Sepenggal Pengalaman Menulis

Rubrik Literasi/Opini Oleh

Oleh Heronimus Bani

Sesungguhnya saya bukanlah orang yang suka menulis. Saya lebih suka membaca daripada menulis. Membaca, bagi saya adalah kebutuhan. Akan tetapi, lama-kelamaan saya merasa bahwa apa yang saya baca, sama seperti membaca alur pikir orang lain yang mungkin bisa diresponi dengan kritik, saran atau tanggapan lainnya.

Saya mulai mencobanya ketika saya berada di sekolah. Tahun 2000 saya membeli desktop versi lama. Saya memakai produk IT ini untuk kepentingan menulis hal-hal yang berhubungan dengan tupoksi sebagai guru kelas. Lalu, tidak semata hal-hal yang demikian. Saya mencoba menulis koran sekolah yang diterbitkan dengan cara mencetak/print pada halaman kertas folio (CD).

Ternyata ada sambutan baik dari pembaca, yaitu para siswa di kelas IV, V, dan VI. Sementara para guru menganggap hal ini hanya buang-buang kertas dan tinta. Saya teruskan beberapa edisi dalam dua-tiga bulan. Kemudian berhenti, karena terkendala biaya. Koran sekolah itu saya danai sendiri hanya untuk kepentingan siswa-siswa.

Februari 2000, saya dilibatkan dalam program penerjemahan alkitab dalam Bahasa daerah oleh Pusat Studi Regional Universitas Kriten Artha Wacana Kupang; di mana ada satu unit disebut CCC (Centre for Culture  Communication). Salah satu tugas CCC adalah menerjemahkan alkitab dalam Bahasa-bahasa daerah di lingkungan pelayanan Gereja Masehi Injili di Timor. Pelibatan saya pada mulanya hanya sebagai pembaca. Juni 2000, saya dilibatkan secara part time sebagai pekerja relawan untuk program penerjemahan alkitab dalam Bahasa Daerah Amarasi, salah satu cabang Bahasa dari induknya, Uab Meto’ (Bahasa Timor).

Dari sana saya bersentuhan dengan pakar linguistic, teologi Kristen, biblika, dan antropologi. Para pakar ini sering bertemu dengan penerjemah untuk berdiskusi pada ayat-ayat alkitab (PB) dari Bahasa aslinya yaitu Bahasa Yunani. Banyak buku tafsiran (commentary) yang kami harus baca untuk mengetahui maksud dari kata, frase dan kalimat yang digunakan dalam ayat-ayat kitab suci. Ini menjadi penyebab, mengapa membaca menjadi kebutuhan.

Beriringan dengan  kegiatan itu, saya melihat celah kesempatan untuk menulis. Pada tahun 2010, seorang mahasiswa  pascasarjana dari Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung mengajak saya menerbitkan Jurnal. Mula-mula saya menolak karena kemampuan menulis yang belum seberapa. Memang, sebelumnya kami pernah bersama-sama menerbitkan buku renungan harian Kristen bernama Tunas Daud. Saya salah satu penulis di antaranya. Akhirnya Jurnal itu pun kami terbtkan, dan kami launcing pada Juli 2010.

Juli 2010, pada hari yang sama ketika Jurnal yang kami beri nama Socius Religius kami luncurkan, hari itu juga saya menjadi salah satu pemateri pada ENUS Conference International di Kupang, dimana Prof. Dr. Charles E. Grimes, Ph.D menjadi pembimbing dan pendamping. Saya secara iseng menulis budaya menghitung bulir jagung pada etnis Timor, khususnya pada masyarakat peladang Amarasi, lebih khusus yang menggunakan dialek Kotos.

Dialek Kotos, salah satu dialek dalam Bahasa Amarasi. Bahasa Amarasi, cabang dari induk Bahasa Uab Meto’. Komunitas pengguna dialek Kotos mempunyai satu cara menghitung bulir jagung yang hampir punah. Saya melihat itu sebagai satu pengetahuan yang patut dipertahankan, karena sangat positif. Makalah ini dibawakan pertama kali di ENUS Conference. Selanjutnya ICLDC yang dihelat di Hawai University, saya mendapat kesempatan untuk menyajikan materi yang sama dengan judul Etho mathematic; how to count 400 in 60 seconds.

Di antara waktu untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi sebagai guru, melaksanakan tugas part timer terjemahan, saya masih sempat menulis sejumlah opini yang saya kirimkan ke koran-koran yang terbit di kota Kupang, seperti Victory News, Timor Express, Media Timor (sudah off), dan Erende Pos. Tulisan-tulisan opini ini kemudian saya himpun kembali dalam satu buku yang saya beri judul: Catatan Seorang Guru Daerah Terpencil. Buku ini diterbitkan olmeh INARA Publishing pada tahun 2015.

Nah, sepenggal pengalaman ini saya sebut sebagai masa menulis yang menyenangkan. Saya terus belajar menulis dan menulis. Terutama ketika saya dan dua pemuda menggagas berdirinya satu LSM yang kami beri nama Tateut Pah. Di sini kami terus mengasah ketrampilan menulis berhubung kami menerbitkan tabloid INFO NTT (hard copy) sebanyak 12 edisi. INFO NTT yang hard copy kami hentikan. Kini kami tampil dalam jaringan (on line). Di tempat inilah saya tuangkan tulisan-tulisan saya yang tidak seberapa bagusnya. Selain itu saya mempunyai blog. Di sana saya pun menulis apa yang saya rasakan sebagai harus ditulis. ***

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top