MEMBACA TIDAK SEKADAR MENDAPAT PENGETAHUAN

Rubrik Literasi Oleh

Oleh: As’yari Hidayah Hanafi
(Pengurus Agupena Flotim)

Sebagai suatu komunitas yang beranggotakan para guru Agupena merasa memiliki kewajiban moril dalam program Gerakan Literasi. Lantaran gerakan ini dicanangkan oleh Kemendikbud melalui Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015. Khususnya Flores Timur melalui Dinas PKO pemerintah menghimbau dengan mengeluarkan edaran kepada lembaga pendidikan disemua jenjang.

Agupena Flores Timur dalam Gerakan katakan dengan buku, pelatihan menulis untuk guru dan siswa yang sedang digalakkan adalah semata-mata bertujuan membangun iklim ilmiah di wilayah ini. Untuk membangun budaya membaca maka kita perlu memperkenalkan buku kepada anak. Ketika anak telah diberi fasilitas diharapkan kemauan membaca tumbuh. Membaca yang dimaksud lebih kepada membangun keterampilan, bukan semata kemampuan kognitif. Melainkan bertujuan membangun kultur yang bermuara pada ranah psikomotorik.

“Literasi bukan sekedar baca tulis”, menurut penulis penyataan ini benar adanya. Akan tetapi fondari utama Gerakan Literasi adalah membaca. Oleh karena itu Gerakan Literasi yang dilakukan oleh Agupena Flores Timur yakni lebih fokus menyediakan bahan bacaan, mengajak dan memberi motivasi untuk giat membaca.

Jika ditelaah secara mendalam maka dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata “gerakan” bermakna suatu tindakan yang dilakukan dan disertai dengan program terencana dan ditujukan pada suatu perubahan untuk terus dilestarikan. Sederhananya suatu hal yang dilakukan secara berulang-kali atau secara kontiunitas.

Artinya kita perlu memilah dan memahami gerakan yang sedang dibangun oleh Agupena Flores Timur. Membaca yang dimaksud oleh Agupena Flores Timur dalam gerakan ini. Bukan sekedar memberi pemahaman dari ketidak-tahuan seseorang pada bagaimana merangkai huruf menjadi satu kata yang bermakna. Akan tetapi gerakan ini dilakukan dengan tujuan jangka panjang. Yakni setelah guru ataupun siswa melakukan kegiatan membaca, mereka dapat memahamai makna atau isi bacaan tersebut seefisien mungkin dan kemaudian mampu mentransfer informasi tersebut dalam memori jangka panjang dalam otak.

Gerakan literasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gerakan penumbuhan budi pekerti. Dengan demikian ada beberapa nilai yang dapat dipetik dari Gerakan Literasi yakni : Pertama, Rasa ingin tahu; orang yang membaca buku memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap masalah yang ingin diketahuinya. Kehausan akan informasi dan ilmu. Orang-orang yang banyak membaca tentu saja akan menjelma menjadi manusia yang awalnaya tidak tahu menjadi serba tahu.

Kedua, Mental ingin maju; orang-orang yang rajin membaca selalu memiliki keinginan yang kuat untuk maju dan meningkatkan kualitas hidupnya.

Ketiga, Memiliki daya kritis dan analitis; orang yang banyak membaca akan memiliki kemampuan berpikir kritis. Selain itu kemampuan analitisnya akan terus terasah. Setiap kata dan kalimat yang dibaca mendorongnya untuk berpikir dan menganalisis. Hal inilah yang membuat ide menulis muncul. Dengan kata lain dengan membaca membauat otak seseorang terus bekerja menghasilkan pemikiran-pemikiran baru.

Keempat, Keinginan berbagi; setelah membaca buku dan mendapatkan ilmu, seseorang akan membagikan ilmu yang didapat kepada orang lain. Dengan demikian lahirlah nilai kebaikan (ibadah) serta rasa puas karena berbagi.

Kelima, Disiplin; orang yang rajin melakukan kegiatan membaca memiliki disiplin yang tinggi dalam menyempatkan waktu untuk membaca. Baginya membaca menjadi kebiasaan yang mendarah-daging. Memiliki target membaca yang harus diselesaikandalam waktu tertentu.

Keenam, Kerja keras; orang yang membaca tentunya membutuhkan kerja keras untuk melakukannya. Seseorang memerlukan waktu dan energi ekstra.

Ketujuh, Bersyukur; aktivitas membaca membutuhkan kondisifidik yang prima terutama kesehatan mata. Oleh karena itu aktivitas membaca merupakan bentuk kesyukuran seseorang dalam memanfaatkan anggota tubuhnya.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis berkesimpulan bahwa aktivitas membaca bukan hanya membuka lebaran demi lembaran buku, atau sekedar mengajarkan anak merangkai abjad menjadi sebuah kata. Melainkan membaca memberikan pengatahuan lebih serta membangun nalar kritis. Yang bermuara pada melahirkan manusia-manusia pemikir, manusia-manusia peneliti, bahkan lebih dari itu melahirkan pembaharuan.***

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top