalanan keilmuan manusia seumur dengan manusia itu sendiri? Justru disitulah sisi kemanusiaan pengetahuan dimana sepanjang manusia masih hidup, pengetahuan dalam bentuk ilmu akan terus hidup. Setiap fajar menyingsing sampai terbenamnya di masa senja tetap saja ada peluang pengembangan ilmu. Demikian pula ketika dunia hanya ditemani bintang dan rembulan, bukan berarti bahwa pengetahun berhenti sejenak.

Sebuah ide akan muncul dari kesempatan untuk bersantai. Teori gravitasi tidak ditemukan di ruang hotel mewah. Justru hanya di bawah pohon apel. Maka, untuk sebuah ide bisa saja muncul dari peristiwa sepele. Dengan demikian, untuk menemukan ide bisa melalui rangkain menikmati secangkir kopi di warung.

Termasuk berdiskusi tidak saja dalam kesempatan formal dan di kelas mata kuliah. Bisa saja ide muncul dalam ruang konferensi ketika jeda sesi sambil menunggu sesi berikutnya. Kesempatan itu akan memunculkan sebuah ide yang dapat diteruskan untuk menjadi sebuah awal proposal penelitian.

Ada beberapa konferensi yang dihadiri para maestro dalam bidang tertentu, seperti EuroSEAS yang dihadiri para peneliti Asia Tenggara, tidak hanya berasal dari Eropa tapi seluruh penjuru dunia berbondong-bondong untuk datang. Tidak hanya untuk berdiskusi tapi juga bertemu untuk saling menyapa dan mendukung untuk sebuah kemajuan penelitian.

Sebelum bubar, sebuah konferensi akan mendorong adanya ide yang bisa ditindaklanjuti menjadi awal dari penelitian. Termasuk mendapatkan maklumat mengenai literatur terkini yang diterbitkan. Konferensi biasanya menyertakan penerbit untuk turut memamerkan buku terbaru dan juga menjualnya ke publik. Termasuk kesempatan mendapatkan buku gratis pada hari terakhir pameran. Kesemuanya akan memberikan sebuah kesempatan untuk menumbuhkan sebuah ide untuk menulis.

Selanjutnya, menghadiri ujian terbuka disertasi diantara kesempatan untuk membentuk ide. Disertasi, ditulis dengan kajian yang komprehensif. Termasuk didampingi beberapa promotor yang membimbing untuk memastikan bahwa disertasi tersebut mendekati kesempurnaan kalau tak bisa disebut sempurna. Dalam proses ujian tersebut akan terungkap apa saja yang tidak dieksplorasi oleh kandidat doktor. Sehingga ada kesempatan bagi orang lain untuk meneruskan kekurangan tersebut.

Proses menemukan, menumbuhkan, dan memperkaya ide menjadi sebuah siklus untuk menulis dan memulai sebuah penelitian. Ini bisa saja dilakukan secara simultan sehingga sebuah ide dapat wujud menjadi sebuah tulisan. Kalau saja ide hanya dicetuskan dan tidak diteruskan menjadi sebuah riset, tetap saja akan sia-sia. Sementara sesederhana apapun ide itu tetapi jika sampai bisa dipublikasikan, akan menjadi karya yang hanya bisa dibantah dengan juga sebuah karya yang setara. Obrolan di media sosial tidak akan memengaruhi kualitas karya tersebut. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

WJLRC yang Impresif

Oleh : Yudhi Kurnia SD-SMP Muhammadiyah Antapani Bandung “Program WJLRC – West
Go to Top