Menghidupkan Sastra dalam Gerakan Literasi Sekolah

Rubrik Esai/Sastra Oleh

Oleh: Washadi

Pengertian Sastra

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sastra/sas·tra/ adalah: 1) bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari); 2) kesusastraan; 3) kitab suci Hindu; kitab ilmu pengetahuan; 4) kitab; pustaka; primbon (berisi ramalan, hitungan, dan sebagainya); 5 tulisan; huruf;

kesastraan/ke·sas·tra·an/ n perihal sastra (maknanya lebih luas daripada kesusastraan)

Menurut Wikipedia, sastra (Sanskerta: शास्त्र, shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar śās- yang berarti “instruksi” atau “ajaran”. Dalam bahasa Indonesia, kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.

Yang agak biasa adalah pemakaian istilah sastra dan sastrawi. Segmentasi sastra lebih mengacu sesuai defenisinya sebagai sekedar teks. Sedang sastrawi lebih mengarah pada sastra yang kental nuansa puitis atau abstraknya. Istilah sastrawan adalah salah satu contohnya, diartikan sebagai orang yang menggeluti sastrawi, bukan sastra.

Selain itu, dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu.

Yang termasuk dalam kategori Sastra adalah: novel, cerpen (tertulis/lisan), syair, pantun,sandiwara/drama, dan lukisan/kaligrafi.

Banyak sekali para ahli yang mendefinisikan tentang sastra, antara lain:

  1. Menurur Aristoteles, sastra sebagai kegiatan lainnya melalui agama, ilmu pengetahuan dan filsafat.
  2. Menurut A. Teeuw, sastra didefenisikan sebagai segala sesuatu yang tertulis; pemakaian bahasa dalam bentuk tulis.
  3. Menurut Ahmad Badrun, sastra atau  kesusastraan adalah kegiatan seni yang mempergunakan bahasa dan garis simbol-simbol lain sebagai alai, dan bersifat imajinatif.
  4. Menurut Plato, sastra adalah hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis). Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. Oleh karena itu, nilai sastra semakin rendah dan jauh dari dunia ide.
  5. Rene Welleck dan Austin Warren, memberi defenisi bahasa dalam tiga hal:
  6. Segala sesuatu yang tertulis
  7. Segala sesuatu yang tertulis dan yang menjadi buku terkenal, baik dari segi isi maupun bentukkesusastraannya
  8. Sebagai karya seni yang imajinatif dengan unsur estetisnya dominan dan bermediumkan bahasa.

Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Tetapi kata “sastra” bisa pula merujuk kepada semua jenis tulisan, apakah ini indah atau tidak. Selain pengertian istilah atau kata sastra di atas, dapat juga dikemukakan batasan/defenisi dalam berbagai konteks pernyataan yang berbeda satu sama lain. Kenyataan ini mengisyaratkan bahwa sastra itu bukan hanya sekedar istilah yang menyebut fenomena yang sederhana dan gampang.

Dalam bahasa Inggris, kita mengenal kata literature, diserap menjadi literatur ke dalam bahasa Indonesia. Arti literature (menurut kamus online WorldNet) adalah:

creative writing of recognized artistic value

the humanistic study of a body of literature; “he took a course in French literature”

published writings in a particular style on a particular subject; “the technical literature”; “one aspect of Waterloo has not yet been treated in the literature”

the profession or art of a writer; “her place in literature is secure”.

Sastra merupakan istilah yang mempunyai arti luas, meliputi sejumlah kegiatan yang berbeda-beda. Kita dapat berbicara secara umum, misalnya berdasarkan aktivitas manusia yang tanpa mempertimbangkan budaya suku maupun bangsa. Sastra dipandang sebagai suatu yang dihasilkan dan dinikmati. Orang-orang tertentu di masyarakat dapat menghasilkan sastra, sedangkan orang lain dalam jumlah yang besar menikmati sastra itu dengan cara mendengar atau membacanya.

Sastra merupakan perwujudan pikiran dalam bentuk tulisan. Tulisan menggambarkan media pemikiran yang tercurah melalui bahasa, bahasa yang bisa direpresentasikan dalam bentuk tulisan, media lain bisa saja berbentuk gambar, melody musik, lukisan ataupun karya lingkungan binaan/arsitektur.

Sastra menjadi bagian dari budaya masyarakat. Sastra yang memuat materi yang tinggi dipelihara secara turun-temurun oleh para pujangga, banyak yang secara lisan karena media tulisan sangat terbatas, hanya daun lontar.

