HIJRAH: A SELF-REFLECTION

Rubrik Opini Oleh
https://pastiguna.com/hijrah/

Tentunya kata “hijrah” tidak asing lagi di telinga kita. Semua orang berbicara tentang hijrah berdasarkan konteks mereka sendiri. Misalnya dalam dunia kerja, berhijrah bertujuan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, baik secara finansial maupun secara kualitas kerja. Dalam dunia akademis pun demikian, berhijrah untuk madapatkan ilmu atau “nilai” yang lebih banyak dan berguna bagi semua orang. Sampai-sampai dalam dunia “pacaran” pun tidak luput dari ungkapan hijrah, hijrah dari dunia pacaran menuju “ta’arruf”, dan berbagai macam konteks hijrah yang lain.

Selain berpindahnya nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah bersama sebagian para pengikutnya guna menyelamatkan diri dari berbagai tekanan kaum kafir quaisy Mekkah, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) juga mendefinisikan Hijrah sebagai “berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya)”. Dengan demikian, Hijrah bisa kita kontekstualisasikan dengan kehidupan kita sehari-hari.

Namun tentunya, tujuan hijrah yang kita lakukan haruslah berniat lillahi ta’ala dan untuk mendapatkan ridlo dan berkah dari Alloh SWT karena tidak ada gunanya hijrah yang kita lakukan kalau hanya bertujuan untuk mendapatkan dunia semata. Berhijarah hanya untuk mendapat perhatian dari bos atau atasan, berhijrah hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus, berhijrah hanya untuk dilihat oleh orang lain merupakan jenis hijrah yang tidak akan membawa kita kepada kebaikan hakiki.

Jauh-jauh hari lebih dari 1400 tahun lalu, Rasulullah SAW mengingatkan kepada kita akan pentingnya niat sebelum melakukan sesuatu, begitu juga dengan niat Hijrah agar selaras dengan ajaran Alloh SWT melalui utusan-Nya. Dalam kumpulan Hadits Arba’in An-Nawawy disebutkan:

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya (Hadits 01).

Tentunya Imam Nawawy, pengarang kitab kumpulan Hadits Arba’in diatas, memiliki alasan yang kuat kenapa beliau menempatkan hadits tentang “niat dan ikhlas” menjadi pembuka kitabnya. Beliau sadar betul akan pentingnya merumuskan dan memantakan niat sebelum melakukan sesuatu, tentunya untuk niat karena Alloh SWT agar apa yang kita lakukan tidak menjadi sia-sia.

Kembali ke topik utama, Hijrah. Ini sesuatu yang harus dilakukan oleh setiap umat manusia di dunia ini karena dengan berhijrah, insyalloh kita akan mendapatkan kebaikan-kebaikan dalam hidup ini. Ketika Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah dan kemudian beliau berhijrah bersama para sahabat beliau, beliau mendapatkan sambutan yang luar biasa dari masyarakat setempat yang beliau tidak pernah bayangkan sebelumnya.

Alkisah, masyarakat Madinah kala itu sangat membantu Nabi dan para sahabatnya sampai-sampai dikisahkan ada seorang Anshor yang siap berbagi istri dengan salah seorang saahabat yang hijrah saat itu. Itu adalah kebaikan-kebaikan yang tidak pernah terfikirkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Mereka hanya menjalankan perintah-perintah Alloh SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW.

Namun bagi sebagaian orang, kisah tersebut tidak akan cukup menggambarkan manfaat-manfaat yang akan didapat kalau berhijrah. Mari kita mencoba mengambil contoh dalam kehidupan sehari-hari kita yang sesungguhnya banyak hal yang menuntut kita untuk berhijrah. Penulis saat ini sedang berada di Semester akhir dan sedang menulis tesis sebagai syarat untuk mendapatkan gelar akademik yang sah. Karena waktu due date tesis-nya makin dekat (awal Nopember 2017 sudah harus disubmit), maka tidak ada cara lain untuk menyelesaikannya selain berhijrah dari kemalasan atau kelalaian waktu dalam menulis tesis.

