Menangkal Hoax dengan Jurnalistik Siswa

Rubrik Literasi Oleh

Oleh Yudhi Kurnia
Pendidik/Humas SMP Muhammadiyah 8 Bandung

“Menangkal berita hoax adalah kewajiban setiap Warga Negara Indonesia, tidak terkecuali di instansi-instansi pendidikan, terutama guru dan para siswa – Dengan aktivitas jurnalistik mendorong para siswa untuk dapat mencari kebenaran sebuah informasi sebelum mempercayai kemudian menyebar luaskannya.”

Beberapa waktu terakhir dunia maya ramai dengan pemberitaan yang tidak benar, atau sering disebut dengan istilah “hoax”. Berita bohong atau hoax tersebut menyampaikan sebuah informasi yang tidak jelas, baik dari sumber maupun isi beritanya. Secara sederhana dapat diartikan, jika berita hoax mempunyai tingkat kredibelitas yang sangat rendah, serta isi informasi yang dipertanyakan. Sekaitan dengan hal tersebut, berdasarkan saluran penyeberannya berita hoax sering kita jumpai diberbagai media sosial.

Media sosial adalah salah satu media yang banyak digunakan orang untuk mendapatkan, membuat, maupun menyebarkan berita bohong dibandingkan dengan media cetak, seperti koran, majalah, atau bahkan buku. Hal ini disebabkan, informasi melalui media sosial seringkali secara langsung diterima mentah-mentah, tanpa adanya kroscek atau dalam bahasa agama Islam sering disebut tabayyun. Tak jarang para penggiat media sosial ini secara langsung membagikan informasi yang belum cukup tingkat kredibilitasnya tersebut. Hal ini berpotensi menimbulkan kekacauan informasi, bahkan lebih jauh membuat berita yang sejatinya benar menjadi tidak terpercaya lagi, sampai akhirnya  dianggap sebagai berita hoax.

Sebuah kabar yang mencengangkan dan menyedihkan untuk Warga Jawa Barat terjadi, seperti yang diberitakan oleh sebuah koran di Bandung yang mengatakan bahwa, Warga Jawa Barat adalah yang tertinggi dalam mengunggah berita hoax. Hal ini patut disayangkan, mengingat sebuah daerah yang terkenal dengan kultur warga yang sopan dan santun harus tercoreng dengan berita yang demikian. Predikat Warga Jawa barat sebagai daerah tertinggi dalam mengunggah berita hoax beberapa waktu kebelakang, mendorong Gubernur Jawa Barat ikut serta menghadiri sebuah acara pendeklarasian masyarakat Jawa barat. Deklarasi Perangi Hoax.

Pendeklarasian tersebut memunculkan beberapa poin penting untuk mengantisipasi se-makin maraknya penyebaran berita hoax. Salah satunya adalah menuntut perusahaan-perusahaan media sosial seperti facebook, twitter, youtube dan media sosial lainnya, agar berperan aktif dalam menghentikan penyebarluasan berita hoax. Selain itu, juga menghimbau kepada Warga Jawa Barat secara khusus untuk tidak membuat atau menyebarkan berita hoax dalam bentuk apapun, serta tidak mudah mempercayai hoax dan melakukan proses verifikasi, hingga lebih berhati-hati dan menahan diri dalam berkomunikasi melalui media sosial.

Seperti yang telah disampaikan pada kutipan awal, jika setiap warga negara berhak dan mempunyai tanggung jawab yang sama perihal memerangi hoax, begitu juga di ruang-ruang pendidikan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan harus juga berperan aktif dalam menangkal segala macam bentuk pemberitaan yang mengarah pada hoax. Membudayakan bertanya ataupun mencaritahu kebenaran dari sebuah informasi yang diterima menjadi kewajiban bagi setiap insan di pendidikan, agar tidak termakan berita bohong. Ke-tabayyun-an atau mencari tahu mengenai sebuah informasi secara lengkap, benar dan jelas adalah keharusan.

Tabayyun secara bahasa memiliki arti mencari kejelasan tentang suatu hal hingga jelas benar keadaannya. Secara istilahtabayun berarti meneliti, menyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam hukum, kebijakan dan sebagainya hingga jelas benar permasalahannya.

Sekaitan dengan hal tersebut, secara sederhana dapat diartikan, tabayyun mampu menjadi solusi untuk menangkal berita bohong. Dengan tabayyun, maka efek negatif yang ditimbulkan dari berita yang tidak benar tersebut dapat dicegah. Dampak yang ditimbulkan dari berita bohong tersebut bisa langsung dirasakan atau tertunda untuk jangka waktu tertentu. Jika semua orang peduli dan mau ikut berperan aktif, maka budaya menyebar berita bohong akan mudah dihentikan. Tentunya dengan ber-tabayyun dalam menanggapi macam-macam berita.

