Las Vegas Kelabu: Stephen Paddock dan Kehampaan Spiritual di Amerika

Rubrik Opini Oleh

Oleh: La Ode Mu’jizat

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar orang menyebut ‘Amerika Serikat’? Barangkali hal berikut ini mewakili: Hollywood, Mark Zuckerberg, kiblat gaya hidup, tempat bermukim para Coboy, Harvard, dunia yang aman bagi demokrasi, kebebasan beragama, negara paling kuat di seantero jagad, teknologi terbaru, surga bagi pemuja popularitas, dan lain sebagainya. Adapula yang menyebut Negara yang merdeka pada tahun 1776 itu sebagai tanah impian.

Mungkin segala fasilitas teranyar di muka bumi ini ada di sana. Teknologi yang memanjakan manusia dari ujung rambut sampai ujung kaki tersedia pula di negri berpenduduk terbesar ke-3 di dunia itu. Karenanya banyak orang berlomba menyambanginya. Dengan harapan bersua sumber-sumber kebahagiaan hidup. “Rakyat Amerika adalah penduduk yang paling beruntung dan bahagia di dunia”, mungkin begitu kata sebagian orang. Tapi benarkah demikian?

Mari kita lihat beberapa penggal kehidupan anak-anaknya. Pernah dengar tentang Jimi Hendrix, Janis Joplin, dan Elvis Presley? Mereka adalah pemuda yang lahir dan besar di Amerika Serikat. Kecuali Elvis yang juga adalah seorang aktor, ketiganya adalah musisi, penyanyi dan penulis lagu yang sangat populer pada zamannya.

Jimi sering disebut sebagai salah satu pemain gitar listrik paling berpengaruh dalam sejarah musik rock. Sementara Janis, oleh majalah Rolling Stone (2004) ditempatkan pada urutan ke-46 dalam daftar 100 Artis Terbesar Sepanjang Masa. Tahukah anda? Ketiganya meninggal pada usia muda karena overdosis.

Sebelum Jimi, Janis dan Elvis lahir, adapula cerita kelam di negri adidaya itu. Pada tahun 1923, beberapa orang terkaya di dunia bertemu di hotel Edgewater Beach Chicago. Ketika itu, mereka mengendalikan uang dengan jumlah yang lebih besar melebihi kas yang dimiliki ‘Uncle Sam’.

Adalah Jess Livermore (investor terbesar Wall Street), Leon Fraser (Direktur Bank Penyelesaian Internasional), dan Ivan Kreuger (kepala monopoli terbesar dunia), hadir pada pertemuan tersebut. Tragisnya, beberapa tahun kemudian pasca pertemuan itu, Jess, Leon dan Ivan ditemukan meninggal akibat bunuh diri.

Well, apa yang sebenarnya sedang terjadi di negara itu? Bukankah berbagai hal yang dianggap sebagai sumber kebahagiaan hidup melimpah di sana? John Naisbith dalam bukunya yang berjudul ‘high tech high touch (Mizan, 2002)’ menyebut bahwa warga Amerika Serikat sedang mengalami kehampaan spiritual yang mengecewakan dan berbahaya. Kondisi jiwa yang kering kerontang. Sebuah kehidupan tanpa makna.

Inilah menurut pendapat Saya, yang menjelaskan mengapa popularitas, kekayaan, dan menumpuknya fasilitas penyenang hidup, tak mampu membendung keinginan bunuh diri sebagian rakyatnya. Ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan mereka. Ianya adalah spiritual.

Maka Saya tak kaget ketika Stephen Paddock baru-baru ini melakukan pembantaian massal di Las Vegas, Amerika Serikat dengan senapan otomatisnya. Puluhan orang tewas akibat ulah pria berusia 64 tahun itu. Aksi ini tercatat sebagai penembakan massal paling mematikan dalam sejarah modern negri yang pernah dipimpin oleh Barack Obama itu.

Informasi dari beberapa sumber berita online yang Saya baca, menyebutkan bahwa Stephen adalah seorang investor properti multijutawan. Saat itu dirinya sedang menjalani masa pensiun yang tenang dan banjir harta di Nevada. Hobinya adalah bermain poker dan menaiki kapal pesiar, serta makan burrito di Taco Bell.

Sebelumnya tak ada catatan kriminal melekat pada dirinya. Hidupnya tampak normal. Tapi mengapa ia melakukan hal paling brutal yang menghilangkan nyawa puluhan orang di negrinya? Setelah itu dirinya lalu bunuh diri? Stephen Paddock mengalami kehampaan spiritual. ***

Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top