Dan masih banyak hal lain lagi yang menuntut penulis untuk hijrah dalam hidup ini (mohon doa para pembaca ya, please). Sesungguhnya ada banyak tip dalam melakukan hijrah. Dibawah ini ada bebarap hal yang bisa dilakukan sebelum berhijrah:

Identifikasi

Langkah ini sangat penting untuk menemukan alasan yang tepat dalam hijrah kita nanti agar ketika berhijrah nanti, kita benar-benar mantap sehingga setiap ujian yang datang tidak akan mampu menggoyahkan kita. Perlu kita perhatikan juga bahwa hijrah yang akan lakukan ini bukan karena mengikuti “trend” yang kita sendiripun tidak yakin alasan mengapa kita melakukanya.

Berniat

Hal penting kedua yang harus kita lakukan setelah langkah pertama adalah memasang niat, sungguh-sungguh karena Alloh SWT. Sebagaimana bahasan kita diatas bahwa niat yang kita pasang akan menentukan kualitas hijrah kita dihadapan Alloh SWT.  Ketika kita sudah terlanjur hijrah dengan niat bukan semata-mata karena Alloh, maka sebaiknya kita perbaiki niat kita agar tentunya mendapat balasan di dunia maupun di akherat kelak.

Oleh karena itu, jangan sampai hijrah yang kita lakukan hanya akan berpengaruh terhadap hidup kita di dunia saja, namun lebih dari itu hijrah yang akan terus membawa kita semakin dekat dengan sang maha pencipta dan itu semua tergantung dengan niat kita.

Berhijrah

Lalu selanjutnya adalah berhijrah itu sendiri. Ketika kita sudah menemukan hal yang mengharuskan kita untuk berhijrah, lalu kita berniat lillahi ta’ala, maka saatnya kita wujudkan hijrah kita. Jangan menunggu lagi, apalagi membuat alibi-alibi yang sesungguhnya tidak akan memperbaiki keadaan. Pepatah yang mengatakan “Jangan menunggu besok apa yang bisa engkau kerjakan hari ini” mungkin akan bisa mengingatkan kita akan pentinya melakukan hal yang bisa kita lakukan saat ini tanpa harus menunggu lagi.

Bertawakkal

Langkah terakhir yang bisa kita lakukan adalah menyerahkan semuanya kepada Alloh SWT. Setiap apa yang kita lakukan tentunya harus kita serahkan kepada-Nya, biarlah Alloh SWT yang akan menentukan akhirnya. Banyak orang yang melalaikan langkah terakhir ini karena menganggap apa yang sudah mereka kerjakan itu sangat sempurna dan tentu akan menghasilkan sesuatu yang sempurna juga. Mereka lupa bahwa Alloh SWT, dengan kudrat iradat-Nya, mampu merubah segala sesuatu.

Maka, sebagai manusia yang beriman dan sangat lemah dihadapan Alloh SWT, tentulah langkah terakhir ini akan menjadi langkah yang harus kita lakukan yaitu menyerahkan semua urusan kita kepada-Nya dan selalu berperasangka baik terhadap hasil yang didapat.

Akhirnya, jangan sampai keberhasilan (kebaikan) itu tidak bisa kita gapai karena kita tidak mau behijrah, karena kita terlena dengan apa yang kita alami saat ini. Semoga tulisan pendek ini bermanfaat bagi penulis sendiri khususnya, dan kepada pembaca yang sudi meluangkan waktunya, sebagai lecutan semangat untuk berhijrah agar mendapatkan kehidupan yang lebih berkah dan diridloi oleh Alloh Subhanahu Wata’ala. Amin ya rabbal alamin.

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH, 1 MUHARRAM 1439 H

Adelaide, SA

Abu Zidna

Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top