Catatan untuk Ibu Guru Barbara Barek

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh: Maksimus Masan Kian, S.Pd.
(Ketua Asosiasi Guru Penulis Indonesia/Agupena Cabang Kabupaten Flores Timur)

Tulisan ini berangkat dari ramainya pemberitaan di media sosial tentang prilaku seorang Ibu guru di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Satu Atap Waiwaru Kabupaten Lembata. Namanya Ibu Barbara Barek. Ia melakukan penghinaan yang kejam, terhadap anak muridnya sendiri atas nama Fabianus Keko (16 tahun), hingga membuat anak ini nekat teguk racun karena malu.

Prilaku satu guru, mencoreng dunia pendidikan dan menodai korps guru. Hingga terkuak ke publik, bermula dari pemberitaan media online Weeklyline.net yang ditulis oleh Sandro Balawangak  dengan judul “Dipermalukan Gurunya, Siswa SMP Satap Waiwaru Teguk Racun”. Pristiwa yang sama diangkat  Liputan 6 dengan judul “Gara –Gara Hinaan Guru, Siswa SMP Nekat Tenggak Racun Rumput”, Media Surya.com juga memberitakan dengan judul “Malu Dihina Guru, Siswa Satap Waiwaru Ile Ape Minum Racun, dan Florespost.co “Tak Tahan di-bully Gurunya, Seorang Siswa 16 Tahun Nekat Teguk Racun”

Pemberitaan  di sekian media online ini, terungkap, Ibu Barbara Barek, Guru Bahasa Indonesia Kelas IX (sembilan)  SMPN Satap Waiwaru, Desa Todanara Kecamatan Ile Ape, mengeluarkan kata – kata hinaan kepada anak muridnya Fabianus Keko ( Ari). “Dia bilang saya punya rumah seperti kandang babi. Lalu, saya keturunan atau anak dari orang tua tidak jelas. Makanan yang saya makan tidak sama dengan yang dia makan. Makanan saya seperti makanan babi. Dia hina saya di depan murid lainnya dalam kelas. Selama pelajaran bahasa Indonesia berlangsung, ungkap Ari. Akibatnya, saat jam pelajaran usai, Ari langsung pulang ke rumah dan mengambil obat cairan racun rumput dan meneguk sebanyak satu sloki. Merasa mual, kerongkongan kering dan langsung dilarikan ke UGD RSUD Lewoleba.(Weeklyline.net).

Beragam tanggapan muncul dari kalangan masyarakat baik dari guru, pemerhati pendidikan, penggiat literasi, politisi dan Komnas Perlindungan Anak Republik Indonesia. Grace Garacella, penggiat literasi mengatakan, lembaga pendidikan harusnya mampu menyamai keragaman, menumbuhkan semangat mimpi dan anak didik dalam wujud luhur nilai kebangsaan, juga sebagai perawat kemanusiaan bukan membunuh karakter anak dengan cara menekannya secara psikologis (Agupena.or.id). Aris Merdeka Sirait, Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak mengatakan Sikap dan prilaku Barbara Barek (BB) bukanlah lagi sebagai cerminan guru yang seyogianya memberikan rasa nyaman, perlindungan bagi peserta didik. Ejekan dan hinaan BB terhadap korban merupakan penghinaan terhadap harkat dan martabat manusia.Dan yang lebih fatal lagi perbuatan dan tindakan BB tidaklah lagi menjunjung tinggi moralitas dan nilai-nilai kebaikan. Oleh sebab itu tidaklah pantas lagi BB menjadi guru (suara-rakyatmerdeka.com)

Guru yang tahu dan paham tugasnya,  kejadian seperti ini tidak akan muncul . Merunut pada pemberitaan yang ada, penulis dapat mengatakan prilaku oknum guru yang bersangkutan tergolong kejam. Mengapa tidak, kekerasan psikis itu jauh lebih sakit dari kekerasan secara fisik. Dalam kasus ini, ada pembunuhan karakter, dan penekanan psikologis yang hebat dirasakan oleh anak atas prilaku gurunya sendiri. Setiap orang mempunyai harga diri. Anak yang masih kecil sekalipun, sebagai manusia memiliki harga diri yang harus mendapat penghargaan dari orang lain.

Guru menurut Undang Undang (UU) Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 pasal (1)  adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Artinya prilaku oknum guru BB tidak mencerminkan dirinya sebagai seorang guru. Guru diharapkan untuk membangun motivasi, membimbing dan mefasilitasi anak untuk  menemukan jati dirinya meraih cita dan mimpi-  mimpinya.

Apa yang bisa dilakukan untuk menyikapi persoalan ini? pertama untuk pihak sekolah, Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olaraga (PKO) Lembata; berhentikan dulu sementara, Ibu Barbara Barek dari tugasnya sebagai guru, selama anak  Fabianus Keko masih ada di Sekolah bersangkutan. Apapun alasanannya, prilaku oknum guru ini tergolong sadis dan berdampak sangat buruk terhadap pembentukan mental anak. Ibu Barbara Barek diberi kesempatan untuk istirahat, sambil berefleksi dan pembersihan diri atas kekhilafan yang telah ia buat. Kedua, guru di sekolah dan orang tua di rumah, lakukan pendampingan kepada anak, bangun motivasi, rasa percaya diri dan tenangkan batinnya, sehingga ia tidak merasa minder. Ketiga, untuk anak Fabianus Keko, tetaplah kuat, dengan cobaan ini. Jadikan semua pristiwa ini sebagai ujian untuk membuatmu semakin kuat dan berani. Tidak untuk melemahkan. Tetaplah semangat dalam belajar, untuk meraih cita – citamu.

Pristiwa ini memberi Pembelajaran bagi semua guru di seluruh penjuru negeri ini untuk terus berefleksi dalam tugas dan profesi yang diemban. Tujuan akhir dari pendidikan yang aktor utamanya guru adalah memanusiakan manusia ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

SEKOLAH RAMAH ANAK

(Selip Gagas Untuk Momen Outdoor Classroom Day) Oleh Anselmus Atasoge (Mahasiswa UIN
Go to Top