Lesson Study Guru Daerah 3T

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh: In Amullah, S.Si, SGI
(Guru SMA Ibnu Hajar Boarding School)

Kondisi guru di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (Daerah 3T) bisa dibilang ‘seperti telur diujung tanduk’. Mengapa demikian? Di satu sisi para guru 3T ini dituntut untuk mengajar, mendidik dan membimbing peserta didiknya secara profesional, kreatif dan menyenangkan. Akan tetapi, di sisi lain mereka dihadapkan dengan kondisi daerah yang terisolir, sarana prasarana kurang memadai, buku terbatas, akses informasi dan teknologi sangat minim. Ketika guru di perkotaan sudah menggunakan teknologi 4G, lain halnya dengan guru daerah 3T merasakan 1G pun tidak bisa karena belum adanya sinyal di daerah tersebut. Selain itu, guru di daerah 3T juga kurang mendapatkan akses untuk meningkatkan pedagogik­-nya (ilmu atau seni menjadi guru). Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya kualitas pembelajaran di daerah 3T.

Masalah lain yang dihadapi guru daerah 3T adalah kurang aktifnya Kelompok Kerja Guru (KKG). Padahal kita tahu bahwa KKG merupakan wadah bagi guru untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya. Sebagaimana Menurut Direktorat Profesi Pendidik, KKG (Kelompok Kerja Guru) merupakan wadah atau forum kegiatan profesional bagi para guru Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah di tingkat gugus atau kecamatan yang terdiri dari beberapa guru dari beberapa sekolah. Akan tetapi apa jadinya jika KKG di suatu daerah tidak berjalan maksimal? Salah satu contohnya seperti yang terjadi di Loloda Kepulauan. KKG di kecamatan tersebut tidak aktif. Hal ini berdasarkan pengalaman penulis saat bertugas sebagai aktivis Sekolah Guru Indonesia (SGI) di Kecamatan Loloda Kepulauan, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara (2014-2015).

Loloda Kepulauan merupakan daerah 3T yang berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik. KKG yang ada di Loloda Kepulauan kondisinya andilau (antara dilema dan galau). Hal ini bukan tanpa sebab. Kenapa KKG disana vakum? Pertama, karena UPT Pendidikan Kecamatan Loloda Kepulauan hanya dikelola oleh satu orang. Kedua, karena faktor kondisi geografis kepulauan, dalam satu kecataman wilayahnya terbagi menjadi 4 pulau dan terpisahkan oleh lautan. Inilah tantangan medan bagi masyarakat kepulauan. Permasalahan guru di Loloda Kepulauan tidak hanya itu saja, guru-guru di wilayah kecamatan tersebut juga rata-rata berlatar belakang lulusan D2 dan berstatus honorer. Bahkan masih ada juga guru yang hanya lulusan SMA. Padahal menurut Undang-undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, mempersyaratkan guru untuk memiliki kualifikasi akademik minimum S1/D4, memiliki kompetensi sebagai agen pembelajaran yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional, serta memiliki sertifikat pendidik.

Oleh karena itu untuk meningkatkan kualitas guru di daerah 3T dengan kondisi KKG yang tidak aktif diperlukan strategi lain, salah satunya adalah melalui Lesson Study. Apa itu Lesson Study? Secara bahasa, Lesson study berarti kaji pembelajaran. Menurut Rudi Hermawan (2009) Lesson Study adalah suatu model peningkatan mutu pembelajaran melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community. Di Indonesia, lesson study telah diterapkan di tiga daerah yaitu Malang, Yogyakarta dan Bandung sejak tahun 2006 (Firman, 2007). Konsep dan praktek lesson study ini pertama kali dikembangkan oleh para guru pendidikan dasar di Jepang, yang dalam bahasa Jepang-nya disebut dengan istilah Jugyou (instruction = pengajaran, atau lesson = pembelajaran) dan kenkyuu (research = penelitian, atau study = kajian). Lesson study dalam penerapannya bisa dilakukan di tiap sekolah atau gabungan beberapa gugus sekolah. Dalam praktiknya, kegiatan Lesson Study terdiri atas 3 tahapan utama, yaitu tahap persiapan (Plan), pelaksanaan (Do) dan refleksi (See). Ketiga tahapan ini direncanakan, dilaksanakan dan direfleksikan secara bersama-sama oleh suatu komunitas lesson study.

Berdasarkan pengalaman penulis saat menerapkan lesson study di Loloda Kepulauan, kegiatan tersebut cukup efektif dan menarik perhatian bagi guru-guru pembelajar. Kegiatan tersebut diikuti oleh guru-guru perwakilan tiap sekolah dasar se-Kecamatan Loloda Kepulauan. Kegiatan tahap pertama adalah perencanaan yang terdiri atas sosialisasi, perencanaan dan pembentukan Komunitas Lesson Study Loloda Kepulauan (Komunitas Guru Pembelajar).  Para guru yang mengikuti kegiatan ini merasa senang karena dapat menambah wawasan mereka dan bisa sharing dengan guru-guru yang lain. Pada tahap pertama ini memutuskan rencana bersama tentang sebuah rencana pembelajaran dengan menyusun RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dan menetapkan satu guru model sebagai pelaksana kegiatan belajar mengajar. Dalam lesson study ini guru modelnya dari aktivis SGI.

