Tragedi Kendari: Pil Setan VS Bonus Demografi

Rubrik Opini Oleh

Oleh: La Ode Mu’jizat

Berita terakhir yang saya baca pada sebuah media online terkait dengan “tragedi” Kendari beberapa hari yang lalu adalah jumlah korban sudah mencapai 50 orang. Informasi tersebut berdasarkan statement Murniati, kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Kendari. Tapi kemarin Sabtu (16 September), teman Saya mengabarkan bahwa saat ini jumlah korban sudah mencapai 60-an orang. Mereka yang sebagiannya adalah pelajar (SMA, SMP dan SD) itu harus dilarikan ke rumah sakit usai meminum obat yang mengadung zat berbahaya.

(Gambar:gimg.kumpar.com)

Menurut pengakuan salah seorang korban, setelah mengkonsumsi obat yang dibeli seharga Rp. 75.000,- itu, ia merasa enak dan fly. Tapi setelah itu tak sadarkan diri. Setelah sadar, tahu-tahu dirinya sudah terbaring di RSJ (Rumah Sakit Jiwa), dengan kondisi tangan dan kaki terikat di ranjang.

Berdasarkan informasi dari para korban, obat yang dikonsumsi itu adalah PCC (Paracetamol Caffeine Carisoprodol). Obat yang jika digunakan serampangan, memiliki efek merusak sistem syaraf (otak). Bisnis.com memberitakan bahwa Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek telah menyampaikan kepada Badan Narkotika Nasional (BNN) agar segera menetapkan obat tersebut dalam kelompok adiktif.

Peristiwa heboh di Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tenggara ini lalu menuntun ingatanku pada buku karya Taufik Pasiak yang berjudul ‘Revolusi IQ/EQ/SQ: Antara Neurosains dan Al Qur’an (2002)’. Di dalamnya sang penulis menyebut seorang tokoh yang menurutku sangat luar biasa. Namanya adalah Prof. Sudiarto Kusumoputro. Mengapa Saya bilang luar biasa? Sebab beliau yang juga seorang ahli syaraf terkenal dari Universitas Indonesia (UI) ini, belasan tahun yang lalu mengembangkan pelatihan optimalisasi otak yang bertajuk ‘KISS ME, Neurobics dan Brain Gym. Itu dilakukannya berdasar pada penemuan yang mengagumkan dalam bidang neurosains.

KISS ME adalah akronim dari Kreativitas, Imajinasi, Sosialisasi, Spiritual, Musik, dan Emosi. Tujuannya adalah membangunkan “raksasa tidur” otak manusia. Sekaligus untuk membuktikan bahwa kakuatan terbesar bukan terletak pada bagian luar tubuh manusia.

Oh iya, kata Taufik Pasiak, yang juga ahli syaraf, jika dapat difungsikan dengan baik, otak merupakan simbol keunggulan masa depan. Saat ini, penelitian tentang otak menusia, terutama kaitannya dengan kecerdasan terus dilakukan para ahli. Penemuan mutakhir dalam neurosains semakin membuktikan bahwa bagian-bagian tertentu otak bertanggung jawab dalam menata jenis-jenis kecerdasan manusia.

Akan tetapi, bila organ yang terletak di dalam batok kepala manusia ini rusak, maka pemiliknya akan sulit hidup dengan wajar. Ia tidak saja kehilangan ingatan, tapi yang lebih tragis dari itu adalah kehilangan akal. Dan apa jadinya jika manusia tanpa akal? Ya, tak ubahnya seperti binatang. Di antara penyebab kerusakannya  bisa karena penyakit seperti stroke, kanker ganas, atau trauma (seperti kasus demonstrasi), memberi efek dramatis.

Penyebab lain kerusakan otak adalah penyalahgunaan Zat Adiktif, Zat Psikoaktif, dan Narkotika. Saya menyebutnya dengan Pil Setan. Perbedaan ketiga istilah ini, yaitu: Zat adiktif (suatu bahan atau zat yang apabila digunakan dapat menimbulkan kecanduan atau ketergantungan). Zat Psikoaktif (golongan zat yang bekerja secara selektif, terutama pada otak, sehingga dapat menimbulkan perubahan pada perilaku, emosi, kognitif, persepsi, kesadaran seseorang). Sedangkan Narkotika (sebagaimana tercantum dalam UU narkotika No. 9 tahun 1976 adalah Ganja, Opioda, Kokain).