Ciri-ciri karya sastra di antaranya:

  1. Isinya menggambarkan manusia dengan berbagai persoalannya
  2. Bahasanya indah atau tertata baik
  3. Gaya penyajiannya menarik yang berkesan di hati pembacanya

Fungsi karya sastra adalah:

  • Fungsi rekreatif,yaitu memberikan kesangan atau hiburan bagi pembacanya
  • Fungsi didaktif, yaitu memberikan wawasan pengetahuan mengenai seluk-beluk kehidupan manusia bagi pembacanya
  • Fungsi estetis, yaitu sastra mampu memberikan keindahan pembacanya
  • Fungsi moralitas,yaitu memberikan pengetahuan bagi pembacanya mengenai moral yang baik dan buruk
  • Fungsi religius, yaitu sastra menghadirkan karya yang didalamnya mengandung ajaran agama yang diteladani oleh pembacanya.

Sastra adalah hasil rasa yang rasa yang merupakan sumber keindahan. Sastra lahir dari sebuah peradaban dalam masyarakat, yang hidup, berkembang dan terus ada di dalam masyarakat. Dalam keberadaannya di tengah masyarakat, sastra memiliki peranan dalam mengaktualisasikan suatu kebudayaan dari masyarakat. Dalam hal ini, sastra akan bernilai luhur dan tinggi dan merupakan alat atau bentuk perwujudan budaya yang menyertai sejarah kehidupan manusia.

Gerakan Literasi Sekolah (GLS)
Menurut KBBI Online, literasi berarti kesanggupan membaca dan menulis. Sedangkan menurut kamus online Merriam-Webster, literasi berasal dari istilah latin ‘literature’dan bahasa inggris ‘letter’. Literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Namun, makna literasi juga mencakup melek visual, yang artinya “kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (adegan, video, gambar).”

National Institute for Literacy, mendefinisikanliterasi sebagai “kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.” Definisi ini memaknai literasi dari perspektif yang lebih kontekstual.

Menurut UNESCO, pemahaman orang tentang makna literasi sangat dipengaruhi oleh penelitian akademik, institusi, konteks nasional, nilai-nilai budaya, dan pengalaman. Pemahaman yang paling umum dari literasi adalah seperangkat keterampilan nyata –khususnya keterampilan kognitif membaca dan menulis– yang terlepas dari konteks di mana keterampilan itu diperoleh dan dari siapa memperolehnya.UNESCO menjelaskan bahwa kemampuan literasi merupakan hak setiap orang dan menjadi dasar untuk belajar sepanjang hayat. Kemampuan literasi dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluargadan masyarakat. Karena sifatnya yang multiple effect (dapat memberikan efek untuk ranah yang sangat luas), kemampuan literasi membantu memberantas kemiskinan, mengurangi angka kematian anak, pertumbuhan penduduk, menjamin pembangunan berkelanjutan, dan terwujudnya perdamaian.

Literasi tidak dapat dilepaskan dari bahasa. Seseorang dikatakan memiliki kemampuan literasi apabila ia telah memperoleh kemampuan dasar berbahasa, yaitu membaca dan menulis. Jadi, makna dasar literasi sebagai kemampuan baca-tulis merupakan pintu utama bagi pengembangan makna literasi secara lebih luas. Cara yang tepat digunakan untuk pengembangan literasi adalah melalui pendidikan.

Pengembangan literasi di dunia pendidikan dikemas dalam suatu gerakan yang disebut Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.GLS memiliki tujuan, yaitu :

  1. Tujuan umum, menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam GLS agar menjadi pembelajar sepanjang hayat.
  2. Tujuan khusus, yakni: 1) menumbuhkembangkan budi pekerti; 2) membangun ekosistem literasi sekolah; 3) menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran (learning organization); 4) mempraktikkan kegiatan pengelolaan pengetahuan (knowledge management); dan 5) menjaga keberlanjutan budaya literasi.

GLS dilaksanakan dalam tiga tahap, yakni: tahap pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Penjelasan lebih terperinci disajikan sebagai berikut:

  1. Tahap Pembiasaan

Kegiatan pembiasaan gerakan literasi bertujuan untuk menumbuhkan minat peserta didik terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca.

