Home » Opini » Tegar » 116 views

Tegar

Rubrik Opini Oleh

Oleh: La Ode Mu’jizat

Gambar: www.tommcifle.com

Perlu kekuatan hati yang berlebih ketika ujian atau musibah tiba-tiba hadir di tengah kebahagiaan hidup. Saat dalam sekejap, harta, jabatan dan lainnya raib dari genggaman.

Bagi mereka-mereka yang tak siap, maka akan meratap: “mengapa harus sekarang?”, “kenapa tidak nanti saja, saat hatiku sudah setegar batu karang?”

Well, ada yang harus dipahami dalam konteks ini. Sesungguhnya Allah sedang mengingatkan semua. Bahwa harta, pangkat, jabatan, sehat, bahagia serta semua yang dimiliki itu adalah pemberian-Nya.

Karenanya manusia mesti bersyukur. Bukan malah sebaliknya, menganggap segala yang dipunyai adalah hasil upaya sendiri, lalu dengan pongah mengatakan bahwa tiada campur tangan Sang Pencipta atas apa yang diperoleh.

Bagi sesiapa yang akhirnya rapuh, remuk, terhempas di palung terdalam penderitaan akibat ujian atau musibah itu, adalah sebab sombong dan tak syukur nikmat. Tidak tahu bahwa semua yang dimiliki adalah pemberian dan titipan Yang Kuasa.

Ujian adalah keniscayaan hidup. Yang perlu dilakukan adalah membuat hati menjadi tenang, tentram, kuat dan setegar batu karang. Caranya? Hadirkan ia dalam fitrahnya. Qolbu hanya akan menjadi tenang dengan berdzikir pada-Nya. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top