Pelajar adalah pengguna aktif media sosial yang paling disoroti. Hal tersebut karena memang dampak berita bohong atau hoax di era digital melalui media sosial paling banyak dialami oleh kalangan pelajar. Kemudahan perangkat dan akses media sangat memungkinkan para pelajar menerima banyak informasi yang tidak jelas dan benar, baik itu sumber maupun isinya. Seperti dalam beberapa kerusuhan yang terjadi di satu kota metropolitan yang disebabkan oleh berita melalui media sosial yang tengah viral. Diberitakan bahwa salah seorang yang mengalami gangguan mental nyaris tewas dihakimi massa dikarenakan maraknya pemberitaan kasus pemerkosaan yang dilakukan orang gila, yang dalam pemberitaannya sengaja menyamar dan melakukan tindakan asusila. Berdasarkan berita tersebut orang yang tidak berdosa menjadi salah sasaran amuk massa yang termakan oleh berita bohong atau hoax.

Hal ini mendorong setiap instansi pendidikan, selain harus menanamkan pemahaman perihal ke-tabayyun-an pada siswa, juga wajib mempunyai program untuk menyadarkan dan juga memberikan pemahaman tentang bahaya dari Hoax. Memberikan pemahaman akan bahaya berita bohong di kalangan pelajar sangatlah sulit. Kemampuan mereka dalam menggunakan sosial media akan memudahkan mereka dalam menerima begitu saja berita bohong yang ada, tanpa adanya filter yang baik untuk siswa dapat membedakan mana yang benar dan tidak. Merancang dan membuat filter ini merupakan peranan yang sinergis yang harus dilakukan antara lingkungan rumah dan sekolah. Kegiatan belajar dan pembelajaran yang memberikan pe-mahaman mengenai berita bohong harus diberikan secara intens dan juga inovasi yang tinggi, serta tidak lupa dukungan dari lingkungan rumah adalah bagian penting lainnya yang harus berjalan beriringan.

Kesadaran akan bahayanya berita bohong harus tumbuh dari diri para peserta didik sendiri. Pembekalan dalam program konseling ataupun seminar, mutlak dan perlu dilakukan. Namun, pengalaman dan kesadaran atas dasar diri sendiri jauh akan mengefektifkan pemahaman bahayanya hoax. Untuk itu, ada kemampuan siswa dalam ranah jurnalistik yang harus ditingkat-kan. Kemampuan siswa untuk dapat mencaritahu sebuah kebenaran berita adalah dengan melatih mereka untuk bisa membuat berita dengan kaidah pemberitaan yang baik.

Melatih para generasi muda dengan ilmu jurnalistik sangat diperlukan. Hal ini untuk mengantisispasi berita bohong yang tersebar dan sengaja disebarkan. Dalam berlatih menulis dan menyampaikan berita ada rambu atau ketentuan untuk betul memberitakan fakta yang sebenar-nya terjadi. Memberitahu fakta secara akurat dari sumber yang kompeten menjadi keharusan dalam memberitakan sebuah informasi. Sederhananya, karena berita diambil dari sumber yang kompeten dan terpercaya, maka informasi tersebut akan jauh dari informasi yang bersifat bohong atau hoax.

Para generasi muda Indonesia harus mampu mengabarkan pesan yang benar berdasar pada fakta-fakta yang ada dan sudah teruji. Melalui kegiatan penyampaian berita atas sebuah peristiwa, diharapkan dapat melatih para siswa untuk selalu bersikap kritis atas informasi yang diterima, selanjutnya mereka akan berusaha untuk mencari kebenarannya, sebelum akhirnya menyebarkannya. Pemahaman terkait pemberitaan akan turut serta menjadi solusi bagi para siswa untuk mengerti sekaligus dapat memfungsikan sebuah berita dengan sesuai. Harapan penulis dengan aktivitas jurnalisme di sekolah yang melekat kuat pada diri siswa, adalah para siswa tidak akan mudah terjerumus dengan berita-berita bohong.

Materi jurnalistik perlu diketahui dan tersampaikan pada generasi muda Indonesia, termasuk pelajar. Jurnalistik bukan hanya milik sebagaian profesi saja. Sekolah dengan jurnalistiknya, adalah tempat yang tepat untuk mencipta: insan-insan yang jauh dari berita bohong; yang mampu bijak pada macam-macam pemberitaan; serta yang mampu menjadi sumber dari berita baik dan bermanfaat. Menerapkan pendidikan jurnalistik merupakan implementasi dari sekolah yang literat. Ketika sekolah sudah mampu menjadi sekolah yang literat, maka setiap diri di dalamnya terjauh dari pemberitaan yang bersifat hoax. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top