Tahapan kedua dalam lesson study adalah tahap pelaksanaan. Kegiatan Lesson Study Loloda Kepulauan dilaksanakan di SDN Dama. Dalam pelaksanaannya dilakukan di dua ruangan yang terbuka satu aula. Ruangan pertama sebagai kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan guru modelnya sebagai subjek pengajar. Sementara ruangan kedua yang berada di belakang sebagai ruang observer. Guru model melakukan KBM di kelas dengan siswa-siswa, sementara guru-guru peserta komunitas lesson study lainnya berada di belakang bertugas mengobservasi semua kegiatan belajar mengajar dari awal pembukaan hingga penutupan. Para guru observer ini dibekali dengan lembar observasi guru mengajar dan lembar evaluasi catatan siswa dan guru yang sedang melakukan pembelajaran di kelas.

Tahapan ketiga dalam lesson study adalah refleksi. Tahapan ini dilakukan usai kegiatan belajar mengajar guru model. Setelah selesai KBM semua siswa pulang sedangkan guru model beserta guru-guru yang lain melakukan refleksi pembelajaran. Refleksi diawali dari guru model terlebih dahulu, lalu dilanjutkan dengan refleksi dari semua guru yang hadir sebagai observer. Masing-masing guru observer tersebut memberikan masukan, evaluasi dan penilaian terhadap guru model selama berlangsungnya pembelajaran. Dalam tahap ini terjadi diskusi yang cukup menarik antara guru observer yang saling memberikan masukan untuk perbaikan, mulai dari RPP, metode pembelajaran di kelas, manajemen kelas dan semua aktivitas selama pembelajaran. Kegiatan refleksi ini semata-mata bukan menilai guru model, akan tetapi semua refleksi berupa masukan, kritikan dan saran-saran tersebut juga buat masing-masing guru itu sendiri. Usai melakukan refleksi bersama dan diskusi yang cukup panjang, semua peserta komunitas lesson study ini merumuskan kegiatan lesson study untuk pertemuan berikutnya.

Demikian penerapan lesson study yang pernah penulis lakukan saat bertugas di Maluku Utara. Melalui kegiatan lesson study tersebut para guru daerah 3T bisa belajar, berkarya dan meningkatkan kualitas keguruannya. Tentunya hal tersebut sangat membantu mereka dalam mengembangkan pembelajarannya di sekolah masing-masing. Sebelum melakukan lesson study tersebut, penulis dan tim SGI sebelumnya telah melakukan TFT (Training for Teacher) berupa materi tentang pedagogik, model pembelajaran, hingga manajemen kelas. Dalam praktek pelaksanaannya lesson study ini bisa berselang-seling dengan TFT tentang suatu materi yang dibutuhkan oleh guru-guru di daerah tersebut. Dalam penerapannya, lesson study dapat dilaksanakan dalam satu sekolah, kelompok sekolah, maupun kelompok guru yang tergabung dalam KKG. Sebagaimana menurut Rudi Hermawan (2009) Suatu sekolah dapat melaksanakan school based lesson study, jika banyaknya guru mata pelajaran sejenis atau serumpun minimal 3 (tiga) orang, untuk mata pelajaran yang akan diterapkan lesson study. Mereka dapat secara rutin bersama dan berkelanjutan dalam melaksanakan lesson study, baik dalam perencanaan (plan), implementasi (do) dan observasi serta refleksi (see) pada suatu mata pelajaran tertentu.

Penerapan lesson study untuk meningkatkan kualitas guru di daerah 3T tentunya harus didukung oleh semua pihak mulai dari kepala sekolah, UPT hingga dinas pendidikan setempat. Karena tugas mencerdaskan generasi bangsa adalah tugas kolektif semua elemen pendidikan mulai dari sekolah, masyarakat hingga pemerintah pusat. Sementara guru adalah aktor utama yang bergerak langsung bertatap muka dengan peserta didiknya. Guru daerah 3T sebagai sosok yang paling berpengaruh dalam kehidupan peserta didiknya harus senantiasa berbenah diri meningkatkan kualitas pedagogiknya sebagai guru pembelajar. Adanya ruang belajar berupa lesson study ini bisa menjadi sarana saling belajar bersama diantara guru-guru daerah 3T. Oleh karena itu, sumber daya guru harus senantiasa ditingkatkan kualitasnya agar tercipta pembelajaran yang paripurna. Bangga jadi guru, guru berkarakter, menggengam Indonesia. ***

Guru Biologi di SMA Ibnu Hajar Boarding School – Cimanggis, Depok. Penulis juga merupakan Aktivis Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa yang pernah bertugas sebagai relawan SGI Halmahera Utara (Maluku Utara) ditempatkan di Loloda Kepulauan selama 1 tahun (2014-2015). Beberapa tulisannya pernah dimuat di media cetak maupun media online, seperti Malut Post, Posko Malut, Radar Halmahera, Fajar Malut, Mata Publik, Kantor Berita Pendidikan dan dakwatuna.com. Selain itu, penulis juga memiliki beberapa karya antologi buku yang sudah terbit, diantaranya: Cinta Membaca (Leutika Prio, 2012), Resolusi Hebatku (Leutika Prio, 2012), Perempuanku (Surat Cinta untuk Ibu), (Puput Happy Publishing, 2012), Yang Terabaikan (Nulisbuku.com, terbit Mei 2012), Stories of Tegal Laka-Laka (deKa Publishing, 2012), Tas, Buku dan Sepatu (Penerbit Awan Pustaka, 2012), “Kepada Ayah” (Penerbit Harfeey, 2013), Temani Aku Meniup Mimpi (Sekolah Guru Indonesia, 2015) dan Cinta Seorang Guru (Sekolah Akhlak Publishing, 2015). Selain aktif mengajar, saat ini penulis juga mengelola Komunitas Saung Ilmu KASGI (komunitas taman baca masyarakat). E-mail: kang.amroelz@gmail.com. Blog: www.kang-amrul.com

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Go to Top