Home » Puisi » Sastra » Senja yang Pemalu » 75 views

Senja yang Pemalu

Rubrik Puisi/Sastra Oleh

Puisi Amber Kabelen

Senja yang Pemalu

Ina Palang Doni
saat malam memalang mata
kurapal seutas gita cerita
sebelum kantuk dibujuk pelupuk

cerita tentang pelosok di ufuk timur
yang kini hadir dengan aneka judul

perihal rupa buaya
di Danau Waibelen yang tak ada lagi
dan kini ada rumah pohon serta pondok ceruk

atas sepanjang jalan
dirajai bebatuan dan lumuran bopeng
yang sekarang berangsur lengser

terhadap teduh rerimbun pepohonan
dan kini diselipkan pasak besi
berbuah terang informasi

kisaran kisah anak tetangga
yang kini bisa menulis puisi
untuk sang Ayah di perantauan

tentang ibu guru
yang betah melajang
namun sedang riang
mengelus janinnya
yang semakin girang

tapi tidak bagi dia
yang rela tumbalkan rasa
konsisten lakoni rutinitas
yang selalu menjenuhkan

dia yang menyajikan keindahan
di penghujung penat
dengan mata memerah

sore tadi aku memergokinya
saat dia mengintai langkahku
ketika hendak beranjak pulang

saya lekas merayunya
untuk makan malam di taman kota
namun dia menepis pintaku

“aku menetap di sini saja
bersama para petani
pun padang rumput
serta kawanan ternak
menyimak gelagat perubahan
yang semestinya diwaspadai”,
ucapnya malu-malu.

Salam Angkutan Pedesaan.

(Amber Kabelen- Pengurus Agupena Flotim)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Puisi

KETETAPAN SEMESTA

Puisi Gagas Saman KETETAPAN SEMESTA Bulan pucat pasi kerontang dipuncak hari Menantang

MENGEJA WAJAHMU

PUISI HADI SASTRA MENGEJA WAJAHMU : ilustrasi puisi kucecap malam ini dengan

SEPOTONG PUISI

PUISI HADI SASTRA SEPOTONG PUISI aku tak bisa memberimu apa-apa. hanya sepotong
Go to Top