Prinsip-prinsip kegiatan membaca pada tahap pembiasaan, diantaranya:

  1. Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku bacaan, bukan buku teks pelajaran.
  2. Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku yang diminati oleh peserta didik. Peserta didik diperkenankan untuk membaca buku yang dibawa dari rumah.
  3. Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap pembiasaan ini tidak diikuti oleh tugas-tugas menghafalkan cerita, menulis sinopsis, dan lain-lain.
  4. Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap pembiasaan ini dapat diikuti dengan diskusi informal tentang buku yang dibaca/dibacakan, atau kegiatan yang menyenangkan terkait buku yang dibacakan apabila waktu memungkinkan.
  5. Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap pembiasaan ini berlangsung dalam suasana yang santai dan menyenangkan.

Adapun kegiatan membaca dan penataan lingkungan berbasis literasi pada tahap pembiasaan, antara lain:

  • Membaca buku cerita/pengayaan selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Kegiatan membaca yang dapat dilakukan adalah membacakan buku dengan nyaring (read aloud) dan membaca dalam hati (sustained silent reading).
  • Memperkaya koleksi bacaan untuk mendukung kegiatan 15 menit membaca.
  • Memfungsikan lingkungan fisik sekolah melalui pemanfaatan sarana dan prasarana sekolah, seperti perpustakaan, sudut buku kelas, area baca, kebun sekolah, kantin, unik kesehatan sekolah (UKS), dan lain-lain. Sarana dan prasarana ini dapat diperkaya dengan bahan kaya teks.
  • Melibatkan komunitas di luar sekolah dalam kegiatan 15 menit membaca dan pengembangan sarana literasi, serta pengadaan buku-buku koleksi perpustakaan dan sudut baca kelas.
  • Memilih buku yang sesuai dengan minat peserta didik.
  1. Tahap Pengembangan

Kegiatan literasi pada tahap pengembangan bertujuan untuk mempertahankan minat terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca, serta meningkatkan kelancaran dan pemahaman membaca peserta didik.

Prinsip-prinsip kegiatan pada tahap pengembangan, diantaranya:

  1. Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku selain buku teks pelajaran.
  2. Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku yang diminati oleh peserta didik. Peserta didik diperkenankan untuk membaca buku yang dibawa dari rumah.
  3. Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap ini dapat diikuti oleh tugas-tugas menggambar, menulis, kriya, seni gerak dan peran untuk menanggapi bacaan, yang disesuaikan dengan jenjang dan kemampuan peserta didik.
  4. Penilaian tanggapan peserta didik terhadap bacaan bersifat nonakademik dan berfokus pada sikap peserta didik dalam kegiatan. Masukan dan komentar pendidik terhadap karya peserta didik bersifat memotivasi.
  5. Kegiatan membaca/membacakan buku berlangsung dalam suasana yang menyenangkan.

Terdapat beberapa alternatif cara membaca pada tahap pengembangan, sebagai berikut:

  • Membacakan nyaring interaktif (interactive read aloud)

Cara ini dilakukan dengan guru membacakan buku/bahan bacaan dan mengajak peserta didik untuk menyimak dan menanggapi bacaan dengan aktif. Proses membacakan buku ini bersifat interaktif karena guru memperagakan bagaimana berpikir menanggapi bacaan dan menyuarakannya serta mengajak peserta didik untuk melakukan hal yang sama. Fokus kegiatan membaca nyaring alternatif untuk memahami kosakata baru.

  • Membaca terpandu (guided reading)

Cara ini dilakukan dengan guru memandu peserta didik dalam kelompok kecil (4-6 siswa) dalam kegiatan membaca untuk meningkatkan pemahaman. Fasilitas pendukung yang perlu tersedia, berupa buku untuk dibaca, alat tulis, kertas besar (flip chart), perekat, dan papan untuk menempelkan kertas.

  • Membaca bersama (shared reading)

Cara ini dilakukan dengan guru mendemonstrasikan cara membaca kepada seluruh peserta didik di kelas atau kepada satu per satu peserta didik. Guru dapat membaca bersama-sama peserta didik, lalu meminta peserta didik untuk bergiliran membaca. Metode ini bertujuan memberikan pengalaman kepada peserta didik untuk membaca dengan nyaring dan meningkatkan kefasihan membaca. Fasilitas pendukung yang perlu tersedia, berupa buku besar (big book, apabila dibacakan kepada banyak peserta didik), buku bacaan, kertas besar (flip chart), dan alat tulis.

