Menanggulangi Krisis Energi dengan Pembangkit Listrik Tenaga Angin Sederhana

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh: Yudhi Kurnia

Krisis energi tidak hanya melanda Indonesia, namun juga dunia. Menurut informasi yang dituliskan di laman web (http://www.kemlu.go.id/id/kebijakan/isu-khusus/Pages/Krisis-Energi.aspx) bahwa ketidakseimbangan permintaan dan penawaran energi yang didorong pesatnya laju pertambahan penduduk dan pesatnya industrialisasi dunia mengakibatkan terkurasnya cadangan energi dalam jumlah besar, khususnya energi fosil yang merupakan sumber energi utama dunia. Pemulihan ekonomi global yang dimotori pertumbuhan ekonomi tinggi di Asia yang diiringi peningkatan permintaan energi untuk industri dan konsumsi, turut mendorong kenaikan harga energi dunia.

Dalam catatan mereka dikatakan proporsi minyak bumi sebagai sumber utama energi saat ini mencapai 40% dari total permintaan energi dunia, namun cadangannya terus berkurang. Pada tahun 2011 pertumbuhan permintaan minyak bumi dunia mencapai 1,7%. Peningkatan produksi yang hanya mencapai 0,9% serta cadangan minyak bumi global yang makin berkurangmenyebabkan negara-negara termasuk Indonesia rentan terhadap risiko terjadinya krisis energi dunia. Kerentanan energi global ini juga sangat dipengaruhi kondisi lain seperti geopolitik. Ketidakstabilan politik di kawasan Timur tengah dan Teluk Persia juga ikut berpengaruh kepada kestablian harga dan pasokan energi dunia.

Indonesia, dalam upayanya meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi, ikut terdampak kondisi energi, baik di tingkat global maupun secara nasional. Cadangan minyak bumi terbukti saat ini di Indonesia diprediksi 9 milyar barel, dengan tingkat produksi rata-rata 0,5 milyar barel per tahun, dan diperkirakan akan habis dalam waktu 18 tahun. Cadangan gas diperkirakan 170 TSCF (trilion standart cubic feed) sedangkan kapasitas produksi mencapai 8,35 BSCF (billion standart cubic feed). Sedangkan, cadangan batubara diperkirakan 57 miliar ton dengan kapasitas produksi 131,72 juta ton per tahun.

Pertanyaan kemudian adalah apa yang akan terjadi saat 18 tahun berlalu? Indonesia akan menjadi pengimpor energi secara murni. Jika saja saat ini belum dimulai untuk mengelola Energi Baru dan terbarukan atau EBT. Krisis energi akan terjadi dimulai sejak dini sehingga nanti, disaat cadangan energi bumi sudah habis.

Pemahaman akan kondisi krisis ini perlu dimiliki oleh para peserta didik di SMP Muhammadiyah 8 Bandung, terutama yang tergabung dalam program STEM – Engineering Class. Kesadaran dslam membuat, merancang pemanfaatan energi baru dan terbarukan dapat di berikan dalam proyek Engineering Class. Proyek membahas tentang bagaimana untuk merancang dan membuat sebuah alat yang bisa di pakai sebagai alat pembangkit listrik.

Para anggota STEM di stimulus dengan informasi awal tentang krisis energi dan sumber-sumber energi yang masuk dalam energi terbarukan. Angin adalah salah satu energi yang melimpah dan terbarukan. Angin ada dimana-mana, namun hanya beberapa area kawasan yang mempunyai energi angin yang besar.

Setelah stimulus tersebut para anggota STEM kemudian di dorong untuk merancang alat yang akan di gunakan sebagai pembangkit listrik tenaga angin secara sederhana. Banyak model dari rancangan alat pembangkit listrik tenaga angin tersebut. Komponen-komponen yang digunakan pun cukup beragam. Pada intinya semua rancangan di bagi dalam komponen penangkap angin(kincir), dinamo dan juga penghubung berupa saklar dan kabel. Tidak hanya itu sistem housing alat pun dibuat. Internet dan buku menjadi sumber dari proyek kali ini.
Kesadaran akan krisis energi saat ini harus mampu membuat para peserta didik menjadi _aware_ dengan kondisi kehidupan di masa yang akan datang. Langkah awal dalam menghadapi krisis energi adalah dengan cara berhemat sejak dini. Menggunakan energi hanya pada saat memang dibutuhkan saja dan mematikan listrik misalnya pada saat sudah tidak digunakan.

Rancangan mendasar yang dibuat siswa ini memang tidak akan mampu menandingi krisis yang terjadi. Namun, kesadaran akan krisis dan juga usaha sadar untuk dapat menghemat energi serta mampu merancang alat yang lebih besar lagi adalah hal yang harus terus dikembangkan. Bukankah satu hal besar itu dihasilkan dari hal-hal kecil. Insya Allah dari Antapani untuk negeri akan menghiasi. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Go to Top