Terapkan Pola Asuh Mandiri untuk Melawan Bully

Rubrik Opini Oleh

Rahmi Dahnan, Trainer dan PSikolog Yayasan Buah Hati menjadi narasumber pada seminar Stop Bullying kepada Anak (4/10/2017) yang diadakan Yayasan Senyum Ibu Indonesia (YSII) di RPTRA Rusun Tanah Tinggi. Pada seminar tersebut, Rahmi sangat mengarisbawahi pola pengasuhan mandiri kepada anak. “Sebaiknya, anak usia 2th sudah bisa makan sendiri, memakai pakaian sendiri. Untuk pakaian, biasakan bawa baju ganti di kamar mandi. Setelah bermain, ajarkan anak untuk merapikan mainannya. Bukan melarangnya bermain. Ibu harus bangun pagi untuk menjadi guru bagi anak. Bangun dasar akidah kepada anak, agar tahu mana yang baik/buruk, benar/salah, halal/haram sebelum ia berusia 5 th. Ajarkan anak tertib, bangun rasa percaya diri, dan orangtua juga tidak pelit pujian bila anak sudah berhasil atas suatu pencapaian” urai Rahmi.

Pola asuh yang menerapkan pondasi pengetahuan yang baik kepada anak mengenai aturan mana yang baik, mana yang benar dan mana yang boleh, menurut Rahmi harus disampai dengan prinsip TTS. T pertama itu Tegas. T kedua itu Tegar dan S nya adalah Sabar. “Orangtua harus tahu caranya menyampaikan aturan. Jangan menjadi ortu bully bila ingin menegakan aturan. Agar anak happy, dikomunikasikan. Anak juga diajarkan untuk menahan keinginan, mengetahui aturan dan dibiasakan menaati aturan. Kuncinya Tegas, bukan Kasar. Tegar tidak lembek. Apalagi setelah marah-marah, lalu melunak dan meizinkan anak melanggar aturan. Dan Sabar, kalau mau marah, tahan, lalu alihkan” ujar Rahmi.

Rahmi juga mengajarkan para peserta yang diwakili oleh perwakilan orangtua dan guru dari 11 PAUD di kelurahan Tanah Tinggi, berlatih neurosains dan hipnoterapy. “Otak anak itu terdiri dari berbagai macam sambungan. Orangtua bisa merubah atau membangun sambungan baru di otak anak ke sambungan yang baik, bisa di latih dengan neurosains dan hipnoterapy. Bila anak marah, orantu dapat mendekap anak dan membisikan kata-kata yang baik kepada anak. Memberi ia sugesti. Bisa juga dengan membacakan cerita sebelum tidur, terutama bila ia sudah mengantuk, beri anak sugesti positif” papar Rahmi.

Untuk masalah bullying, rahmi berpesan untuk mengajarkan anak tidak takut kepada anak yang membuly dirinya, tapi ia juga tidak diajarkan membalas temannya tersebut. “Dengan demikian yang dilatih adalah percaya diri. Emosi mengalir seperti air. Ia akan menurun ketempat lain. Orangtua dan guru juga jangan kerap membully anak. Dan jangan sampai anak depresi karena omongan orang tua. Bila ingin anak berubah, sikap orangtua juga harus berubah. Diperlukan kesadaran ayah ibu untuk menjaga anak dari kata-kata dan perilaku yang tidak sepantasnya diterima anak. Keterampilan orangtua bercerita untuk anak, hal penting dalam pengasuhan. Tujuannya disamping untuk mengalihkan perhatian dikala marah, juga memberi sugesti positif agar anak mandiri dan terhidar dari menjadi korban atau pelaku bullying. Karena sifat bullying itu juga mengalir” tutup Rahmi. ***

Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top