Home » Opini » MENCARI KEBENARAN » 114 views

MENCARI KEBENARAN

Rubrik Opini Oleh

(Catatan Pinggir atas “Runding Gairah Sastra” Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta)

Oleh: Anselmus Atasoge
(Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta/ Ketua Seksi Pendidikan dan Pelatihan Agupena Cabang Flores Timur)

Jelang magrib, Kamis, 31 Agustus 2017, bersama seorang sahabat, kami menelusuri hiruk-pikuk Jogyakarta. Fakultas Filsafat Universitas Gajah Madah di Jln. Olahraga, Caturtunggal Depok, menjadi tempat tujuan kami. Setelah diarahkan seorang satpam di kampus itu, kami dipersilahkan ke halaman tengah Fakultas Filsafat Universitas Gajah Madah.

Tak ada hiasan yang istimewah. Dua ‘pohon istimewa’ yang ‘didirikan’ dengan puluhan batang bambu dalam balutan cahaya merah putih mengapiti tiga sofa hitam bagi tiga narasumber. Di sudut kiri nampak sebuah panggung kecil dengan sorotan lampu seadanya. Sebuah gitar akuistik terbaring di atasnya ditemani sebuah konga yang siap ditabuh.

Puluhan mahasiswa dan para penggemar sastra tengah bercengkerama ‘telepo’, duduk santai di atas tikar, sembari menikmati teh hangat, kopi pahit dan cemilan. Gratis! Ada keakraban sejati di sana. Malam takbir di tempat ini sungguh hangatkan dingin malam yang mulai merayap minta dicumbui.

Di tempat ini, Forum Seni dan Budaya “Retorika” fakultas itu menggelar acara yang mereka namai “Runding Gairah Sastra”. Runding Sastra diselenggarakan dalam rangka mengenang ulang tahun kelima-puluh Fakultas Filsafat UGM. Komunitas Retorika hendak mencoba ‘bergerak bersama ke tempat yang lebih dalam’ memperbincangkan relasi kontekstual antara filsafat dan seni, terkhusus sastra dan musik. Tiga seniman dihadirkan: Ugoran Prasad, seorang fictionist, dramaturg and performance dari Teater Garasi Jogyakarta; Yap Saporte, penyanyi solo dan pengarang lagu bergenre pop, folk, balada dan akustik; Berto Tukan, cerpenis yang menulis kumpulan cerpen “Seikat Kisah tentang Yang Bohong (2016)”, sebuah novel dengan latar filsafat yang kencang.

Filsafat dan sastra, kata Iris Murdoch, seorang filsuf perempuan, adalah pencari kebenaran dan berupaya mengungkapkan kebenaran. Keduanya merupakan kegiatan yang disadari serta dilandaskan pada pengertian dan bernuansa kognitif. Filsafat mencari dan mengungkapkan kebenaran dan menjagai kebenaran itu dengan tetap terbuka untuk menyelidiki kebenaran-kebenaran lain. Sastra mengangkat kebenaran ke ‘dunia abstrak’ (ada juga dunia realis), memperindah ‘yang benar’, memolesinya dengan keindahan dan menuangkannya menjadi karya yang syarat dengan kebenaran.

Schopenhaeur pernah bilang bahwa seni menangkap arus pancaroba kehidupan dan membuat kita bisa melihat dunia nyata serta menghayati keindahan.Ia menilai seni sebagai kegiatan kecendekiaan, aktivitas moral yang tinggi, satu usaha untuk mengatasi diri dan melihat dunia. Di titik ini, kita bisa merangkumkan kata-kata Schopenhaeur: filsafat itu seni dan seni itu juga sebuah filsafat. Ya…filsafat tentang kebenaran kehidupan sebab keduanya sama-sama mengabdi pada kehidupan yang benar!

Secara sederhana, kebenaran itu adalah persesuaian antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan. Atau, sebaliknya, apa yang dilakukan dengan apa yang dikatakan. Kebenaran menjadi bagian integral dari makluk manusia dari kalangan mana saja: entah manusia sosial, manusia ekonomi, manusia budaya, manusia politik. Jika dia adalah bagian integral dari manusia maka dia menjadi jati diri manusia. Dia bukan sebuah tambahan atau alternatif pilihan: suka atau tidak, mau atau tidak! Sejatinya, kebenaran adalah hakekat dari manusia dan kemanusiaannya!

Karenanya, mencari, mengungkapkan dan mengabdi pada kebenaran bukan hanya urusan filsuf dan seniman saja. Aktivitas itu milik semua manusia: petani, nelayan, buruh, sopir, tukang ojek, hansip, pegawai (negeri maupun swasta), Komisi Pemilihan Umum, Pengawas Pemilu, polisi, jaksa, hakim, guru dan para muridnya, dosen dan mahasiswanya, biarawan-biarawati, rohaniwan-rohaniwati, politikus! Jelang pilkada di sejumlah kabupaten di NTT dan pilgub NTT, mari kita mencari, mengungkapkan dan mengabdi pada kebenaran! Dan, mari berkata benar dan bertindak benar serta benar bertindak dan benar mengatakan tentang tindakan itu!

 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top