MENULIS DENGAN KEKUATAN BERJAMAAH

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
(STAIN Sorong & Agupena Papua Barat)

media.nationalgeographic.co.id

Semester lalu, salah satu kolega kami di perguruan tinggi keagamaan Islam mengajukan kenaikan pangkat untuk guru besar. Hanya saja, usulannya belum diterima dengan salah satu catatan bahwa artikelnya di jurnal ditulis seorang diri. Padahal, dalam pandangan penelaah kenaikan pangkat tersebut bahwa menulis sejatinya perlu kolaborasi.

Ketikan ini tidak akan membahas itu. Tentu ada pro dan kontra tentang menulis sendiri atau menulis bersama. Hanya saja, ketika menulis untuk keperluan publikasi akan lebih cepat dan komprehensif jikalau saja dilakukan secara tim. Saya menyebutnya dengan istilah berjamaah. Dimana sebuah artikel ditulis bersama-sama dengan kolega dalam rumpun ilmu yang sama.

Saat menulis bersama-sama, akan menjadi kesempatan bagi para penulis untuk berdiskusi. Dengan demikian, informasi yang dituangkan dalam sebuah tulisan sudah melalui proses diskusi. Termasuk akan sangat komprehensif karena dengan adanya beberapa orang yang menulis akan saling mengoreksi jikalau ada materi yang tidak sesuai dengan pakem keilmuan.

Salah satu kendala dalam menumbuhkembangkan kolaborasi menulis adalah soal nilai kum untuk kenaikan pangkat. Hanya saja, jikalau mengharap untuk mendapatkan nilai 100% tetapi produktifitas riset tidak meningkat, maka akan lebih jikalau dengan sedikit nilai kumulatif dalam kenaikan pangkat tetapi ada beberapa karya yang bisa dihasilkan dalam satu kurun waktu tertentu. Untuk itu, dengan sinergi dengan kolega memungkinkan mengurangi kesilapan selama proses penulisan dilakukan.

Tidak hanya itu, dengan nilai walaupun sedikit tetapi mampu mendongkrak produktifitas riset tentunya akan lebih baik berbanding mengunggu hasil sendiri yang tak kunjung terbit. Beberapa hal yang dapat dilakukan mulai dari masalah penelitian yang sangat sederhana, disesuaikan dengan minat masing-masing. Tidak lagi sekadar penelitian yang hanya sampai penelitian saja tetapi perlu ditransformasi menjadi sebuah luaran yang terregistrasi.

Sebuah penelitian jikalau belum hadir dalam bentuk penerbitan yang ber-isbn atau issn, belum dapat dikategorikan sebagai sebuah publikasi. Akan lebih cepat jika ada salah satu anggota tim yang membuat draft, selanjutnya dikoreksi bersama, kemudian disempurnakan dalam diskusi, dan menuju proses penerbitan ke sebuah jurnal. Jika dilakukan secara bersama akan lebih ringan dan cepat. Pepatah lama tak akan pernah usang “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”. Jika ini juga digunakan dalam soal publikasi, akan menjadi kesempatan dalam mengemban tugas-tugas profesi dengan lebih baik. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top