Kantin Integritas sebagai Indikator Perilaku Siswa

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh: Yudhi Kurnia

Miris, melihat dan mendengar berita, tentang banyaknya pejabat publik yang tertangkap tangan melakukan tindakan yang di duga korupsi. Kenapa di duga? Sebelum adanya putusan bersalah atau tidaknya dari pengadilan maka si pelakunya masih di sebut terduga. Meski baru terduga, tetap saja kabar adanya penangkapan ini membuat hati ini bergetar. Perilaku ketidakjujuran sudah merajalela. Parahnya hal tersebut dilakukan oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi dan mempunyai keilmuan yang tinggi sesuai dengan yang di bidanginya.

Sebagai anak bangsa yang berprofesi sebagai pendidik tentu saja saya berkewajiban berkontribusi untuk menanggulangi tindak korupsi sejak dini dimulai dari para peserta didik. Sebagai pendidik, memberikan pemahaman tentang haramnya tindak korupsi mutlak harus terus menerus di sampaikan. Tindakan korupsi, sedikit maupun banyak tetap saja sebuah perbuatan yang sangat di benci Allah dan hukumnya haram. Korupsi sama artinya dengan mengambil bukan haknya, dengan kata lain korupsi adalah mencuri. Untuk alasan apapun mencuri adalah haram.

Memberikan materi tentang haramnya perbuatan korupsi tidak akan efektif jika hanya di sampaikan melalui ceramah saja dikelas. Harus ada sebuah tindakan nyata, guna membelajarkan siswa agar sadar terhadap tidak baiknya berperilaku tidak jujur. Semua pendidik dari semua mata pelajaran harus sedikitnya menyelipkan pemahaman karakter untuk senantiasa bertindak jujur.

Jika guru secara massif memberikan pemahaman dilarangnya berbuat korupsi hanya didalam kelas. Maka sekolah membuat sebuat aturan dan juga rambu-rambu ataupun cara sedemikian rupa demi terciptanya perilaku jujur dari setiap peserta didik dan sifatnya lebih luas lagi. Salah satu cara untuk membelajarkan peserta didik dalam berlaku jujur adalah dengan mendirikan kantin integritas. Kantin integritas atau sering disebut dengan kantin kejujuran ini berfungsi membelajarkan siswa untuk berperilaku jujur.

Kantin integritas adalah sebuah warung yang menyediakan jajanan namun tidak dijaga oleh petugas. Transaksi dilakukan secara mandiri oleh si pembeli, dari memulai mengambil barang, memasukan uang pembayaran hingga menghitung dan mengambil uang pengembalian, semua dilakukan secara mandiri. Tanpa petugas dan tanpa penjaga. Pembeli hanya mengisikan di daftar pembelian, nama, kelas dan juga uang yang dibelanjakan serta berapa uang pengembalian. Selanjutnya, si pembeli mengambil barangnya. Dengan kantin kejujuran ini, sekolah dapat mengukur seberapa jauh tingkat kejujuran yang dilakukan para siswanya disekolah.

Banyak hal yang dapat diambil dalam kantin kejujuran ini, salah satunya adalah sekolah mempunyai data seberapa banyak siswa yang memang berlaku jujur dan yang tidak. Indikator kejujuran dapat dilihat dari seberapa banyak uang masuk, dan berapa banyak barang yang keluar. Jika uang masuk sama dengan harga barang yang keluar. Maka di pastikan bahwa perilaku jujur sudah terjadi. Namun, jika sebaliknya, maka tingkat ketidakjujuran yang terjadi harus cepat untuk diantisipasi.

Sebetulnya menjadi tidak elok, jika sekolah harus juga menyediakan kamera pengawas untuk setiap gerak-gerik siswa di kantin integritas tersebut. Namun, demi kebaikan dan juga melihat tingkat kejujuran siswa nampaknya pemasangan CCTV mutlak diperlukan.

Sekolah haruslah menjadi lembaga yang betul-betul membelajarkan siswa dalam segala macam bentuk pendidikan sesuai dengan masa perkembangannya. Sikap jujur harus di ajarkan sejak dini. Terlebih di tingkat sekolah dasar dan menengah. Jangan sampai sikap dan sifat ketidakjujuran di biarkan, tumbuh dan berkembang hingga mereka dewasa. Dampaknya, setelah tua mereka menjadi koruptor. Saya berkeyakinan bahwa perilaku korupsi bukan hanya ada kesempatan saja namun juga kebiasaan yang dibawa semenjak kecil.

Dengan diadakannya kantin kejujuran di sudut sekolah, menjadi sebuah pembeda apakah sekolah betul-betul membelajarkan siswa dari segala aspek ataupun tidak. Harapannya semua sekolah dapat menerapkan dan mampu untuk membuat kantin-kantin serupa. Namun, bukan hanya di bentuk tanpa di urus. Sebaliknya dari kantin kejujuran ini maka harus menjadi embrio perancangan program sekolah secara berkelanjutan. ***

————————
Artikel pernah dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat Kolom Forum Guru, Edisi 25 September 2017

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Go to Top