Home » Literasi » Menulis Sebagai Seni » 131 views

Menulis Sebagai Seni

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Teknik menulis tidaklah tunggal. Setiap individu akan menemukan cara yang memungkinkan untuk menulis. Termasuk kesempatan untuk menulis juga perlu dialokasikan sesuai dengan keadaan masing-masing yang tak harus sama.

Karena tidak ada bentuk yang pakem itulah sehingga pola menulis perlu dikembangkan secara pribadi. Bisa saja menyimak pola yang dilakukan individu lain tetapi tidak perlu persis sama. Bahkan bisa saja berbeda dan tidak memiliki kesamaan sama sekali.

Jikalau saja dapat dinyatakan sebagai seni, maka masing-masing penulis akan memiliki karakter yang unik. Bahkan tidak perlu ada kesamaan sama sekali dengan orang lain. Perbedaan tersebut akan bermuara pada publikasi hasil penulisan dengan pelbagai ragam.

Kecuali pada aturan umum berbahasa, menulis dilakukan sebagai bentuk ekspresi individual. Satu-satunya bentuk ketundukan hanya pada pakem-pakem kebahasaan. Selain itu, dapat saja dilakukan secara berbeda. Penulislah yang menemukan pola yang teramat nyaman untuk digunakan dalam menulis.

Sebagai seni, menulis akan membebaskan diri penulis dari keterpaksaan. Sang penulis adalah manusia merdeka yang membebaskan dirinya dari kaitan material untuk turut menyumbang pada kemajuan ilmu pengetahuan. Sehingga keterpaksaan akan menjadi belenggu. Pada titik tertentu justru akan mengekang dan membatasi semua kemerdekaan yang pada akhirnya justru tidak merdeka lagi. Keterpaksaan juga akan berakibat buruk bagi kondisi psikologis. Dimana ada tekanan yang akhirnya akan memberatkan bagi keleluasaan.

Pada titik seni, tidak yang ada bentuk yang baku. Kreativitas tidak terbatasi oleh pakem apapun. Bahkan oleh pakem itu sendiri sehingga keleluasaan dan ekspresi pribadi-pribadi menjadi kunci. Bisa saja seseorang justru memperkenalkan sebuah bentuk yang sama sekali baru. Tidak dibatasi oleh bentuk dan pola yang sudah ada sebelumnya.

Hanya saja, walau sebagai seni tetap ada batasan dalam konteks sebagai karya ilmiah. Selain soal kebahasaan, menulis juga berkaitan dengan prasyarat ilmiah lainnya. Sehingga proses penulisan perlu memperhatikan rambu-rambu yang berkaitan dengan kondisi ilmiah. Rambu-rambu tersebut bukan untuk membatasi tetapi untuk memandu sehingga apa yang hendak dicapai dapat diwujudkan untuk menjadi komsumsi publik. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top