  • Membaca mandiri (independent reading)

Kegiatan membaca mandiri dilakukan dengan peserta didik memilih bacaan yang disukainya dan membacanya secara mandiri. Kegiatan membaca mandiri ini bisa diikuti oleh kegiatan tindak lanjut seperti membuat peta cerita atau kegiatan lain untuk menanggapi cerita.

Pada tahap pengembangan ini juga dibentuk Tim Literasi Sekolah (TLS)  yang bertanggung jawab langsung kepada kepala sekolah dan terdiri dari: anggota komite sekolah, orang tua/wali murid, pustakawan dan tenaga kependidikan, guru  kelas, dan relawan literasi atau elemen masyarakat lain yang membantu pelaksanaan kegiatan literasi di sekolah. Adapun peran TLS, diantaranya:

  1. Memastikan keberlangsungan kegiatan 15 menit membaca setiap hari.
  2. Memastikan ketersediaan koleksi buku pengayaan di perpustakaan dan sudut-sudut baca di sekolah.
  3. Mengawasi pengelolaan perpustakaan sekolah dan sudut-sudut baca di sekolah.
  4. Memastikan keterlaksanaan kegiatan di perpustakaan sekolah minimal 1 jam dalam seminggu.
  5. Mengkoordinir pelaksanaan festival literasi, minggu buku, atau perayaan hari-hari besar lain yang berbasis literasi.
  6. Mengkoordinir upaya pengembangan kegiatan literasi melalui penggalangan dana kepada pelaku bisnis atau penyandang dana lain di luar lingkungan sekolah.
  7. Mengkoordinir upaya promosi kegiatan literasi sekolah kepada orang tua/wali murid, misalnya melakukan pelatihan membacakan buku dengan nyaring dan promosi kegiatan membaca di rumah.
  8. Mempublikasikan kegiatan literasi di sekolah, di media cetak, audiovisual, dan daring agar memperoleh dukungan lebih luas dari masyarakat.
  9. Membangung jaringan dengan pemangku kepentingan terkait literasi, TLS di sekolah lain, dan pegiat literasi untuk bekerjasama mengupayakan GLS yang berkelanjutan.
  10. Tahap Pembelajaran

Kegiatan literasi pada tahap ini bertujuan untuk mempertahankan minat peserta didik terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca, serta meningkatkan kecapakan literasi peserta didik melalui buku-buku pengayaan dan buku teks pelajaran.

Kegiatan literasi pada tahap pembelajaran berfokus pada peningkatan kemampuan berbahasa repesif (membaca dan menyimak) dan aktif (menulis dan berbicara) yang disajikan secara rinci dalam konteks dua kegiatan utama, yakni membaca dan menulis. Kemampuan membaca dan menulis dijenjangkan agar peningkatan kecakapan di empat area bahasa (membaca, menyimak, menulis, dan berbicara) dapat dilakukan secara terukur dan berkelanjutan.

Kegiatan yang dapat dilakukan pada tahap pembelajaran, antara lain:

  1. Guru mencari metode pengajaran yang efektif dalam mengembangkan kemampuan literasi peserta didik. Untuk mendukung hal ini, guru dapat melakukan penelitian tindakan kelasa (PTK).
  2. Guru mengembangkan rencana pembelajaran sendiri dengan memanfaatkan berbagai media dan bahan ajar.
  3. Guru melaksanakan pembelajaran dengan memaksimalkan pemanfaatan sarana dan prasarana literasi untuk memfasilitasi pembelajaran.
  4. Guru menerapkan berbagai strategi membaca untuk meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran.

Adapun prinsip-prinsip kegiatan pada tahap pengembangan, diantaranya:

  • Kegiatan membaca disesuaikan dengan kemampuan literasi peserta didik dan tujuan kegiatan membaca.
  • Kegiatan membaca bervariasi, dengan memberikan porsi yang seimbang untuk kegiatan membaca nyaring, membaca mandiri, membaca terpandu, dan membaca bersama.
  • Guru memanfaatkan buku-buku pengayaan fiksi dan nonfiksi untuk memperkaya pemahaman peserta didik terhadap materi ajar dan buku teks pelajaran.
  • Pengajaran berfokus pada proses. Peserta didik berbagi dan mendiskusikan draf pekerjaannya untuk mendapat masukan dari guru dan teman.
  • Kegiatan menanggapi bacaan mempertimbangkan kecerdasan majemuk dan keragaman gaya belajar peserta didik.
  • Melakukan pemodelan dan pendampingan terhadap peserta didik.

