Perguruan Tinggi Tak Hanya Soal Riset

Rubrik Pendidikan Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Cendekiawan muda muslim yang tergabung dalam Majelis Sinergi Kalam ICMI berkumpul di Bandung, akhir September. Dalam suasana Rapat Koordinasi Nasional (RAKORNAS), cendekiawan muda mendiskusikan banyak hal, termasuk soal pendidikan tinggi.

Isu pemberhentian salah satu rektor perguruan tinggi negeri juga menjadi wacana. Berkaitan dengan itu, sejatinya aktivitas pertama dan utama perguruan tinggi adalah terletak pada pendidikan dan pembelajaran. Kelas-kelas menjadi sangat diperlukan untuk menjadi momen “transfer of knowledge”. Bukan pada riset saja. Hal paling penting adalah pada pilar pendidikan yang menjadi penyanggah perguruan tinggi.

Rezim birokrasi perguruan tinggi menggaungkan riset dan publikasi yang dijadikan sebagai tumpuan. Padahal, research based university tak lebih pada penyanggang semata. Bukan pilar pendidikan tinggi, sementara riset dan publikasi hanya merupakan bagian kecil dari amanah utama yang diemban sebuah perguruan tinggi.

Kelaslah yang menjadi laboratorium perguruan tinggi. Bukan terletak di ruang-ruang yang didalamnya justru perbincangan tentang riset dan publikasi. Walaupun demikian, tidak berarti bahwa riset dan publikasi harus ditinggalkan. Melainkan itu merupakan komplementer semata.

Godaan aktivitas riset dan publikasi merupakan sebuah sisi lain keduanya. Bagi yang menyukai jalan-jalan, dengan riset akan menjadi kesempatan untuk tidak di wilayah kampus saja. Begitu pula, kesempatan untuk melanglang buana selalu tersedia. Tetapi dosen sebagai cendekiawan, bukan disitu saja tempatnya. Mereka dirindukan oleh mahasiswanya, demikian salah satu ungkapan peserta rakornas.

Saya sepenuhnya setuju itu. Maka, proses untuk penguatan kapasitas dosen dalam menyelenggarakan pembelajaran sama pentingnya dengan kesemarakan untuk melatih dosen dalam mempersiapkan manuskrip artikel untuk sebuah jurnal bereputasi.

Dalam menulis, Prof. Oman Faturahman mengingatkan untuk meluruskan niat. Amanat beliau bahwa menulis menjadi sebuah keperluan. Tetapi bukan untuk menjadi ukuran tertentu. Apalagi kalau didasarkan pada jabatan. Menulis dalam penegasan Prof. Oman menjadi aktivitas utama dosen. Soal pangkat dan lainnya, semata-mata bonus saja.

Seminar, konferensi, simposium, sepenuhnya adalah bagian dari proses pembelajaran. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk meninggalkan pembelajaran demi menyukseskan riset dan publikasi. Justru dengan proses pembelajaran akan memberikan stimulus bagi hadirnya ide yang dapat diteruskan dalam riset yang berujung pada publikasi.

Akhirnya, jikalau sebuah perguruan tinggi diukur dengan publikasi, terutama berkaitan dengan pangkalan data bereputasi. Saatnya, mulai berhenti sejenak. Perlu juga kembali dilakukan koreksi bahwa arah pendidikan tinggi bukan pada semua rangking, pemeringkatan, dan juga pengakuan indeks.

Perguruan tinggi tetap saja berpijak pada urusan transformasi sosial di lingkungannya masing-masing. Tidak perlu juga berskala global. Cukup untuk memenuhi hajat masyarakat dimana perguruan tinggi bermukim. Jikalau mendapatkan pengakuan global, maka itu bonus semata. Bukan tujuan sama sekali. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Go to Top