Membaca Buku, Menulis Buku, hingga Bedah Buku

Rubrik Literasi Oleh

(Sebuah Catatan Menjelang Bedah Tapak Tuah)

Menjadi seorang penulis tentu tidak serta-merta. Tak semudah membalikkan telapak tangan. Seorang yang memiliki kemampuan menulis sudah barang tentu ia rajin membaca. Kebiasaan membaca meningkatkan kepekaan dalam menganalisa sesuatu. Kebiasaan membaca terutama membaca kritis akan berdampak pada kemampuan menulis.

Penulis Buku Antalogi Puisi Tapak Tuah, dari kiri ke kanan: Asy’ari Hidayah Hanafi, Muhammad Soleh Kadir dan Benediktus Bereng Lanan

Menulis merupakan sebuah kegiatan yang harus terus diasah. Menulis merupakan sebuah kegiatan intelektualitas yang sangat bermanfaat. Dengan menulis kita bisa menuangkan ide dan isi pikiran kita terhadap sesuatu. Sehingga dapat dikatakan sebuah karya dalam bentuk tulisan merupakan perwakilan dari olah pikiran sang penulis. Dengan menuliskan ide atau pemikiran yang kita miliki, maka ide tersebut tidak mudah hilang begitu saya. Tulisan inilah yang akan menjadi pengingat dari ide cemerlang tersebut. Apalagi jika ide yang kita miliki tersebut sangat berguna bagi perkembangan zaman atau hajat hidup orang banyak. Pasti kita bangga dengan tulisan hasil karya kita tersebut.

Banyak ide yang brilian dari banyak orang cerdas yang terbuang begitu saja. Lantaran hal ini maka penulis pun mencoba mendokumentasikan beberapa tulisan dalam bentuk buku. Karena bagi penulis sayang jika ide-ide yang mungkin sederhana ini hilang begitu saja.

Sebuah tulisan sebagai karya cemerlang sang penulis, hendaklah dipublikasikan. Sehingga akan terjadi transfer keilmuan, wawasan dan pengetahuan bagi pembacanya. Sehingga apa yang kita pikirkan itu bisa diketahui oleh khalayak. Wadah untuk mempublikasikannya juga beragam. Mulai dari hal sederhana seperti mading di sekolah, papan informasi sampai pada yang lebih canggih yakni melalui fasilitas blogging dan media sosial lainnya. Seperti halnya yang sama-sama kita lakukan di facebook ini.

Dahulu ketika membaca tulisan orang lain, penulis merasa bahwa mengumpulkan tulisan hingga menerbitkannya dalam bentuk buku merupakan suatu hal yang sangat sulit. Dan itu penulis buktikan ketika berusaha untuk menghadirkan tulisan dalam bentuk buku yang berjudul “Tapak Tuah” ke hadapan pembaca. Dan ini merupakan buku pertama bagi penulis. Namun ketika kita memiliki kemauan yang kuat maka segalanya menjadi mudah. Dan lagi-lagi hal itu penulis buktikan dengan hadirnya buku pertama ini.

Jujur menerbitkan buku bukalah perkara gampang namun juga bukanlah hal yang sulit. Namun untuk menerbitkan sebuah buku banyak hal yang harus diperhatikan agar nantinya buku tersebut bisa dikatakan sempurna. Jika buku yang kita terbitkan itu sangat baik tentu akan mengundang banyak pembaca yang ingin tahu apa isinya. Secara otomatis tentu akan memberi keuntungan bagi penulis itu sendiri.

Satu lagi yang tak kalah pentingnya yakni melakukan bedah buku. Hal ini bertujuan untuk mengetahui dan menakar kemampuan seorang penulis tentang tulisannya. Seorang penulis yang berani mengadakan bedah buku terhadap bukunya, maka penulis tersebut memilih langkah awal untuk maju. Bedah buku adalah sebuah pembelajaran berharga bagi penulis. Karena selain pujian tentu juga akan diperoleh kritik-kritik pedas terhadap buku kita. Tentu sebagai penulis yang dibedah bukunya penulis harus siap.

Tentang hal ini sebagai penulis pemula tentu saya belum memiliki pengalaman yang mumpuni terkait hal ini. Sebelumnya saya hanya mengikuti kegiatan bedah buku sebanyak dua kali. (Asy’ari Hidayah Hanafi- Pengurus Agupena Flotim)

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top