Dapat disimpulkan bahwa,untuk mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang efektif dan berkelanjutan, maka diperlukan penumbuhan budaya literasi pada diri peserta didik. Dalam hal ini banyak pihak yang terlibat dan merupakan tugas bersama, tidak hanya sekolah, namun juga melibatkan peran serta jawab keluarga, pelaku bisnis dan media, pemangku kebijakan, dan elemen masyarakat lainnya.

Menghidupkan Sastra dalamGLS
embelajaran sastra dalamkegiatan belajar-mengajar dimasukkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, seyogyanya harus betul-betul memosisikan sastra sesuai dengan porsinya. Hal ini penting, mengingat selama ini pembelajaran sastra hanya dijadikan sebagai elemen pelengkap atau tambahan dalam muatan mata pelajaran Bahasa Indoensia, sehingga pemahaman siswa terhadap sastra tidak dapat maksimal. Akibatnya, sastra yang semestinya dapat mendorong dunia literasi sekolahtidak berjalan dengan baik.

Sastra dalam kapasitasnya sebagai muatan pembelajaran dan bagian dalam pembelajaran dapat disinergikan dengan GLS. Banyak cara yang dapat dilakukan untukmengorelasikan sastra dan GLS, di antaranya dengan aktivitas membaca dan menulis sastra di dalam maupun di luar kegiatan belajar-mengajar di sekolah.

Sekolah harus selalu melakukan kajian dan inovasi berkelanjutan agar dapat menjadi wadah/tempat yang baik bagi upaya menghidupkan sastra dan GLS. Keberhasilan sekolah dalam hal ini akan membawa perubahan bagi perkembangan pengetahuan siswa –termasuk guru–dalam dunia literasi. Membimbing siswa dalam dunia literasi tidak ubahnya seperti membawa mereka memasuki taman bunga, terasanyaman dan menyenangkan. Pembelajaran sastra dalam GLSdapat menyenangkan apabila guru dan sekolah mampu menyajikannya secara menyenangkan pula.

Damono (2007:19-20) berpendapat bahwa, kenyataan cukup memprihatinkan mengenai pengajaran sastra di sekolah, bukan karena porsinya yang hanya seperenam dari seluruh materi bahasa Indonesia, melainkan juga karena strategi pengajarnya yang mengkhiananti sastra itu sendiri. Metode menghapal, misalnya, dapat saja berupa menghapal nama-nama sastrawan, peristiwa yang berhubungan dengan kejadian sastra, maupun menghapal contoh-contoh soal dengan jawaban yang tersedia.

Tidaklah keliru jika Suharianto (dalam Jamaluddin:89) mengatakan dengan nada pesimis bahwa bila evaluasi yang diberikan tetap sama setiap tahun, tujuan pembinaan apresiasi peserta didik tetap hanya akan merupakan impian belaka.

Pembelajaran sastra penting bagi peserta didik karena berhubungan erat dengan perasaan. Sastra dapat menimbulkan rasa haru, keindahan, moral, keagamaan, khidmat, dan cinta. Selain memberikan keindahan dan kenikmatan, sastra juga memberikan keagungan pada siswa (Broto, 1982:67).

Beranjak dari berbagai pendapat di atas, ada beberapa hal yang perlu dicermati ulang dalam pembelajaran sastra di sekolah dengan menggunakan acuan kurikulum yang berlaku. Dalam kurikulum yang berlakukan di SD, SMP, maupun SMA, disebutkan bahwa pengajaran sastra dalam diarahkan pada penumbuhan apresiasi sastra para peserta didik sesuai dengan tingkat kematangan emosionalnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran sastra idealnya diarahkan pada penumbuhan apresiasi pada peserta didik.

Apresiasi merupakan aktivitas memahami, menginterpretasi, menilai, dan pada akhirnya memproduksi sesuatu yang sejenis dengan karya yang diapresiasikan. Karena itu, kegiatan apresiasi tidak hanya bersifat reseptif. Tetapi, yang lebih penting, apresiasi juga bersifat produktif. Dengan demikian, pengajaran sastra di lembaga pendidikan formal idealnya tidak hanya sebatas pada pemberian teks sastra dalam genre tertentu untuk dipahami dan diinterpretasikan oleh peserta didik.

