HABITUASI SEBAGAI JALAN MENUJU KEUTAMAAN ETIS

Rubrik Pendidikan Oleh

(Sebuah Nilai buat Pendidikan)

Oleh: Bonafasius Belawa Koten, S. Fil
(Guru SMA Negeri I Tanjung Bunga- Flotim)

Secara harafiah, kata habituasi diambil dari kata habitat. Dan dalam pelajaran IPA, kata habitat berarti tempat tinggal suatu mahkluk hidup. Ketika  habitat mendapat perubahan habituasi maka terjadilah pergeseran makna atau pengertiannya. Habituasi berarti suatu pembiasan hidup yang tinggal tetap. Sebuah korelasi subjek-objek yang menghasilkan sesuatu yang inheren (tinggal tetap), dan terarah pada thelos (kebaikan yang mendekati kesempurnaan), walaupun tak tercapai secara holistik-integral. Kerena thelos bagi dunia adalah utopiah. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa habitat dan habituasi memiliki korelasi tentatif bagi perkembangan manusia dalam tindakan.

Berdasarkan pemahaman di atas, kita dapat mengatakan bahwa keutaman etis sebagai suatu kebajikan, dapat dibangun melalui pembiasaan-pembiasan diri, dengan melaksanakan tindakan-tindakan baik sesorang menjadi orang baik, yang teratur dan kontinyu dan berulang-ulang. Di sini setiap tindakan harus dipelajari (entah sebagai objek ataupun subjek). Habituasi harus dipelajari dan di dalami. Berarti, tidak boleh membiarakan “diri dibentuk” tetapi harus dapat melakukan sesuatu”.

Habituasi sebagai metode  memperoleh keutaman adalah bagian dari logika hexis. Karena itu harus dipelajari dan perlu mendapat perhatian dalam dunia pendidikan atau proses kegiatan belajara mengajar. Sebab dalam habituasi ada tindakan baik indiviadual maupun kolegial. Dan menurut hemat penulis ada premis-premis, entah mayor ataupun minor, untuk mendapatkan suatu konklusi. Harus dipelajari, karena ada definisi kebenaran, ada cuasalitas. Seseorang memiliki keutamaan dengan meneladani orang-orang yang berkeutamaan  dan dalam usaha untuk meneladani itu, melalui proses habituasi, orang menjadi seperti orang berkeutamaan yang diteladani. Arah pembentukan diri ini bertolak dari tindakan-tindakan menuju stabilitas watak. Proses ini boleh disebut sebagai proses moralisasi watak atau lebih tepat proses rasionalisasi keinginan.

Akibat dari proses habituasi antara lain orang bertindak dengan cara yang baik, tetap dan tepat. Dampak lanjut adalah orang memiliki pilihan tepat dan intensinya terarah. Dengan demikaian, stabilitas watak merupakan tujuan habituasi. Keutamaan menjadi hukum yang inheren dan paten, menjadi norma hidup atau paradigma bagi keutamaan praktis. Apabila habituasi itu terarah maka keutamaan etis dapat terpenuhi dan tejawab dalam hidup. Di sini, habituasi menjadi sine qua non dalam diri setiap individu. Individu dapat keluar dari diri dan mengarah keorang lain. Ia melihat orang lain menjadi bagian dirinya.

Dengan berpijak pada pemahaman diatas, maka habitiuasi harus  menjadi perhatian utama dalam dunia pendidikan atau proses kegiatan belajar – mengajar. Contoh-contoh dari habituasi: mendengar, memperhatikan, menghargai waktu, menghargai teman, menghargai orang yang lebih tua, mencari hal – hal baru untuk mendapatkan sesuatu yang baru yang baik untuk dirinya dan orang lain.

Dari pemahaman diatas maka habituasi sebagai sebuah keutamaan moral-etis harus dtanamkan sejak dini dalam dunia pendidikan. Hal ini sangat penting karena habituasi juga merupakan sebuah pendidikan dan sudah merupakan sebuah kearifan lokal. Dengan pembangunan habituasi maka ethos kerja dapat ditegakan dan pendidikan sebagai sebuah lembaga menjadi sinkron dalam makna. Jika habituasi sebagai keutamaan etis ditegakan maka dapat ditemukan pendidikan yang harmoni.***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

PAHLAWAN ZAMAN NOW

Oleh Fortin Sri Haryani Pahlawan diartikan sebagai seorang yang telah berjasa, memberikan

PKN DAN NILAI MORAL

Oleh: Salamuddin Uwar (Guru SMP Negeri 7 Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara,
Go to Top