Home » Opini » IT dan Hasil Karya » 84 views

IT dan Hasil Karya

Rubrik Opini Oleh

Oleh: Fortin Sri Haryani

Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya telah menyebar dari komunitas internasional hingga ke pelosok negeri. Dunia pendidikan, perdagangan, pariwisata, perbankan hingga ke rumah tangga hampir dipastikan terkoneksi dengan IT. Masyarakat dari berbagai lapisan hingga individu baik anak-anak, remaja, hingga orang dewasa seakan tak mampu mengelak dari masivnya perkembangan IT. Kemajuan IT ibarat pisau bermata dua, memberi manfaat di satu sisi, namun di sisi lain bisa mendatangkan kemudharatan sehingga memerlukan kedewasaan dalam memanfaatkan IT.

Menyadarkan generasi muda agar bijak memanfaatkan IT menjadi salah satu tantangan dunia pendidikan saat ini. Seperti Bobby De Potter1 dalam bukunya Quantum Teaching menyampaikan: untuk membuat siswa mau mengikuti kita adalah dengan masuk ke dunia mereka, setelah terbangun kepercayaan mereka terhadap kita, maka kita tarik mereka ke dunia kita. Setelah kita berusaha memahami seluk beluk IT di dunia remaja, entah itu sosial media atau game on line, kemudian terbangun kedekatan (attachment) dengan mereka, hingga terjalin rasa saling mempercayai, selanjutnya kembali kita sadari tentang eksistensi kita bagi mereka. Mendampingi dan memberikan rambu-rambu etika dalam berselancar di dunia IT.

IT (Baca : gadget) telah menjelma seakan-akan menjadi kebutuhan primer saat ini. Dan hal ini sebenarnya dapat dijadikan sebagai peluang bagi kita untuk kita jadikan sebagai sarana merangsang kreativitas dan daya inovasi siswa. Sehingga IT memberikan nilai tambah kemanfaatan bagi mereka. Misalnya dengan mengadakan workshop membuat Mobile aplikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan si pengguna. Seperti yang dilakukan SMA Fajar Hidayah dengan Swiss German University baru-baru ini. Siswa diajarkan bagaimana membuat aplikasi tanpa coding yang rumit sehingga remaja dapat dengan mudah membuat aplikasi sesuai dengan yang diinginkan. Nilai positif dari kegiatan ini adalah menumbuhkan kreativitas siswa, sehingga mereka bukan hanya menjadi objek, namun sebagai subjek. Seperti slogan workshop ini : “Don’t just be a user, You have to be a creator”.***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,
Go to Top