Pengajaran sastra harus diarahkan pada kegiatan membaca karya sastra, peserta didik akrab dan menghargai karya sastra, sehingga mereka benar-benar mengalami dan masuk ke dalam ranah sastra. Tidak hanya berfokus pada peserta didik, kegiatan ini juga bertujuan agar guru memiliki kemampuan dan kapabilitas yang memadai untuk mendampingi peserta didik mengalami sastra.

Kurikulum tidak menuntut pemberlakuan satu metode tertentu dalam pembelajaran sastra. Kurikulum malah memberikan kesempatan pada guru untuk menggunakan berbagai metode secara bervariasi dalam penyajian materi tertentu, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai. Karenanya, orientasi pada pengajaran konsep teori sastra dan sejarah sastra tampaknya sudah saatnya dikurangi. Yang lebih dipentingkan saat ini tampaknya adalah pengakraban peserta didik dengan karya sastra, sehingga mereka menemukan kesenangan personal dalam membaca, mengkritik, dan mengkreasikan teks sastra.

Sastra harus terus dihidupkan dalam kegiatan pembelajaran di kelas, dipadukan dengan program GLS. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkembangkan budi pekerti peserta melalui kegiatan membaca sastra, berupa prosa fiksi dan novel yang sesuai untuk peserta didik. Dengan cara ini, diharapkan mampu memotivasi peserta didik untuk membaca secara langsung karya sastra melalui kegiatan membaca terpandu, membaca mandiri, dan diskusi. Orientasi pembelajaran berfokus pada peserta didik, sehingga mereka dapat mengembangkan kepribadiannya sesuai dengan perkembangan emosional mereka yang didukung oleh kehalusan bahasa pada karya sastra.

Menghidupkan sastra dalam GLS dapat juga dilakukan di luar kelas. Banyak cara dan bentuk kegiatan yang dapat dilakukan, salah satunya dengan menyediakan ruang sastra pada media-media pendidikan, seperti majalah dinding, buletin atau majalah sekolah. Peserta didik akan termotivasi untuk menulis dan mengelola sastra di lingkungan intern sekolah. Selain itu, dapat juga dengan menyelenggarakan bengkel-bengkel sastra. Kegiatan bengkel sastra ditujukan kepada peserta didik –termasuk guru– yang berminat belajar menulis dan mengapresiasi sastra. Hasil dari kegiatan ini adalah para peserta dapat menuangkan gagasan/pikiran dalam bentuk tulisan-tulisan sastra kemudian mempresentasikan dan mengapresiasikannya, misalnya dalam bentuk diskusi sastra. Sebagai representasi dari kegiatan bengkel sastra, dapat diagendakan dengan mengundang sastrawan, baik sastrawan lokal maupun sastrawan nasional, untuk turut memberikan pelatihan dan pendampingan dalam pengelolaan sastra di sekolah.Dari kegiatan ini, hasil karya para peserta dimuat dan diterbitkan pada media-media di luar media pendidikan, seperti dalam bunga rampai atau buku-buku kumpulan puisi, kumpulan cerpen dan jurnal sastra. ***

Referensi:
Dikdasmen, Dirjen.2016.Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah.Jakarta: Kemdikbud

Agupena, Tim Penulis. 2016. Membangun Kapasitas Guru Penulis. Jakarta: Pustaka Mulia

http://wikipendidikan.blogspot.co.id/2016/03/pengertian-definisi-makna-literasi.html

http://www.tintapendidikanindonesia.com/2017/03/gerakan-literasi-sekolah-di-sekolah.html

https://dianayullian.blogspot.co.id/2017/01/sastra-riau-sebagai-bagian-dari-gerakan.html

*Penulis adalah Guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 8 Kota Tangerang Selatan. Tulisan-tulisannya dimuat di beberapa media, baik cetak maupun daring. Aktif berkegiatan sastra di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) dan Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS). Selain itu, juga sebagai Pengurus Pusat Agupena (Asosiasi Guru Penulis Indonesia).

Washadi, S.Pd, MM.Pd, seorang Guru dan Penulis, tinggal di Tangerang Selatan, Banten. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa, antologi puisi dan antologi cerpen. Aktif berkegiatan sastra di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS) merangkap Komite Sastra, dan Pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Wilayah Banten. Kini menjadi Ketua Bidang Humas dan Kerjasama Antar Lembaga AGUPENA.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*