Informasi dari Badan Narkotika Nasional (BNN), Zat psikoaktif ada beberapa macam, dan yang sering disalagunakan adalah jenis zat psikoaktif yang bersifat adiksi: morfin, heroin/putaw, candu, codein, petidin, ganja/mariyuana, minyak hassish, serbuk kokain dan daun koka, Brandy, bir, wine, whisky, cognac, brem, tuak, Anggur Ortu/AO, BK, rohypnol, magadon, dumolid, nipam, madrax, extacy, LSD, meskaloin, mushroom, kecubung, dan golongan lainnya.

Bila seseorang menggunakan zat adiktif, akan dijumpai gejala atau kondisi yang dinamakan intoksikasi, dimana zat adiktif tersebut bekerja dalam susunan syaraf pusat (SSP) yang menyebabkan perubahan memori, perilaku, kognitif, alam perasaan dan kesadaran.

Masalah yang secara umum timbul akibat penggunaan zat adiktif: gangguan pernapasan, gangguan pusat pengatur kesadaran, koma, gangguan keseimbangan cairan tubuh, kecemasan yang berat sampai panik, potensial mencedrai diri, merusak diri dan lingkungan, gangguan bicara), gangguan kognitif, daya ingat, daya nilai, gangguan konsentrasi, gangguan pencernaan, kejang, halusinasi, nyeri sendi, otot dan tulang, dan lain-lain.

Lalu, apa kaitan ini semua dengan bonus demografi sebagaimana tertulis pada judul opini ini? Dalam 2 (dua) bulan ini Saya pribadi cukup intens membaca dan berdiskusi tentangnya. Bonus Demografi adalah sebuah istilah dalam kependudukan yang menjelaskan tentang keuntungan yang akan dinikmati oleh sebuah negara, akibat besarnya jumlah penduduk produktif (15-64 tahun) di negara tersebut. Sedang proporsi usia muda sudah semakin kecil dan proporsi usia lanjut belum banyak.

Proporsi penduduk usia produktif yang besar ini, sangat menguntungkan dari sisi pembangunan. Syaratnya adalah pemerintah harus menyiapkan generasi muda yang berkualitas tinggi SDM-nya melalui pendidikan, pelayanan kesehatan, penyediaan lapangan kerja dan investasi. Jika tidak, maka permasalahan yang muncul adalah terjadinya pengangguran yang besar dan akan menjadi beban negara.

Indonesia sendiri akan mengalaminya pada tahun 2020-2030 nanti, dimana usia angkatan kerja (15-64 tahun) mencapai sekitar 70 persen, sedang 30 persen-nya adalah penduduk yang tidak produktif (usia 14 tahun ke bawah dan usia di atas 65 tahun). Dengan demikian, pada tahun 2020-2030, Indonesia akan memiliki sekitar 180 juta orang berusia produktif, sedang usia tidak produktif sekitar 60 juta jiwa, atau 10 orang usia produktif hanya menanggung 3-4 orang usia tidak produktif, sehingga akan terjadi peningkatan tabungan masyarakat dan tabungan nasional.

Berbicara soal penduduk yang berkualitas dan kaitannya dengan masa depan, Rijalul Imam dalam bukunya yang berjudul ‘Quantum Leadership of King Sulaiman (2010)’, mengutip pernyataan John Naisbitt. Naisbitt yang juga peramal sosial paling terkemuka ini, memprediksi munculnya ‘tren mass costimization of talent’ (pengkhususan bakat secara massal), yang dampaknya perusahaan-perusahaan akan memprioritaskan pendidikan diatas segalanya. Perusahaan yang memperhatikan bakat, kompetisi dan spesifikasi produk menjadi keunggulan dirinya di pasar global.

Sebaliknya, perusahaan yang tidak memperhatikan pendidikan dan bakat pemimpin dan karyawannya akan mengalami ketertinggalan. Begitupula pemerintah yang tidak memperhatikan pendidikan generasinya, dipastikan bangsa tersebut tidak dapat bersaing di masa depannya. Pernyataan ini berangkat dari fakta bahwa kompetensi sangat menentukan kualitas kompetisi dan kooperasi antar bangsa.

Nah, dari uraian singkat di atas, akhirnya kita bisa membayangkan, apa jadinya masa depan bangsa jika generasi kita masuk dalam jeratan narkoba. Tentu mereka tak akan mampu memenuhi kualifikasi kebutuhan sumber daya manusia masa depan. Dan pada saat yang sama, proporsi besar pada jumlah penduduk usia produktif yang kita sebut bonus demografi itu tidak lagi menguntungkan. Sebaliknya, hanya akan menjadi beban negara. Yang pada akhirnya, Negara dan bangsa kita akan mengalami masa depan yang suram. Oleh karena itu, selamatkan kemanusiaan, selamatkan generasi, selamatkan masa depan, dan PERANGI NARKOBA. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top